Pemilik Lahan Bendungan Temef Tolak Ganti Rugi Rp 10.000/meter

oleh -1.6K views
Polen, Fakta TTS-Sejumlah pemilik lahan Bendungan Temef di dusun 3 desa Konbaki kecamatan Polen kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menolak ganti rugi lahan pembangunan bendungan yang dihargai pemerintah daerah (pemda) TTS sebesar Rp 10.000/meter persegi. Mereka setuju kalau lahan mereka dihargai dengan Rp 60.000 sampai Rp 75.000/meter persegi atau ganti lahan.
Kepada wartawan di kantor DPRD TTS, Selasa (6/2/2018) Gideon Tefnai, Welem Nenobanu,Aminadap Teflopo,Hosia Tasuip dan sejumlah pemilik lahan lainnya mengatakan mereka tidak setuju kalau lahan sawah maupun kebun mereka hanya dihargai Rp 10.000/meter persegi karena lahan-lahan tersebut adalah lahan produktif yang selama ini dikelola untuk menopang kebutuhan hidup mereka. Harga perpohon tanaman produktif sebesar Rp 10.000/pohon juga ditolak.
“Sawah dan kebun kami ini setiap tahun kami olah dan dapat hasil, kalau kami serahkan untuk bangun bendungan dengan harga Rp 10.000/meter jelas kami rugi karena kami tidak akan punya lahan lagi, darimana kami makan lagi. Uang kami pakai akan habis tapi kalau tanah sampai anak cucu juga tetap kami nikmati hasilnya. Nah kalau hanya Rp 10.000 apakah ini pantas?,”kata Gideon diiyakan warga lainnya. Mereka mengaku harga ganti rugi lahan Rp 10.000/meter persegi dan tanaman Rp 10.000/pohon diketahui dari surat pemda TTS yang diterima sebelum ibadah syukuran pembangunan bendungan yang digelar pemda TTS Januari kemarin. Diantara mereka yang menolak itu juga menghadiri ibadah syukur yang dihadiri bupati, ketua DPRD dan forkompimda TTS itu.
Mereka mengatakan ada alternatif lain jika pemda tidak mau membayar Rp 60 ribu/meter untuk lahan kering dan Rp 75.000/meter untuk lahan sawah mereka yakni pemda mengganti dengan lahan baru di kawasan lahan pemerintah di wilayah itu yang dilihat cocok untuk pertanian dan perkebunan. “Kalau tidak bisa ganti dengan uang seperti yang kami sampaikan tadi, pemerintah bisa ganti lahan kami saja dengan lahan baru di lahan pemerintah yang ada disitu,”kata Aminadap.
Dikatakan mereka sementara akan membuat kesepakatan penolakan bersama untuk disampaikan secara tertulis kepada pemda TTS. “Kami ada 114 KK yang tolak, kami akan bertemu dan bersepakat untuk membuat pernyataan tertulis kepada pemda TTS,”kata Gideon.
Gideon Tefnai mengaku punya lahan sawah dan kebun seluas 6 hektoare (Ha) lebih yang masuk area bendungan. Welem Nenobanu lahan sawah 25 are dan kebun 75 are. Aminadap Teflopo luas lahan sawah 1 ha lebih lahan kering 4,5 ha, Yosafat Tasuib lahan kebun 47 are dan sawah 62 are, 30 are, 44 are,.42 are dan 23 are. Lahan Hosia Tasuip yang masuk area bendungan, sawah 1 ha lebih dan.kebun 1 ha lebih.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *