TTS Kebagian Rp 665 Juta Dari Pengiriman 19.000 Sapi ke Jawa & Kalimantan

oleh -1.3K views

Kota SoE, Fakta TTS-Kepala dinas peternakan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) drh. Benyamin Billi mengatakan tahun 2018 ini kabupaten TTS mendapat quota atau jatah pengiriman Sapi jantan dari pemerintah provinsi (pemprov) NTT untuk dikirim ke Jawa dan Kalimantan sebanyak 19.000 ekor.

Dari quota pengiriman tersebut pemda TTS akan memperoleh pendapatan sekitar Rp 665 juta sebagai dana bagi hasil dari pemprov NTT. Angka tersebut berdasarkan hitungan bagi hasil yang ditetapkan yakni untuk daerah asal pengiriman 70 persen dan untuk pemprov 30 persen dari besaran retribusi pengiriman sebesar Rp 50.000 perekor.
“jadi dari quota itu kita bisa dapat sekitar Rp 665 juta dari dana bagi hasil. bagi hasil ini pembagiannya 70:30. artinya kita dapat 70 persen pemprov 30 persen dari retribusi pengiriman sapi Rp 50.000 perekor. jadi rumusnya 19.000 x 50.000 x 70 persen. hasilnya sekitar Rp 665 juta yang nanti kita terima akhir tahunnya,”kata Benyamin Billi di ruang kerjanya, Kamis (4/10/2018).
Dia mengatakan perawal Oktober ini sudah 15 ribu ekor sapi jantan yang keluar dari kabupaten TTS yang dikirim ke DKI Jakarta dan Kalimantan. Ia optimis dalam sisa waktu yang ada akan memenuhi quota pengiriman tersebut.
Dari populasi sapi jantan yang ada tambah dokter Billi, quota tersebut terasa kurang. “Populasi sapi jantan memungkinkan malah jumlah itu kurang jika melihat strukutur populasi kita. baik yang lahir, mati, jumlah potong dan indikator lainnya setiap tahunnya. kita tidak bisa kirim lebih dari quota yang ditetapkan dalam keputusan gubernur,”katanya.
Saat ini kata drh. Billi pihaknya tengah melakukan upaya pengamanan ternak artinya mrnjaga agar ternak yang ada di kabupaten TTS tetap dalam kondisi sehat. Upaya itu dilakukan dengan melaksanaka  program vaksinasi rutin.
Untuk penambahan populasi dilakukan program IB (insiminasi buatan) atau kawin suntik dan program.pejantan unggul. “untuk IB masyarakat antusias tapi tindak lanjutnya yang masalah karena pola pemelihraan kita yang lepas bebas. IB harus ada perlakuan langsung dari kita sebagai pemilik,”katanya. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *