Buruh Gudang Dolog TT$ Mengadu ke Nakertrans, Merasa Diberhentikan Sepihak Oleh Kagud

oleh -1.6K views

Kota SoE, Fakta TTS-oknum buruh gudang Dolog kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),NTT, Eppy Liu, warga kelurahan Nonohonis kecamatan Kota SoE, Selasa (19/3/2019) pagi mendatangi kantor  dinas tenaga kerja dan transmigrasi (Disnakertrans) TTS untuk mengadu terkait pemberhentiannya sebagai mandor gudang Bulog TTS pertengahan Februari 2019 lalu oleh kepala gudang (Kagud) Erik Ndaumanu.

“Saya diberhentikan sepihak sebagai mandor tanpa alasan jelas sehingga saya mengadu ke sini (dinas Nakertrans TTS), saya tidak terina ini karena soal pemberhentian mandor itu urusan JPL,mitra Bulog yang menaungi kami sebagai buruh,”kata Eppy di kantor Disnakertrans TTS.
Dikatakan ia sempat mempertanyakan pemberhentiannya sebagai mandor ke JPL perusahaan mitra Bulog divre NTT yang menaungi para buruh namun pihak JPL mengatakan tidak tahu soal perombakan struktur buruh di gudang Bulog TTS tersebut.
“JPL tidak tahu soal ini. Mereka kaget karena ada surat tembusan ke divre soal pergantian mandor dan ada mandor lain atas nama Alfred Liunesi yang lakukan pengajian upah buruh gudang Bulog TTS ke divre, biasanya upah buruh itu mandor yang tagih ke divre,”katanya.
Ia menduga kepala gudang, Erik Ndaumanu tidak suka dengannya sehingga memainkan perannya lewat para buruh untuk meminta pergantian mandor.
Ketidak senangan kepala gudang itu dugaan Eppy karena ia tidak setuju dengan kebijakan kepala gudang Erik yang meminta kontraktor langsung ke Jawa dalam hal pendistribusian beras ke gudang Bulog SoE tanpa melalui divre NTT.
Selain itu Eppy menduga ketidaksenangan Erik terhadapnya karena ia pernah tidak menerima kebijakan kagud untuk mencampur beras basah, kotor dan beras bersih yang akan didistribusikan ke para ASN dan aparat keamanan.
“Saat saya masih mandor kepala gudang minta langsung kontainer dari Jawa untuk antar ke gudang Soe tanpa melalui divre, kalau lewat kontraktor berarti pakai uang makan, uang karung robek dan lainnya untuk buruh. Tapi kalau lewat divre Kupang itu tidak ada. Saya melawan ini karena dari kantor JPL belum ada perubahan upah. Ini yang mungkin dia kurang suka sehingga bermain untuk ganti mandor. Aturannya Saya diberhentikan oleh JPL bukan oleh kepala gudang, sampai sekarang belum ada SK mandor baru tapi penagihan upah sudah oleh mandor baru,”katanya.
Eppy mengatakan ia mengadu ke Disnakertrans agar pemerintah bisa memfasilitasi untuk  meluruskan masalah itu.”saya mengadu kesini untuk luruskan masalah. Karena ada yang tidak betul. Kalau saya bersalah harus ada pembuktian baru saya diberhentikan,”kata Eppy yang menolak berstatus buruh biasa ini.
Saat upah jelas Eppy saat ia masih menjadi buruh tahun 1999 lalu telah disepakati bahwa upah buruh sebesar Rp 17 perton beras yang diangkat dengan hitungan untuk mandor Rp 3/kilogram yang diangkut, wakil mandor Rp 1,5/kg dan Rp 12,5 dibagi rata oleh buruh yang ada.
“Contohnya kalau dalam sebulan ada 1000 ton yang diangkat maka upah mandor dan buruh itu Rp 17 juta. Dari jumlah itu mandor Rp 3 juta, wakil mandor Rp 1,5 juta dan Rp 12,5 juta itu dibagi rata ke 20 buruh yang ada saat ini,”katanya.
Erik Ndaumanu tidak merespon dua kali panggilan Fakta TTS yang hendak mengkonfirmasinya terkait ini.
Sementara Eppy pengaduan Eppy belum ditindaklanjuti karena tidak membawa pengaduan tertulis. Eppy diberikan format pengaduan untuk diisi baru dimasukan kembali ke dinas untuk diproses ke tahap mediasi.   (Jmb)
___________________________
Foto: Eppy Liu (tengah) saat berada di ruang pengaduan Disnakertrans TTS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *