Harga Beli Buah Asam di TTS Turun Drastis, Petani Mengeluh

oleh -2.4K views

Kota SoE,fakta-tts.com – Dimusim panas tiap tahunnya buah asam yang kering menjadi salah satu mata pencarian alternatif warga petani di sejumlah kecamatan di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT. Mereka mencari dan mengumpulkan buah asam dari pohon asam yang tumbuh liar di lingkungan mereka untuk kemudian dijual kepada pedagang.

Tak seperti tahun sebelumnya, tahun ini sejumlah warga merasa ada yang berbeda. Meski buah asam melimpah di dapat namun harga jual buah asam anjlok atau menurun drastis dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Elimelek Talan warga Nifukani kecamatan Amanuban barat mengeluh karena hasil jerih payah mengumpulkan buah asam tak dihargai seperti tahun sebelumnya. “Tahun lalu itu, asam bersih (tanpa biji) satu kilogram harganya dari Rp 10.000 naik sampai belasan ribu bahkan ada yang beli Rp 20.000, tahun ini hanya Rp 3.500 sampai Rp 5.000 perkilogram,”kata Elimelek kepada fakta-tts.com, Senin (9/2019) seusai menjual asamnya disalah satu pedagang di Kota SoE.
Elimelek merasa seakan ada yang mengatur harga beli buah asam dari petani. Karena tahun lalu banyak pedagang atau pembeli yang turun mencari dan membeli buah asam di petani namun tahun ini tidak demikian sehingga yang terjadi cenderung petani yang mencari pembeli. “Sepertinya pedagang sengaja tidak mau turun beli di desa biar kami kesulitan cari pembeli dan disitulah mereka tekan harga, kalau begini kami ini yang rugi,”katanya.
Rohi Bire salah satu pedagang asam  di desa Tuapakas kecamatan Kualin mengakui kalau harga beli asam di TTS tahun ini menurun jauh dari tahun sebelumnya. “Kita mau beli dengan harga seperti tahun lalu jelas tidak untung karena harga di Kupang juga turun, tidak sama seperti tahun lalu,”katanya.
Hendrik Tanoni, pemuda TTS pernah mengatakan kalau Pemda TTS perlu membuat perda tentang harga jual/beli hasil bumi/komoditi kabupaten TTS, misalnya asam dan kemiri. Ini agar para pedagang tidak senaknya memainkan harga beli di masyarakat yang memberi untung besar bagi pedagang namun merugikan masyarakat. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *