Layanan PDAM SoE Mengecewakan, Air Macet, Tagihan Tak Boleh Macet

oleh -1.8K views

Kota SoE, fakta-tts.com – PDAM SoE adalah satu-satunya perusahaan daerah yang menjadi tumpuan Pemda Timor Tengah Selatan (TTS) dalam melayani kebutuhan air bersih bagi masyarakat.

Anggaran daerah miliaran rupiah digelontorkan pemda TTS sebagai modal untuk operasional manajemen perusahaan tersebut dalam menjalankan peran utamanya memenuhi  kebutuhan air masyarakat yang menjadi pelanggannya. Anggaran modal untuk Pemda TTS ke PDAM berakhir 2012 lalu dengan besaran Rp 1 miliar. Sekitar lima tahun setelah itu PDAM menaikan tarif layanan untuk memenuhi kebutuhan operasional pelayanannya.
Ada sekitar 6.000-an pelanggan PDAM SoE yang setiap bulannya wajib membayar rekening air ke perusahaan tersebut. Besaran tagihan para pelanggan bervariasi berdasarkan klaster pelanggan dan angka meter yang dicatat petugas PDAM
Namun kekecewaan pelanggan terhadap pelayanan PDAM SoE tak kunjung berakhir meski telah sekian kali berganti pimpinan/direktur dan bupati sebagai pemilik PDAM SoE.
“Air tidak lancar tapi tagihan wajib lancar”, itulah keluh sekian banyak pelanggan PDAM yang terdengar pula oleh wakil rakyat, Hendrik Babbys.
Apa yang didengar Hendrik Babbys, ternyata dialami langsung oleh Piter Liu, salah satu pelanggan PDAM SoE di desa Kesetnana kecamatan Molo selatan.
Kepada fakta-tts.com di kantor bupati TTS, Selasa (10/11/2019) Piter Liu mengatakan meteran airnya sudah sekitar tiga bulan rusak, tidak berfungsi namun anehnya tagihan airnya mencapai Rp 400 ribu. “Darimana angka meter yang dipakai PDAM untuk hitung tagihan saya karena meteran saya rusak,”katanya.
Hendrik Babbys mengatakan dilapangan banyak pelanggan PDAM mengeluh karena tidak memperoleh pelayanan maksimal, sementara pembayaran tagihan tak boleh tunda sehingga terkesan PDAM hanya mementingkan pendapatan dan mengabaikan kepuasan konsumen.
Alasan direktur PDAM di media massa bahwa macetnya suplai air ke pelanggan karena debit air menurun dan pipa air utama di wilayah Molo di lubangi warga sehingga aliran  air dari mata air BonleU tidak lancar sampai ke Kota SoE.
Alasan direktur Lely Hayer dianggap Hendrik Babbys sebagai alasan klasik karena dari pimpinan-pimpinan PDAM sebelumnya alasan itu juga yang dilontarkan manajemen jika air PDAM macet. “Dari dulu pipa bocor, terus penanganannya seperti apa, koq pipa bocor terus,”katanya.
Hendrik mempertanyakan penggunaan anggaran yang diberikan Pemda TTS ke PDAM untuk menunjang operasional pelayanan perusahaan tersebut.
Wakil asal partai NasDem ini melihat PDAM SoE belum menunjukan kinerja pelayanan yang baik karena pelanggan masih terus mengeluh soal suplai air PDAM yang didapat.
Sementara Marten Tualaka, ketua fraksi Hanura DPRD TTS juga kecewa dengan layanan PDAM karena air tidak mengalir berbulan-bulan. “layanan PDAM akhir-akhit ini sangat mengecewakan. Retribakan air PDAM sudah tidak mengalir berbulan bulan. Karenanitu kita berharap pihak PDAM berbenah diri baik secara kedalam maupun keluar sehingga pada awal tahun 2020 pelayanan PDAM semakin profesional dan tidak mengecewakan pelanggan,”katanya.
Ketua DPRD TTS, Marcu Mbau mengatakan persoalan pelayanan PDAM itu sudah bertahun-tahun dirasakan warga pelanggan dan bupati TTS sebagai pemilik perusahaan itu sudah harus berpikir untuk memberikan solusi atas persoalan tersebut.
“Persoalan pelayanan pdam ini selalu  berulang tahun ditegaskan kepada pemda/bupati agar segera menemukan persoalannya dan memberikan solusi agar persoalan tersebut jgn kembali terjadi setiap tahun,”kata Marcu melalui layanan WhatsApp.
Direktur PDAM SoE, Lely Hayer mengakui kalau pelayanan PDAM tidak normal namun itu hanya terjadi dalam tiga bulan terakhir karena debit air menurun dan pipa dari sumber BonleU bocor-bocor.
“Iya betul om dari bulan oktober sampai sekarang tidak maksimal pelayanan karena ada pengeboran sepanjang pipa transmisi bonleu sebanyak 118 titik. tapi  sudah selesai di kerjakan pengelasan. Terus debit sumber belim stabil. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *