Mediasi Persoalan Buruh Gudang Dolog SoE, Poin 5, “Tak Boleh Ada Tuntutan” 

oleh -1.3K views

Kota SoE,Fakta TTS-Agenda mediasi Persoalan pemberhentian mandor buruh di gudang Dolog SoE yang disampaikan Eppy Liu ke Disnakertrans TTS terlaksana, Senin (25/3/2019) di aula Disnakertrans TTS

Mediasi ini dipimpin Benny Boru kepala seksi hubungan  industrial  dan  jaminan sosial, Disnakertrans TTS yang dihadiri pihak pelapor, Eppy Liu, kepala gudang Dolog SoE, Erik Ndaumanu dan puluhan buruh.
Ada lima poin persetujuan yang dihasilkan dalam mediasi tersebut setelah mediator Benny Boru meminta klarifikasi Eppy Liu, Erik Ndaumanu dan sejumlah buruh yang hadir.
Dipoin terakhir surat persetujuan tersebut menegaskan setelah penandatangan surat persetujuan tersebut tidak boleh lagi ada tuntut menuntut oleh kedua belah pihak yakni Erik Ndaumanu,kepala gudang Dolog SoE sebagai pihak pertama dan Eppy Liu, yang diberhentikan dari posisi mandor, sebagi pihak kedua.
Berikut lima poin persetujuan bersama yang ditandatangani  Eppy Liu dan Erik Ndaumanu disaksikan Benny Boru dan sejumlah buruh gudang Dolog SoE.
Pertama; pihak pertama dan para buruh setuju menerima kembali pihak kedua untuk bekerja di gudang Dolog, kedua; pihak pertama dan para buruh akan mengadakan perundingan atau rapat untuk memilih dan menetapkan mandor yang baru, ketiga; sistim pembayaran upah antara mandor dan buruh tidak ada perbedaan (dibagi sama rata), keempat, pihak pertama akan memfasilitasi buruh untuk menjadi peserta BPJS ketenagakerjaan dan diberikan Alat Pelindung Diri (APD) dalam bekerja dan poin kelima menegaskan dengan adanya surat persetujuan tersebut tidak adalagi tuntut menuntut antara kedua belah pihak.
Pada pertemuan tersebut Eppy Liu sempat menuntut adanya pesangon atas pemberhentiannya sebagai mandor, namun Benny Boru menjelaskan status mereka di gudang Dolog SoE hanya sebagai buruh harian lepas sehingga aturan tidak memungkinkan pihak yang menggunakan jasa mereka untuk memberikan pesangon jika berhenti bekerja. “Pesangon bisa diberikan kalau ada hubungan kerja yang jelas antara bapak bapak dengan pemberi kerja. Bapak-bapak ini berstatus buruh harian lepas yang hubungan  kerja dengan gudang Dolog tidak jelas. (Soal pesangon) Buruh harian lepas ini belum dibackup dalam aturan UU 2017 pasal 144 soal hubungan kerja,”kata Benny.
Usai mediasi digelar, datang  plt Kadivre Bulog NTT, Aleks Malelak bersama pihak Jasa Prima Logistik (JPL) anak perusahaan Bulog Divre NTT yang mengelola distribusi beras ke gudang Dolog SoE.
Dalam pertemuan tersebut pihak divre Bulog NTT dan JPL Bulog mengkonfirmasi beberapa hal yang mencuat dalam penyelesaian persoalan tersebut diantaranya soal penetapan standar upah buruh gudang Dolog dan status para buruh.
Aleks Malelak menjelaskan upah Rp 17/kg beras yang diangkut buruh di gudang Dolog SoE ditetapkan oleh direksi Bulog pusat berdasarkan sejumlah indikator kebutuhan,salah satunya biaya hidup. Besaran upah tersebut berlaku sejak tahun 2015 dan biasanya kata Malelak ada evakuasi besaran upah seiring meningkatnya biaya hidup.
Selain upah angkut beras kata Malelak ada juga upah rebaging yang diperoleh buruh. Rebaging adalah pembagaian atau pengisian beras dari karung berisi 50 kg ke ukuran 10 kg.
Permohonan kenaikan upah angkut yang diminta buruh dalam rapat mediasi akan disampaikan ke Bulog  pusat.
Aleks juga mengatakan Eppy tidak diberhentikan sebagai buruh di gudang Dolog SoE hanya diganti posisinya sebagai mandor atas kesepakatan para buruh sehingga Eppy bisa masuk kembali untuk bekerja di gudang Dolog SoE.
Sementara Naomi kepala  JPL dalam mengklarfikasi pernyataan Eppy Liu bahwa dia menjadi mandor berdasarkan SK dari JPL,
Mengatakan JPL tidak memiliki kewenangan memberikan SK mandor buruh. JPL hanya menggunakan jasa buruh sementara buruh disiapkan gudang.(jmb)
___________________
Foto bersama plt.kedivre Bulog NTT, buruh, kagud Dolog SoE, pihak JPL dan Benny Boru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *