Rp 17/kg, Upah Buruh di Gudang Dolog SoE

oleh -1.3K views
Kota SoE,Fakta TTS-Mungkin ada yang tidak percaya namun ini yang berlaku di gudang Dolog SoE, kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),provinsi NTT. Jasa buruh pengangkut beras di gudang itu dihargai Bulog Rp 17 per-kilogram (kg)nya.
Di gudang Dolog SoE kini terdapat 21 orang buruh termasuk satu orang mandor dan satu wakil mandor. aktifitas mereka sehari-hari adalah menurunkan beras dari atas kendaraan ke dalam gudang dan sebaliknya  menaikan beras dari gudang ke atas kendaraan untuk didistribusikan ke sasaran atau titik penerima beras Bulog.

Menyusul mencuatnya persoalan pergantian mandor di internal buruh gudang Dolog SoE, besaran upah terkuak. Jasa menurunkan dan menaikkan beras ke truk pengangkut dihargai Rp 17 perkilogramnya. Ini berdasarkan pengakuan Eppy Liu, eks mandor buruh dan Alfred Liunesi, mandor pengganti Eppy Liu. Pengakuan keduanya soal upah yang diterima buruh ini juga dibenarkan Plt.kadivre Bulog NTT, Aleks Malelak.
Ditemui di gudang Dolog SoE, Alfred Liunesi mengatakan ia menjadi buruh di gudang Dolog SoE sejak tahun 2008 lalu. kalah lama dibanding Eppy Liu yang melakoni kerja itu sejak tahun 1999 lalu.
Dikatakan saat dia bekerja sebagai buruh hingga kini upah buruh belum berubah atau masih tetap yakni hitungannya Rp 17 perkilogram beras yang diangkut.
“Mulai saya kerja, upah buruh disini Rp 17 perkilogram atau kalau angkut 1.000 kilogram maka upahnya Rp 17.000. sekarang masih begitu,”kata Alfred.
Dikatakan Dari Rp 17.000 itu kemudian dibagi rata ke 21 orang buruh termasuk mandor dan wakil mandor.
Ditempat terpisah  Eppy Liu mengatakan saat ia masuk sebagai buruh tahun 1999,  upah buruh waktu itu sekitar Rp 9.000/ton. Besaran upah baru naik menjadi  Rp 17.000/ton pada sekitar tahun 2005.
Jumlah beras yang diangkut buruh kata Eppy tidak sama tiap bulannya. Volume angkut buruh kata Eppy biasanya meningkat di bulan Maret atau April atau tiga sampai empat bulan sekali setiap tahunnya. Di bulan-bulan itu pendapatan buruh lumayan baik karena total yang diangkut buruh kata Eppy bisa mencapai 1.000 ton jika dalam sebulan volume beras masuk yang diangkut buruh mencapai jumlah itu maka total pendapatan buruh bisa mencapai Rp 17 juta yang kemudian dibagi.
Dimasa menjadi mandor kata Eppy jika pendapatan dari jasa angkut itu mencapai Rp 17 juta maka pembagiannya, Rp 3 juta untuk mandor, Rp 1,5 juta untuk wakil mandor dan sisa Rp 12,5 juta itu dibagi rata ke buruh. Namun sistim pembagian itu berubah saat Alfred Liunesi menjabat mandor pada Februari 2019. “Mulai saya mandor Rp 17 juta itu dibagi rata antara mandor, wakil mandor dan buruh. Karena kami semua sama-sama kerja,”kata Liunesi.
Sementara Plt.kepala Bulog divre NTT, Aleks Malelak melalui telepon mengatakan penentuan besaran upah buruh pengangkut beras itu adalah keputusan direksi Bulog yang disepakati bersama oleh para buruh.
“(Besaran upah buruh) itu keputusan direksi,”kata Aleks menjawab fakta-tts.com yang menanyakan soal regulasi yang menjadi acuan penetapan upah buruh pengangkut beras di gudang Dolog.
Aleks mengatakan buruh di gudang Dolog bukan berstatus karyawan kantor Bulog atau perusahaan mitra Bulog yang mengurus distribusi atau pendropingab beras dari pelabuhan ke gudang Dolog. Karena itu mereka yang mengurus sendiri soal hak mereka. Pihak Bulog hanya berkewajiban membayar tagihan pembayaran upah kerja yang diajukan buruh melalui mandor. (Jmb)
______________
Foto: Alfred Liunesi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *