BLHD ke Lokas Tambang Batu-Pasir Noelbiboko, Warga Menanti Tindaklanjut

oleh -1.1K views

Kupang, fakta-tts.com – Aktifitas penambangan material galian golongan C berupa batu dan pasir di sungai Noelbiboko wilayah desa Pariti kecamatan Sulamu kabupaten Kupang, akhir-akhir ini memantik reaksi sejumlah masyarakat. Ini menyusul persoalan tak bisa dikelolanya lahan sawah milik warga karena ketiadaan air saat musim tanam.

Sejumlah warga beranggapan sawah mereka tidak bisa dikelola saat musim  tanam/penghujan  karena air dari kali besar tersebut  tak bisa mengalir ke areal persawahan mereka. Ini karena dugaan mereka aliran air sungai telah terhambat atau terjebak dalam kubangan-kubangan yang muncul di badan sungai. Kubangan-kubangan ini diduga terjadi dari aktifitas tambang yang tak beraturan dari perusahaan tertentu.
“Dugaan kami air tidak masuk sampai ke sawah karena terjebak dalam kubangan-kubangan di badan kali,”kata Den Bainuan, warga setempat  kepada fakta-tts.com Sabtu (25/7/2020) di Kupang.
Dugaan tambang tidak teratur Ini kata Den selain adanya kubangan yang tak beraturan juga bisa terindikasi pantauannya Rabu siang bersama tim pemkab yang mana aktifitas tambang sudah merambah ke tepian kali. Hal itu dikuatirkan akan memperparah kondisi sungai yang menjadi penyuplai ratusan hektare lahan di Pariti.
Den Bainuan dan sejumlah warga lainnya sempat bersurat ke pemkab Kupang untuk menyikapi persoalan yang dihadapi tersebut. Dan pada Rabu (22/7/2020) lalu tim pemkab Kupang yang didalamnya ada dinas BLHD, Pol PP, pemerintah kecamatan dan aparat desa Pariti turun ke lokasi penambangan. Didapati ada aktifitas sejumlah alat berat dan kendaraan truk mengambil dan mengangkut batu dan pasir di alur kali Noelbioko.
Ia mengharapkan ada Tindaklanjut dari pemkab Kupang atas temuan lapangan tersebut sehingga itu menjawab dugaan sejumlah warga saat ini. “Semoga ada Tindaklanjut pemkab setelah turun lapangan ini, karena masyarakat perlu tahu apa persoalan yang sebenarnya. Yang kita bicara selama ini kan hanya dugaan, masalah sebenarnya nanti dari pemerintah,”katanya.
Persoalan lain yang kini digunjingkan warga adalah adanya perusahaan tertentu yang diduga berijin di lokasi lain namun beraktifitas di sungai Noelbiboko. Yabes Lau, warga setempat juga mengungkap hal yang sama dalam postingan Acun facebooknya.
Pihaknya kata Den inginkan adanya kejelasan kepada masyarakat soal kontribusi para perusahaan tambang bagi desa setempat yang dianggap tidak  jelas sejak beberapa tahun lalu. Rentang waktu ijin tambang dari perusahaan-perusahaan yang ada juga dikatakan tidak dijelas diketahui masyarakat.
 “tambang oleh sekitar lima perusahaan ini, sudah lama tapi masyarakat tidak tahu jelas bagaimana kontribusinya untuk desa. Material kali ini salah satu potensi andalan di Pariti tapi bagaimana kontribusi untuk desa, kita tak usah omong dulu soal kontribusi untuk kabupaten tapi bagaimana untuk desa, ini masyarakat perlu tahu juga,”kata Den kepada fakta-tts.com di Kupang , Sabtu (25/7/2020) malam.
Normalisasi sungai adalah hal yang dianggap menjadi solusi atas persoalan tidak normalnya pengelolaan lahan sawah mereka saat musim hujan atau musim tanam.
Dia juga mengharapkan adanya kejelasan soal masa waktu ijin tambang dari perusahaan yang kini beroperasi di sungai Noelbiboko. “Kita tidak tahu sampai kapan ijin operadi perusahaan-perusahaan yang beroperasi saat ini, yang kami dengar ada yang sudah mati ijinnya tapi terus beroperasi, ini perlu penjelasan pemerintah,”katanya.
Plt. Camat Sulamu, Paulus Ganat yang dikonfirmasi pertelepon Sabtu sore membenarkan adanya kunjungan tim pemkab Kupang ke lokasi tambang tersebut.
Paulus Ganat yang juga ikut dalam kunjungan tersebut mengatakan pihaknya tidak tahu pasti soal berapa banyak perusaan yang beroperasi di wilayah sungai Noelbiboko. Namun ia sempat menyebut nama sejumlah perusahaan yang diketahui tengah beroperasi yakni HMN, Karunia, Sammy Jaya dan Metro.
Ia juga mengaku tidak tahu soal kontribusi bagi desa pemilik wilayah tambang dan saat ditanya soal masa waktu ijin tambang perusahaan-perusahaan yang tengah beroperasi pun tidak diketahui. “Saya tidak tahu ada berapa perusahaan yang punya ijin disitu. sejak kapan dan sampai kaaon waktu ijinnya juga saya tidak tahu, yang saya tahu saat ini ada aktifitas tambang oleh perusahaan disitu, soal ijin saya tidak tahu,”katanya.
Kepala desa Pariti, Melkior Raja yang dihubungi pertelepon juga tidak tahu soal masa ijin tambang dari perusahaan yang sementara beroperasi. Begitupun soal kontribusi perusahaan bagi desa dari aktifitas tambang yang dilakukan.
Pihak  Pemprov NTT belum berhasil dikonfirmasi terkaitster ijin tambang oleh perusahaan yang kini beroperasi. Begitupun para perusahaan penambang. Pihak BLHD kabupaten Kupang  juga belum berhasil dikonfirmasi soal rekomendasi yang dikeluarkan atas hasil peninjauan lokasi tambang Noelbiboko. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *