Jagung TJPS di Bena-TTS Ada Yang Dimakan Ternak, Dinas : “Gagal Sekitar 40 Persen”

oleh -542 views
Bena , fakta-tts.com – Beberapa pekan lalu, bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Egusem Piether ‘Epoy’ Tahun,ST,MM bersama jajarannya melakukan penanaman Jagung di area lahan persawahan di desa Bena kecamatan Amanuban Selatan.
Selasa (8/9/2020) komisi II DPRD TTS bersama dinas terkait memantau perkembangan pelaksanaan program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang digalakkan pemprov NTT itu.
Di lokasi TJPS Bena, Sekretaris Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Pertanian dan Perkebunan Kabupaten TTS, Jhon Sunbanu mengatakan tidak semua tanaman jagung TJPS yang ditanam gagal. Sebab, ada 10 lokasi lain di TTS itu tumbuh subur. Khusus untuk didataran Bena Amanuban Selatan diakui 40 persennya gagal karena dimakan ternak namun ada juga yang tumbuh.
“Kalau yang di dataran Bena memang ada yang dimakan ternak piaraan masyarakat setempat ada juga yang sama sekali tidak tumbuh. Tetapi di 10 lokasi lain di TTS itu tumbuh subur,”Kata Sekdis TPHPP TTS, Jhon Asbanu kepada wartwan saat bersama komisi II DPRD TTS memantau lokasi TJPS desa Bena, Selasa (8/9).
Menurut Jhon, luas lahan target yang diverifikasi 440 Ha realisasi tanam sampai 31 Agustus 2020 mencapai 267,26 Ha Khsus Bena 182 Ha bukan 1000 Ha. Sementara 85,26 Ha di 10 Kecamatan lain yang menjadi lokasi TJPS di Kabupaten TTS.
Asbanu menjelaskan, melihat kondisi ini tidak 100 persen gagal karena tidak semua P3A dikunjungi, sebab untuk prediksi setelah panen akan langsung tanam padi, sehingga tidak semua lokasi digunakan untuk tanam jagung didataran Bena yang awalnya 1000 Ha. Namun, 40 persen gagal karena dimakan ternak, kekeringan dan faktor manusia atau masyarakat tidak berpartisipasi saat sosialisasi awal.
Dari 182 Ha lahan sawah yang digunakan untuk tanam jagung, menurut Jhon 40 persen gagal, sedangkan 60 persen berhasil. Kegagalan tersebut diakibatkan ternak piaraan masyarakat dan juga kekeringan. Tetapi di desa lain itu sangat dan jauh lebih subur.
Kegagalan di dataran Bena menurut Jhon adalah perubahan budaya tanam padi ke jagung yang butuh waktu. Sebab, lahan sawah yang digunakan untuk tanam jagung untuk mendukung program TJPS ini baru pertama kali di Bena. sedangkan di 10 Kecamatan lainnya 100 persen, khusus Bena peluang kecil karena perubahan musim tanam butuh adaptasi.
Terkait dengan sisa lahan dari target 1000 Ha yang belum ditanam Jhon mengatakan karena kekurangan air, waktu yang prediksi panen mepet dengan musim hujan sehingga petani harus tanam padi. Oleh karena itu sisanya dialihkan ke musim tanam Oktober-Maret dengan sisa dari 1.185, sisa 745 Ha akan tanam pada musim hujan pada lahan kering yang akan diverifikasi.
“Sisanya akan tanam pada lahan kering di 7 Kecamatan di Kabupaten TTS pada Oktober mendatang nanti. Kita optimis akan mencapai 1.185 Ha, sedangkan yang sudah tanam di 10 Kecamatan selain Bena Amanuban Selatan sangat subur,”katanya.
Ketua Komisi II DPRD TTS, Imanuel Olin mengatakan kegagalan didataran Bena karena belum persiapkan masyarakat atau pemilik lahan dengan baik. Sebab, untuk melindungi tanaman jagung dari serangan ternak maka harus ada pagar. Oleh karena itu harus ada sosialisasi jauh sebelum melakukan penanaman jagung oleh bupati TTS Egusem Piether Tahun bersama seluruh ASN di TTS.
Program tersebut menurutnya akan berjalan baik jika adanya partisipasi masyarakat terutama semua pemilik lahan yang tergabung dalam kelompok P3A. Maka, masyarakat akan punya rasa memiliki dan rasa tanggungjawab sehingga akan menjaga apa yang telah dilakukan pemerintah.
Imanuel Juga berharap agar program tersebut terus berlanjut demi peningkatan ekonomi masyarakat. Namun, dengan adanya kegagalan di Bena harus dibenahi sehingga kedepan jauh lebih baik dari kondisi saat ini.
Wakil Ketua Komisi II, Melianus Bana meminta kepada Bupati TTS Egusem Piether Tahun agar dengan tegas meminta kepada Kepala Desa Bena untuk membuat Perdes soal lokasi atau lahan pertanian dan lahan peternakan, sehingga apa yang menjadi keinginan pemerintah tidak sia-sia, sebab progam tersebut sangat baik untuk masyarakat.
“Bagi saya program ini sangat bagus untuk masyarakat. Tetapi Bupati harus tegas kepada Kepala Desa untuk buatkan Perdes yang mengatur wilayah peternakan, karena kita dilokasi ada kambing sementara berkeliaran dilokasi TJPS,”ujarnya.
Tanaman jagung yang ditanam bersama Bupati EpPy Tahun dan jajaran Pemkab TTS tidak tumbuh subur. Sekitar puluhan ekor kambing masyarakat terpantau berkeliaran didalam lahan yang sudah ditanam.
Dibagian utara dari arah jalan, tanaman jagung tidak tumbuh, ada juga yang dimakan ternak milik warga setempat seperti sapi dan kambing. Sementara di bagian barat dari arah kecamatan Batuputih kurang lebih 4 Are yang kondisi jagung tumbuh subur.
Kebanyakan jagung yang ditanam juga tidak berkembang subur karena ditanam dianatara rumput dan padi. Lahan yang digunakan tidak diolah untuk tanam jagung setelah panen padi sehingga tidak subur ada juga yang dimakan ternak warga setempat.(*/jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *