Pasar Desa Ditutup, Begini Kontribusinya Untuk PAD TTS

oleh -1.5K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Pemerintah kabupaten (Pemkab) Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mengambil kebijakan menutup sementara pasar desa yang dibuka mingguan di sejumlah kecamatan yang ada di kabupaten TTS. Kebijakan penutupan pasar desa itu sebagai salah satu bentuk upaya Pemkab TTS dalam menangani persoalan penyebaran virus Corona di kabupaten TTS.
Sesuai Pengumuman Bupati TTS Nomor: Bapenda.33.07.01/174/2020.tgl.24 Maret 2020 tentang Penutupan Sementara Pasar Desa/Pasar Tradisional, penutupan pasar dimulai sejak Senin (30/3/2020) hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bappenda) TTS, Aba Anie kepada fakta-tts.com melalui telepon Senin kemarin mengakui kalau penutupan 55 pasar mingguan di kabupaten TTS itu punya efek terhadap pendapatan daerah karena pasar-pasar desa yang ada punya kontribusi bagi daerah berupa retribusi. Tak hanya bagi pendapatan daerah, penutupan pasar desa juga diakui Aba Anie mengganggu pendapatan masyarakat pedagang dan petani produsen hasil kebun dan pertanian.
Namun kata Aba Anie, kebijakan yang diambil itu juga demi kepentingan menyelamatkan masyarakat TTS dari ancaman penyebaran virus Corona.
“ini demi kepentingan yang lebih besar dan keselamatan warga TTS dari virus corona/covid 19, maka dikeluarkan Pengumuman Bupati TTS Nomor : Bapenda.33.07.01/174/2020.tgl.24 Maret 2020 tentang Penutupan Sementara Pasar Desa/Pasar Tradisional itu,”katanya.
Dikatakan kontribusi pasar untuk pendapatan daerah cukup besar. Dari 55 pasar mingguan itu ada 15 pasar besar, 19 pasar dan 21 pasar kecil. Kontribusi tiap kategori pasar itu berbeda-beda untuk setiap bulannya.
Dijelaskan Aba Anie, untuk pasar kategori besar total retribusi yang masuk sebagai pendapatan bagi daerah sebesar Rp 10 juta sampai Rp 11 juta perbulannya.
Untuk pasar sedang pendapatannya dari Rp 3 juta sampai Rp 4 juta perbulan dan untuk pasar kecil antara Rp 2 juta sampai Rp 3 juta perbulan.
Pendapatan-pendapatan itu kata Aba dari penerimaan retribusi jasa umum ( retribusi pelayanan pasar) baik kios, los maupun pelataran jual yang totalnya pada tahun 2020 ini sebesar Rp. 979.934.400. rinciannya yakni
retribusi pelataran jual Rp 269.910.960, Retribusi los pasar Rp 221.150.000 dan
Retribusi kios Rp 488.873.440. Dari pelataran pasar se-TTS kata Aba sekitar 18-20 juta perbulan.
“Penerimaan pajak dan retribusi lainnya juga mengalami keterlambatan, tapi setelah kondisi kondusif kembali, akan diusahakan semaksimal mungkin untuk mencapai target atau paling tidak realisasinya mendekati target,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *