Jaksa Mulai Telusuri Dana Desa Tuakole

oleh -1.6K views
Nelson Tahik,SH/Kasie Intel Kejari TTS

Kota SoE, Fakta TTS-Persoalan dana desa Tuakole kecamatan Batu putih kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) direspon oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) TTS jelang akhir tahun ini. Pekan kemarin penyidik Kejari TTS mulai bergerak meneulusri persoalan dana tersebut dengan memeriksa sejumlah warga termasuk para penerima bantuan rumah yang dianggarkan dalam dana desa Tahun Anggaran (TA) 2016. Pemeriksaan ini dilakukan setelah jaksa memperoleh sejumlah data dan informasi soal adanya indikasi korupsi dalam pengelolaan dana bernilai Rp 1,3 miliar dengan sejumlah item pekerjaan tersebut.

“ia kita sudah respond an kita sementara melakukan pengumpulan data dan keterangan (Pulbaket),”kata Nelson Tahik, kepala seksi intelijen (kasie intel) kejari TTS di ruang kerjanya pekan kemarin.

Sebelumnya Sekretaris desa Tuakole kecamatan Batu putih kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Carles Foenale meminta aparat Kejaksaan negeri (Kejari) TTS untuk mengambil tindakan atas dugaan persoalan pengelolaan dana desa Tuakole tahun 2016 sebesar Rp 1,3 miliar.

Hal tersebut dikatakan Foenale didampingi Yakob salah seorang warga setempat saat berada di redaksi Fakta TTS, Senin (27/11/2017).

Ia mengatakan jaksa perlu menelusuri persoalan dana desa 2016 tersebut karena pekerjaan fisik sejumlah item pekerjaan terhenti dan belum selesai hingga kini namun dana desa satu miliar lebih itu diduga sudah habis terpakai. “Pekerjaan tidak selesai, SPJ seratus persen. Artinya uang sudah cair semua. Terus dimana uang itu, kalau masih ada kenapa pekerjaan tidak diselesaikan,”kata Foenale.

Meski sebagai sekdes yang mungurus admimistrasi desa namun Foenale mengaku tidak tahu menahu soal administrasi pencairan dan pertanggungjawaba penggunaan dana desa tahun 2016 lalu. “Saya tidak tahu soal penggunaan dana itu. Waktu lalu saya tolak tandatangani SPJ karena fisik tidak selesai. Kalau soal dana tanya ke kades waktu itu Darius Bell dan bendahara Melkianus Pandi, mereka yang tahu,”katanya.

Yakob, anak Oktofiana Talan salah penerima bantuan rumah layak huni yang bersumber dari dana desa tahun 2016 mengatakan mereka pernah dikasih uang sebesar Rp 2,5 juta dari Melkianus Pandie sebagai uang kayu. Namun uang tersebut tidak cukup untuk melunasi kayu sebanyak 3,5 kubik untuk penyelesaian rumah yang diperoleh. Selain kayu kata Yakob mereka juga menerima Semen 10 sak, Seng 42 lembar, paku 5 centimeter (cm), paku 7 cm, paku seng masing-masing 5 kilogram, Pasir 1 ret, Batu 1.5 ret dan Seng licin 8 meter. “Jika kita hitung maka dana untuk bahan-bahan yang kami terima kurang dari Rp 8 juta padahal saat rapat di kantor desa bilangnya tiap orang jatahnya Rp 13,6 juta,”katanya.

Jidriani Selan, Pendampimg Desa (PD) Tuakole kepada Fakta TTS melalui telepon mengakui kalau hingga kini item pekerjaan 32 rumah, gedung PAUD, lapangan futsal belum selesai namun pertanggungjawaban telah dibuat 100 persen oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dan kepala desa.

Dana sebesar Rp 1,3 miliar juga dikatakan sudah dicairkan seluruhnya namun pekerjaan belum diselesaikan. “Laporan yang kami dapat Uang sudah nihil tapi pekerjaan belum selesai,”katanya.

Dikatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Darius Bell, mantan kades dan TPK untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum selesai namun hingga kini belum ada tindaklanjut dari janji Darius dan TPK.

Sisa pekerjaan yang belum dikerjakan ditafsir Selan membutuhkan anggaran sebesar Rp 500 juta lebih.  “Pekerjaan yang belum selesai ini butuh sekitar Rp 500 juta lebih,”katanya. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *