Tersangka Perdagangan Orang di TTS Melahirkan Dalam Penahanan JPU

oleh -1.5K views
SELVI (BERDIRI-KEDUA KIRI) DAN TERSANGKA LAINNYA SAAT DISERAHKAN KE JPU OLEH PENYIDIK POLRES TTS

Kota SoE, Fakta TTS – Brigadir polisi (brigpol) Rudi Soik bersama sejumlah rekan penyidik kasus human traffiking Polres TTS, Kamis (30/11/2017) menyerahkan Yusmina Nenohalan, Selvy Koi, Yanti Banu dan David Tabana sebagai tersangka kasus human traffiking atau perdagangan orang kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari TTS. Selvy Koi, Salah satu dari tiga tersangka perempuan tengah hamil delapan bulan saat diserahkan polisi untuk disidangkan JPU dipersidangan. Dua hari mendekam dalam tahanan Rutan SoE, Selvy dilarikan ke RSUD SoE dan akhirnya melahirkan dengan cara dioperasi. Penahanannya kemudian ditangguhkan JPU. Selvy kini berada di rumah salah seorang keluarganya di Kota SoE

“saya hanya tunggu hari saja untuk melahirkan,”kata Selvi warga desa Toineka kecamatan Kualin kepada Fakta TTS di ruangan bagian tindak pidana umum (pidum) Kejari TTS. Selvy dan ketiga rekannya dijadikan tersangka karena diduga terlibat jaringan memperdagangkan Ance Juliana Punuf, warga Toineke ke Malaysia tanpa dokumen resmi atau illegal. Ance sudah dipulangkan ke kampungnya dan kini masih dalam kondisi sakit karena diduga alami penganiayaan di Malaysia.

Kasus ini mulai ditangani penyidik Polres TTS sejak Mei 2017 lalu dan berkas perkara keempat tersangka dinyatakan lengkap pada pertengahan November 2017.

Saat diperiksa polisi, Selvi sudah dalam kondisi hamil dan penahanannya dibantar penyidik karena mengalami pendarahan saat pemeriksaan. “sempat ditahan tapi karena alami pendarahan penyidik bantarkan penahanan yang bersangkutan sementara tida tersangka lain tidak,”kata Rudi Soik, penyidik kasus tersebut.

Sementara JPU, Martin Eko Prayitno mengatakan pihaknya tetap melakukan penahanan terhadap para tersangka setelah penyerahan tersebut. “sesuai keterangan dokter kondisi yang bersangkutan (Selvy) dan bayinya sehat, sehingga kami tetap tahan. Nanti kalau mau melahirkan atau terjadi sesuatu saat dalam masa penahanan baru kami bantarkan,”kata Martin Eko.

Dalam perkara tersebut Selvy ditetapkan sebagai tersangka kedua karena dirinya yang menghubungi Yanti Banu, tersangka III, yang tinggal di Kota Kupang.  Selvy menghubungi Yanti setelah mendapat informasi dari Yusmina Nenohalan ,tersangka I, kalau Ance mau bekerja di Kota Kupang sebagai Pembantu Rumah Tangga (PRT). Setelah Ance berada ditangan Yanti, Yanti kemudian menghubungi David Tabana, tersangka IV, warga Kota Kupang dan kemudian David bersama Boi Moy, rekannya mengurus pemberangkatan Ance ke Malaysia dengan dokumen pemberangkatan yang diduga dipalsukan. Boi kini dalam pengejaran polisi karena masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Kepada Fakta TTS Selvy mengaku dia tidak tahu kalau Ance akan dijadikan Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri oleh Yanti. “kami satu kampung (dengan Ance), mama Yusmina kasih tahu saya kalau Ance mau kerja jadi pembantu rumah tangga di Kupang jadi saya hubungi Yanti karena sebelumnya Yanti bilang kalau ada cari orang untuk kerja di Kupang sebagai pembantu, saya tidak tahu sama sekali kalau setelah di Kupang, Ance dikirim ke Malaysia,”kata Selvy yang mengaku baru pertama kali terlibat hal semacam itu.

Beberapa waktu kemudian saat Ance berada di Kupang, Selvy mengaku ia mendapat uang dari Yanti sebesar Rp 1,5 juta dan sesuai arahan Yanti, uang itu sebagiannya, Rp 700.000 diberikan kepada orang tua Ance. “saya terima dari yanti Rp 1,5 juta, tapi Yanti bilang kasih separuh ke orang tua Ance maka saya kasih Rp 700 ribu ke orang tua Ance,”kata Selvy yang tampak menahan tangis.

JPU, Martin Eko mengatakan ada keuntungan uang yang diperoleh keempat tersangka tersebut. “Mereka mendapat untung karena ada uang Rp 8.000.000 yang diberikan Boi kepada David. Kemudian David memberikan Rp 5 juta kepada Yanti. Yanti kemudian menyerahkan Rp 3 juta kepada Selvy dan Selvy menyerahakan Rp 1,5 juta kepada Yusmina. Jadi mereka dapat uang dari aksi mereka sementara hasil perhitungan dari LPSK, korban mengalami kerugian sebesar rp 130-an juta,”kata Martin Eko.

Informasi yang dihimpun Fakta TTS modus operandi dalam kasusu ini para pelaku atau tersangka diduga melakukan penipuan  dan  pemalsuan  data korban dan pembuatan pasport dengan identitas  palsu di imigrasi Jakarta barat dan pembuatan pasport tanpa kehadiran korban disana. Dalam kasus ini juga kabarnya ada oknum mafia penerima Modal dari agen Malaysia dengan inisial AN.

Jaringan kasus ini melibatkan lebih dari empat orang yang telah berstatus tersangka tersebut, satu tersangka lain kini berstatus DPO polisi. Dalam jaringan kasus ini, Yusmina Nenohalan berperan sebagai perekrut, Selvy  Koy sebagai pihak yang menjemput korban  di desa Kualin untuk di bawah ke Kupang. Yanti Banu sebagai tersangka III berperan menampung korban di Kupang yang kemudian menghubungi  pelaku/tersangka IV, David Tabana  untuk menghubungkan Yanti Banu dengan pelaku atau tersangka V berinisial BN. BN adalah pelaku yang diduga membuat pasport korban di kantor imigrasi Jakarta barat tanpa menghadirkan korban Ance di kantor imigrasi Jakarta barat. Proses pengiriman Ance ke Malaysia terjadi bulan Juli 2014  yang kemudian korban di pekerjakan sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia  tanpa di bayar gaji,serta kerapkali mengalami penyiksaan. Pada tanggal 28 Mei 2017 korban mengalami sakit dan tanggal 30 Mei 2017 korban di kirim  dari Malaysia ke Kupang oleh seseorang laki-laki yang tidak dikenal dalam keadaan sakit asma.

Kata Martin Eko Prayitno para tersangka terancam pidana 15 tahun penjara sesuai pasal yang disangkakan. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *