Marten Tana Disebut Tewas di Mapolres TTS, Ini Kata Wakapolres

oleh -1.7K views

Kota SoE, Fakta TTS-Puluhan massa aliansi kemanusian menggelar aksi demonstrasi di Mapolres TTS Senin (16/4/2018) yang salah satu tuntutanya meminta polisi mengungkap misteri kematian Marthen Tana, oknum dosen Akper Maranatha SoE yang tewas, dalam mengikuti pawai paskah Sabtu (7/4/2018) di Kota SoE. Marthen tewas setelah mengalami kecelakaan lalulintas di dekat Makodim 1621/TTS dan PDAM SoE.

Dalam orasi di pintu gerbang Mapolres TTS, ada sejumlah orator yang menyebut Marten Tana tewas di depan ruang piket dan ruang SPKT Polres TTS.
Bahkan karena tidak diijinkan masuk menemui petinggi Polres, massa sempat meminta berdoa dititik depan ruang piket yang diketahui sebagai tempat tewasnya Marthen Tana.
“Kalau tidak bisa bertemu, kami minta ijin untuk bakar lilin dan berdoa disitu,”kata Alfred Baun, koordinator aksi dari Araksi TTS sambil menunjuk ke pelataran ruang piket Polres TTS. Permintaan ini juga disampaikan orator lainnya.
Massa mengungkap Marten masih hidup saat dibawa anggota polisi dari Tempat Kejadian Lakalantas dekat Makodim dan kantor PDAM ke Mapolres TTS. Dari Mapolres Marten dibawa ke IGD RSUD SoE namun tidak dibawa masuk dalam ruangan namun dibiarkan terbaring di pelataran ruangan IGD. Saat itu Marthen diduga sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Pakaian Marthen yang basah saat tergeletak di pelataran IGD juga menjadi suatu keanehan bagi para pendemo.”kenapa bajunya basah semua,”kata salah seorang pendemo.
Massa bahkan menyebut nama dua oknum anggota polisi yang berperan dalam membawa Marthen Tana dari TKP ke Mapolres kemudian di RSUD SoE. Mereka meminta kedua oknum polisi itu diperiksa untuk mengungkap kematian Marthen Tana.
Wakapolres TTS, kompol Herman Bessie tampak berang saat dimintai tanggapannya oleh wartawan di ruang kerjanya terkait ucapan demonstran.
“Siapa yang bilang begitu (Marthen tewas di Mapolres), jangan-jangan dia pembunuhnya. Kalau omong hati-hati, jangan asal omong tanpa bukti,”kata Herman beberapa kali.
Herman mengatakan hasil penyelidikan polisi Marthen tewas karena jantung stop (tidak berfungsi) dan sesuai visum dokter tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuh korban. “Tidak ada tanda-tanda kekerasan di tubuhnya. Penyebab tewasnya karena jantung stop,”jelasnya.
Dijelaskan,  Marthen dibawa dua anggota polisi dari TKP dekat Kodim dan PDAM TTS ke pokres TTS karena alami lakalantas. Marthen dikatakan celaka karena menerobos arak-arakan peserta pawai paskah dari arah berlawanan menggunakan sepeda motor honda Beat.
Saat dibawa itu kata kompol Herman, korban terlihat sempoyongan sehingga dia dibawa dua anggota polisi menggunajan sepeda motor. “Mereka GTO (gonceng tiga orang) dari tempat kejadian. dia di tengah diapit anggota karena sempoyongan setelah laka itu,”katanya. Korban dibawa ke Polres karena kejadian lakalantas tersebut.
Sampai di Mapolres korban tidak diapa-apakan oleh anggota polisi, korban tampak lemah dan pucat. “Dia dibiarkan berbaring di Mapolres itu karena dia tidak bisa duduk sambil anggota siapkan kendaraan untuk bawa ke rumah sakit. Dia masih sadar saat di polres memang kondisinya pucat dan kelihatan lemah. Bajunya basah itu karena memang ada hujan. Jadi polisi bantu korban,”katanya.
Sampai di IGD RSUD kata kompol Herman, kursi dorong sementara terpakai sehingga dari atas kendaraan polisi tidak bisa langsung membawanya ke dalam ruangan namun dibaringkan di lantai pelataran ruang IGD.
Polisi tidak melakukan penyelidikan lanjutan kasus itu karena sesuai hasil visum tidak ada tanda-tanda kekerasan yang dialami korban.
“Penyelidikan dihentikan karena tidak ada tanda kekraaan. yang bilang ada kekerasan itu mungkin dia orang yang bunuh karena bagaimana dia bisa tahu. Hasil visum mati karena jantung stop,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *