Psikologi Gadis Yatim-Piatu Korban Penganiayaan-Perkosaan Terganggu, Perlu Advokasi

oleh -1.6K views

Kota SoE,Fakta TTS-AB (13) gadis yatim piatu asal desa Poli kecamatan Santian kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT) yang mengalami penganiayaan sadis dan perkosaan dikabarkan mengalami gangguan psikologi.

“korban trauma, psikologinya terganggu sekali. saat kita ambil keterangan beberapa waktu lalu di rumah keluarganya di desa Webriamata kecamatan wewiku kabupaten Malaka dia kelihatan takut dan susah diajak bicara,”kata Kanitres Polsek Boking, Bripka Peter Suan di Mapolres TTS, Rabu (17/10/2018).

Kata Peter, untuk kepentingan pemeriksaan, saat ditanya, korban terlihat ketakutan dan tak mau berbicara. “dia susah diajak bicara, jadi kita minta keluarganya untuk bantu berkomunikasi dengan dia. saat kita tanya soal kejadian itu dia kelihatan takut dan mengalihkan pandangannya,”kata Peter.

Korban juga dikatakan tak bisa leluasa bergerak. sejumlah anggota tubuh seperti tangan dan kaki tidak berfungsi normal seperti sedia kala. “kaki tak bisa jalan, pergelangan tangan tak bisa lurus,”kata Peter sambil memperagakan kondisi kaki dan tangan korban.
“korban sekarang dibawa keluarga untuk dirawat di rumah adat di Malaka karena keluarga tak punya biaya,”tambah Peter.

Dari kondisi yang dilihat saat pemeriksaan itu menurut Peter, bukan hanya fisik korban yang terganggu atas kejadian yang dialami namun psikologi korban juga ikut terganggu sehingga menurutnya butuh pendampingan untuk memulihkan psikologi korban.

Simon Tunmuni, SH ketua devisi pendampingan dan advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TPPA) kabupaten TTS yang ditemui di Mapolres TTS mengatakan pihaknya telah mengetahui informasi itu lewat media dan memang menurut Simon perlu ada advokasi atau pendampingan terhadap korban karena dari kekerasan fisik yang dialami korban juga mengalami tekanan mental akibat kejadian tersebut. “itu memang perlu pendampingan dan salah satu tugas lembaga kami ya berikan pendampingan terhadap perempuan dan anak korban kekerasan fisik dan psikis,”katanya.

Dikatakan pihaknya segera berkoordinasi dengan dinas Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) kabupaten TTS untuk menindaklanjuti persoalan yang dialami AB. “kami akan koordinasi dengan dinas P3A dan pihak keluaega untuk upaya pendampingan. tak hanya pendampingan untuk pulihkan mental tapi juga pendampingan saat diperiksa hingga persidangan,”katanya.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *