Hakim Tinjau Lahan Sengketa Bendungan Temef, Kapolres & Dandim Juga Hadir

oleh -7.6K views

Polen, fakta-tts.com – Persidangan perkara sengketa lahan bendungan Temef di kecamatan Polen dan Oenino

Timor Tengah Selatan (TTS) memasuki tahap pembuktian setelah pihak penggugat Fransiskus Lodowik Mella dan para tergugat, PT Nindya Karya pelaksana proyek bendungan Temef selaku Tergugat I, Pihak Balai Sungai Nusa Tenggara II Kementerian PUPR tergugat II, pemerintah provinsi NTT tergugat III dan Pemda TTS selaku tergugat IV memasukan bukti masing-masing ke majelis hakim.
Jumat (17/1/2020) majelis hakim yang diketuai Wempi Duka,SH melanjutkan sidang pembuktian dengan melihat lahan lokasi bendungan seluas 312 hektare yang dalam gugatan diklaim Fransiskus Lodowik Mella sebagai miliknya. Peninjauan ini untuk memastikan keberadaan lahan yang menjadi obyek sengketa.
Persidangan lapangan tersebut hadir kuasa hukum para pihak, penggugat dan tergugat. Kapolres TTS AKBP Ariasandy,SIK dan Dandim 1621/TTS Letkol. Koerniawan Pramulyo juga hadir meninjau. Keduanya tiba di lokasi beberapa saat setelah sidang dimulai.
 
Sekitar pukul 10.20 wita Majelis hakim dan pihak tergugat tiba di lokasi dalam wilayah desa Konbaki kecamatan Polen. Di lokasi sudah ada sejumlah keluarga dari pihak penggugat dan aparat kepolisian dan TNI yang mengawal persidangan di lokasi tersebut. 
 
Sebelum peninjauan lokasi, Dominikus Mella anak dari penggugat Fransiskus Mella meminta majelis untuk menghadirkan warga yang namanya terdata oleh pemerintah sebagai pihak yang menguasai lahan tersebut.
 
Namun permintaan Dominikus tersebut ditolak oleh majelis hakim dengan alasan yang bersangkutan tidak termasuk sebagai penggugat dan bukan kuasa hukum penggugat. “Yang berhak berbicara adalah kuasa hukum,”kata ketua Majelis, Wempi Duka,SH
 
Pihak majelis hakim menyampaikan ada 17 titik yang ditinjau dalam sidang lapangan tersebut. 
Ketua Majelis hakim, Wempi Duka,SH mengatakan peninjauan lokasi tersebut untuk melihat kebenaran obyek sengketa yang digugat apa benar ada lahan dan apa saja yang berada diatas lokasi lahan sengketa tersebut.
Peninjauan titik batas lahan tersebut didukung Global Positioning System (GPS).
Dalam gugatannya Fransiskus L.Mella menuntut pembayaran ganti rugi sebesar Rp 312 miliar terhadap para tergugat atas lahan yang kini tengah dibangun bendungan oleh PT Nindya Karya dan PT Waskita Karya tersebut. Menurut penggugat, sesuai salah satu bukti yang dipegang yakni Peta wilayah jaman dahulu, sebelum kemerdekaan yang dipegang lahan tersebut adalah miliknya.
Sebelumnya kadis PRKP kabupaten TTS, Jack Benu mengatakan pihak pemerintah telah melakukan pendataan terhadap lahan tersebut dan lahan bendungan tersebut meliputi  wilayah Desa Oenino, Konbaki dan Pene Utara. Sesuai data, ada 640 bidang tanah dengan luasan yang berbeda yang dikuasai oleh 298 warga. Dari 298 warga tersebut tidak ada nama Fransiskus Mella yang merupakan penggugat. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *