Louis Charles Nuban Lepas Dari Tuntutan Jaksa

oleh -1K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Luis Charles Nuban,S.Sos (40), warga desa Panite kecamatan Amanuban Selatan kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),Nusa Tenggara Timur (NTT) lepas dari tuntutan  pidana Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari TTS. Ini setelah jaksa penuntut berhasil mendamaikan pihak Louis Charles Nuban, pelaku penganiayaan  dan pihak korban, Amelia Neonane (56) warga Panite dalam mediasi di kantor Kejari TTS, Kamis (24/9/2020) siang. Sebelumnya  mediasi juga telah dilakukan pemerintah desa dan kecamatan.
Penghentian proses tuntutan pidana oleh JPU Kejari TTS terhadap Louis Nuban tersebut kata Kajari TTS, Andarias D Ornai,SH sudah mendapat persetujuan Kejati NTT setelah kedua belah pihak bersepakat untuk berdamai dan tidak mrlanjutkan proses hukum kasus tersebut.
Dijelaskan sesuai surat edaran jaksa agung (SEJA) nomor 15 tahun 2020, JPU bisa menghentikan proses penuntutan untuk kasus yang ancaman pidananya dibawah lima tahun. Itu bisa dilakukan JPU dengan mempertimbangkan sejumlah pertimbangan yang disyaratkan dalam SEJA tersebut.
“Penghentian proses penuntutan terhadap saudara Louis Charles berdasarkan SEJA nomor 15 tahun 2020, disitu ada kriterianya, pelaku tidak pernah lakukan tindakpidana sebelumnya, ada kompensasi terhadap korban, ada respon masyarakat,”katanya.
Kajari Andarias menambahkan penghentian proses penuntutan tersebut hanya dikhususkan untuk kasus yang ancaman pidananya dibawah lima tahun.
Louis Charles Nuban, Oknum ASN pemkab TTS ini sebelumnya diancam tuntutan pidana oleh JPU dengan pasal 351 ayat 1 KUHP karena diduga telah melakukan penganiayaan terhadap Amelia Neonane (56) sesama warga setempat. Sesuai pasal tersebut ancaman tuntutan pidana terhadap Luis Charles Nuban maksimal 2,8 tahun.
Dugaan tindakan penganiyaan Louis ini diduga dilakukan 27 Juni 2020 lalu di sawah milik Louis di Bena. Saat itu Amelia didapati Louis sementara menangkap ikan dalam sawah tersebut. Diduga karena tidak suka dengan hal tersebut, Louis memukul Amelia dan Amelia melapor ke Polsek Bena.
Kepada fakta-tts.com di kantor Kejari TTS, Amelia mengatakan ia memilih berdamai karena memikirkan masa depan anak-anaknya. Dia tidak ingin persoalan tersebut menjadi berkepanjangan hingga anak-anaknya. “Saya mau bersama karena saya pikir kedepan. Saya tidak mau dari masalah ini kami bermusuhan hingga anak-anak besar,”kata Amelia yang mengaku sudah menerima kompensasi dari pihak Louis.
Camat Amnuban selatan, Johanis Asbanu yang ikut dalam mediasi di kantor Kejari TTS menyampaikan terimakasih kepada Kejati NTT yang telah menyetujui proses mediasi yang dilakukan dari pemerintah desa hingga Kejari TTS.
“Saya sebagai pimoinan wilayah kecamatan menyampaikan terimakasih kepada Kejati NTT, Kejari TTS. Dan juga untuk bapak Nope Nabuasa yang berepran dalam proses mediasi ini ditingkat bawah hingga sampai ke Kejari,”katanya.
Asbanu menghimbau kepada warganya agar jika terjadi persoalan di lingkungannya maka sebaiknya diselesaikan secara kekeluargaan ditingkat bawah dan tak perlu dibawa sampai ke proses hukum.
Kepada Loui Charles Nuban, ia berharap persoalan tersebut menjadi pelajaran berharga agar tidak diulangi lagi. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *