Polsek Kualin Lepas Robby, Ujungnya Imer Terbunuh, Ortu Tuntut Yang Minta Robby Dilepas Ikut Bertanggungjawab

oleh -9.3K views
Kualin, fakta-tts.com – Yusti Robinson Timaubas alias Robby, warga desa Oni kecamatan Kualin kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT, kini mendekam dalam sel tahanan Polres TTS sebagai tersangka kasus penganiayaan berat yang mengakibatkan orang meninggal dunia.
Pada 21 Januari 2020 dini hari Robby melakukan penganiayaan berantai terhadap ayahnya, Yupiter Timaubas, adiknya Heridion Timaubas alias Herry dan ponakaannya Imer Nenabu, anak dari adik perempuannya, Aranci Nenabu-Timaubas yang adalah isteri dari Maxi Nenabu. Dari tiga penganiayaan itu, Imer, bocah berusia 11 tahun ini tewas setelah lehernya tertusuk pisau yang dihujamkan Robby.
Robby memang kini sudah dalam proses hukum untuk mempertanggungjawabkan dugaan perbuatannya itu. Namun orang tua dari Imer Nenabu, Maxi Nenabu dan Aranci Nenabu-Timaubas masih menyimpan sakit yang mendalam terhadap peristiwa itu yang dianggap ada kelelaian polisi yang ujungnya melahirkan duka mendalam bagi mereka.
Maxi dan Aranci didampingi keluarga mereka kepada fakta-tts.com, di rumah mereka di desa Tuafanu kecamatan Kualin, Senin (24/2/2020) menyampaikan kasus terbunuhnya anak mereka, Imer dan luka parah dari ayah mereka, Yupiter dan kakak mereka, Herry adalah peristiwa berikut dari kasus penganiayaan yang sebelumnya dilakukan juga oleh Robby pada 15 Desember 2019.
Pada 15 Desember 2019 itu dikatakan, Robby menganiaya adik ipar mereka, Nitanel Bianome di rumahnya namun kasus ini tidak dilaporkan Nitanel. Usai menganiaya Nitanel kata Maxi dan Aranci, pada hari yang sama Robby mendatangi rumah mereka dan menganiaya Aranci di dalam kios. Penganiayaan yang tidak diketahui sebabnya itu disaksikan kanitres Polsek Kualin, Even Kopong yang kebetulan membeli paku di kios milik Maxi tersebut.
Aranci dan Maxi kemudian melaporkan penganiayaan terhadap Aranci itu ke Polsek Kualin pada hari itu juga, 15 Desember 2019 dengan nomor laporan polisi : LP/13/XII/2019.
Kata Maxi dan Aranci, polisi kemudian menjemput Robby saat mengambil air di sumber air di desa itu dan menjebloskannya ke dalam sel tahanan Mapolsek. Namun sekitar tujuh atau delapan hari kemudian tepatnya tanggal 22 Desember 2019 kata Maxi, Robby dikeluarkan Polisi dari Sel tahanan dan kemudian sebulan kemudian terjadilah penganiayaan berat berantai yang ujungnya menewaskan anak mereka, Imer Nenabu. “Seandainya kalau waktu iti dia (Robby) tidak dikeluarkan polisi dari sel maka tentu anak kami tidak meninggal karena setelah dia (Robby) keluar, dia melakukan perbuatan yang sama sampai akhirnya anak kami meninggal. Kenapa polisi membebaskan dia (Robby), siapa yang meminta dan siapa yang menjamin sampai dia (Robby) keluar sel, pihak-pihak ini juga harus bertanggjawab,”kata Maxi.
Nama Kades Oni, Charles Hauteas dan Vion Kase, pengusaha di wilayah itu disebut-sebut dalam pihak keluarga Maxi dan Aranci sebagai pihak yang diduga kuat berperan atas dikeluarkannya Robby Timaubas dari sel polisi di Mapolsek Kualin.
Kuasa hukum, Stef Pobas,SH mengatakan sesuai pengakuan ibu dari Aranci bahwa pada tanggal 21 Desember 2019, saat keluarga mengantar makan untuk Robby di sel Mapolsek, saat itu pihak keluarga melihat dan bertemu dengan sejumlah orang termasuk Vion Kase di Mapolsek. “Saat itu Vion bilang bahwa dia akan membantu keluarkan Robby dari sel. Vion sempat telepon Kapolsek,”kata Stef Pobas didampingi kliennya. Stef juga menunjukan rekaman visual pengakuan dari ibu dari Aranci itu.
Kapolsek Kualin, Simon Petrus Ninu yang dikonfirmasi bersama Kanitres Even Kopong di Mapolsek Kualin mengakui kalau sebelum penganiayaan berat yang menewaskan Imer itu, sebelumnya ada laporan polisi yang disampaikan Aranci.
Diakui, atas laporan Aranci itu, Robby sempat di sel selama 1×24 jam dengan status terlapor. Namun kemudian Robby masih di sel sekitar tujuh hari kemudian namun penahanan itu bukan karena berstatus tersangka namun penahanan itu hanya untuk pembinaan saja. Ini karena kata Kapolsek Ninu, kasus itu dianggap belum jelas prosesnya meski laporan tersebut disertai visum et repertum  (VER) dari pihak medis. penyelidikan kasus itu kini dialihkan ke Polres TTS bersamaan dengan kasus penganiyaan berat yang terjadi berikutnya oleh Robby.
Kapolsek Ninu menjelaskan pihaknya mengeluarkan Robby dari sel tahanan atas permintaan secara adat oleh kepala desa Oni, Charles Hauteas dan sejumlah keluarga. Kapolsek Ninu tidak menyebut nama Vion Kase. “Yang minta Robby dikeluarkan itu kades Oni, Charles Hauteas dan sejumlah keluarga yang saya tidak ingat persis. Kita terima permintaan itu karena kita pikir pelaku dan korban adalah kakak beradik, masih keluarga, jadi kita kasih waktu untuk mereka berdamai saja karena masih kakak-adik, apalagi mereka minta secara adat, jadi tidak ada pertimbangan lain,”kata Kapolsek Ninu.
Stef Pobas, kuasa hukum Maxi dan Aranci mengatakan pihaknya akan membawa persoalan itu ke Polda NTT karena pihaknya melihat ada indikasi kelalaian polisi di Polsek Kualin dalam menangani laporan kasus Aranci Nenabu-Timaubas.
Menurut Stev jika laporan Aranci itu diproses dengan benar oleh polisi maka kejadian penganiayaan berikut oleh Robby tidak terjadi.(Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *