Warga Nifukani Tewas Ditikam, Pelaku Diduga Anggota Perguruan Tertentu

oleh -4.8K views
Nifukani, fakta-tts.com – Inti Selan (30-an), Keponakan kepala kantor kesatuan bangsa dan politik (Kesbangpol) Minggu (2/8/2020) siang sekitar pukul 14.00 wita tewas setelah ditikam AT, di pertigaan jalan desa Pusu, Nifukani dan Mnelalete. Omri tewas dalam perawatan di RSUD SoE.
Adi Nomleni, saksi di Tempat Kejadian Perkara (TKP) kepada wartawan, anggota DPRD TTS, Jean Neonufa dan sejumlah warga di tenda duka , Senin (3/8/2020) menjelaskan, kejadian itu bermula kala, dirinya, korban dan beberapa teman, duduk duduk di TKP.
Tiba-tiba muncul AT yang diketahui anggota perguruan bela diri tertentu, datang dan mengajak duel. Duel belum sempat terjadi, AT kemudian meninggalkan mereka dan beberapa saat kemudian datang lagi bersama empat rekannya yakni Ito Talan, Polce Bana, Omri Tanono dan Wido Tanono. “Dong minta baku potong saja,”kata Adi.
Saat itu, kata Adi, korban sempat menolak ajakan duel menggunakan parang tersebut. Adi melihat korban sempat berjalan mendekati pelaku dan bicara namun kemudian ia melihat pelaku mencabut sebilah pisau dan kemudian dihujamkan ke perut bagian kiri dari korban. Tikaman kemudian berlanjut ke bagian dada kiri dan satu tikaman terkahir di punggung korban, saat korban hendak melarikan diri.
Setelah menikam korban, pelaku dan keempat rekannya melarikan diri dan korban dilarikan ke rumah sakit umum Soe menggunakan sepeda motor.
Adi mengaku ketakutan dan melarikan diri saat melihat korban sudah sempoyongan dengan darah yang keluar dari bekas tikaman.
Jean Neonufa, anggota DPRD TTS dan sejumlah warga mendesak polisi untuk menuntaskan proses hukum kasus ini.
Karena persoalan yang diduga melibatkan anggota perguruan tertentu ini sudah berulang kali terjadi di TTS dan memakan korban jiwa. “2017 itu kejadian dibatas kota itu, korban tewas juga, ada juga kejadian di wilayah Molo sana, sudah banyak kejadian yang cukup meresahkan warga sehingga perlu ditindak tegas sehingga ada efek jera,”kata Jen yang diiyakan sejumlah warga.
Dikatakan pasca kejadian di batas kota itu pernah disepakati antara pemkab, pihak keamanan dan tokoh masyarakat untuk membubarkan perguruan yang diduga ilegal itu namun faktanya kejadian yang mengakibatkan korban tewas yang diduga melibatkan anggota perguruan dimaksud masih terus terjadi. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *