Makna Jumad Agung Bagi Umat Kristiani

oleh -1.9K views

Jakarta – Umat Kristiani merayakan Jumat Agung pada Jumat, 10 April 2020, sebagai peringatan wafatnya Yesus Kristus. Peringatan Jumat Agung menjadi salah satu rangkaian penting Tri Suci sebelum menuju Hari Paskah atau Misa Kebangkitan Yesus.

Dalam pekan Tri Suci, ada tiga hari penting, yaitu Kamis Putih atau hari peringatan perjamuan malam terakhir Yesus bersama dua belas rasulnya. Kemudian, Jumat Agung sebagai peringatan saat peristiwa wafatnya Yesus di kayu salib. Selanjutnya, Hari Paskah yang dilakukan sebagai peringatan kebangkitan Yesus.

Pengorbanan Yesus di kayu salib terjadi pada hari Jumat di Bukit Golgota dilakukan sebagai bentuk cinta-Nya kepada umat manusia dengan menggugurkan maut, kutukan, serta dosa-dosa mereka.

Pengorbanan Yesus yang dipercaya umat Kristen sebagai bentuk penebusan dosa umat manusia ini diperingati bukan dengan berduka cita melainkan penuh cinta. Pada hari itu, gereja akan merenungkan penderitaan Yesus, menghormati salib-Nya, lalu berdoa untuk keselamatan dunia.

Selain perjamuan di gereja, umat Kristen yang sudah cukup umur juga diwajibkan untuk menjalankan ibadah pantang dan puasa sebagai tanda pertobatan, mengurangi keserakahan duniawi, serta mengorbankan kesenangan serta keuntungan sesaat.

“Melalui nabi Yesaya, Tuhan bersabda:  Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan mematahkan setiap kuk supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecahkan rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tidak mempunyai rumah, dan apabila kamu melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri.” (Yesaya 58:6-7).

Perayaan Jumat Agung punya makna tersendiri bagi umat Kristiani. Momen Yesus menyerahkan nyawa kepada Bapa di surga sebagai bentuk pengorbanan dan belas kasihNya kepada umat manusia dilakukan sebagai penebusan dosa-dosa yang telah dilakukan seluruh umatNya. Hal tersebut menjadi cerminan akan pentingnya memiliki sifat penolong dan pemaaf.

Yesus mengingatkan manusia bahwa mereka makhluk yang memiliki banyak kelemahan, sehingga tidak ada satu pun yang luput dari dosa dan kesalahan.

Dari pengorbananNya, Yesus mengajarkan kepada manusia untuk selalu berbuat kebaikan tak terkecuali kepada orang yang pernah menyakiti.

Menyimpan dendam dan kebencian pada seseorang, tidak akan menyelesaikan masalah. Namun, dengan menebar kasih sayang kepada setiap orang maka kebaikan dan ketenangan hati akan kembali pada diri sendiri.

Lewat Jumat Agung, Yesus mengajarkan kepada umatNya tidak pantang menyerah menghadapi segala rintangan karena penderitaan yang dialami oleh manusia dalam hidupnya itu tidak berlangsung selamanya.

Sama seperti Yesus yang bangkit kembali setelah tiga hari wafat (Hari Paskah). Segala bentuk cobaan itu hanya menempa manusia itu menjadi lebih kuat dan lebih baik dari sebelumnya.

Tak hanya itu, banyak pelajaran yang bisa diambil dari peringatan hari Jumat Agung, seperti kerendahaan hati, mengasihi sesama manusia, menahan nafsu duniawi, dan lain sebagainya. [sumber:Tagar.id]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *