Oko Mama’ untuk  Bupati dan DPRD TTS

oleh -4.5K views
(*/Neno Anderias Salukh)
Ditengah gencarnya ancaman virus Corona dan mewabahnya serangan DBD akhir akhir-akhir ini, tak kalah menarik ancaman muncul dari Bupati Timor Tengah Selatan (TTS)  Epy Tahun terhadap lembaga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) untuk mencabut Peraturan Bupati (Perbub) tentang Hak-Hak DPRD TTS Periode 2019-2024 secara khusus gaji dan tunjangan lantaran pernyataan salah satu anggota DPRD TTS, Uksam Selan yang menyebut Bupati Epy seperti anak kecil dan orang mabuk.
Ancaman Bupati TTS ini sungguh luar biasa dan menjadi headline news di media lokal NTT Victory News edisi Sabtu (14/3). Tak kalah menarik, pemberitaan ini menjadi topik hangat di media sosial Facebook, grup “Pemuda TTS” dan mendatangkan berbagai komentar dari pegiat media sosial (netizen).
Rata-rata netizen yang berkomentar adalah masyarakat Kabupaten TTS yang menilai bahwa masalah tersebut seharusnya tidak boleh terjadi di kalangan pejabat daerah. Lagipula, tugas mereka adalah membenahi berbagai problematika yang sedang menghantui daerah bukan berpolemik.
Lagipula, media massa mempublikasikan berbagai drama polemik yang dilakonkan hingga menjadi topik hangat dan percakapan berbagai kalangan di belahan dunia. Polemik tersebut membuat kita sebagai warga masyarakat merasa sedang diajak untuk menikmati sajian drama yang diperankan oleh para elit daerah yang notabenenya memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan pengalaman yang cukup mumpuni. Ahmmm. Bila disimak baik-baik menghibur tapi memalukan kita sebagai warga masyarakat yang lahir dan besar di TTS.
Beranjak dari hal tersebut, penulis yang terlahir di pedalaman Kabupaten TTS dan juga dari keluarga berbudaya yakni bapak sebagai penutur adat atau jubir adat  ingin menawarkan solusi  yang berbasis budaya “Atoin Meto” yakni Oko Mama.
Oko Mama adalah simbol kekerabatan, keakraban dan persaudaraan melalui budaya Mamat atau Makan Sirih Pinang. Kebersamaan ini identik dengan puisi atau Klaib Mafutnekaf Atoin Meto yang berbunyi “Om he tmam talon fatu mese, he fatu nteu ‘bani lo nuakit, he fatu n’isbaiyon lo nuakit” yang sejatinya memiliki makna penting jika kita terapkan dalam upaya bersama membangun TTS.
Bupati sebagai pemegang tongkat komando di Kabupaten TTS yang kerap kali muncul dan menarik perhatian publik harusnya menginisiasi solusi masalah tersebut melalui jalur berbudaya yakni Oko Mama guna duduk bersama makan sirih pinang dan menyelesaikan masalah tersebut dengan meletakkan kepentingan masyarakat di atas segalanya ketimbang berpolemik.
Berawal dari pikiran orang kampung, penulis  memberanikan diri menulis untuk menawarkan jalur tradisi Oko Mama yang dimiliki Kabupaten TTS dan selalu di terapkan dalam berbagai hal dikehidupan masyarakat TTS sehingga tidak salah bila menjalankan tugas pemerintahan daerah baik Eksekutif dan legislatif  berpedoman dengan tradisi yang dimiliki.
Tentunya, budaya Oko Mama yang menyediakan sirih pinang untuk makan bersama selalu elok dan menawarkan jalan keluar untuk pembangunan TTS kedepannya dengan mengutamakan saling menghargai  menghormati dalam berkomunikasi dan tak kalah penting selalu dingin hati dan tidak mudah tersinggung satu dengan lain.
Jika hal tersebut tidak diutamakan dalam perjuangan memajukan TTS maka masyarakat kecil yang selalu menjadi korban permainan para elit.
Oko Mama perlu dijadikan sebagai perantara dalam berkomunikasi antar eksekutif dan legislatif untuk mendapatkan kesamaan paham dalam mengurus TTS jauh lebih baik lagi kedepannya tanpa saling ancam seperti preman jalanan.
Oko Mama untuk Bupati dan penghuni lembaga DPRD yang dimaksud penulis adalah kedua lembaga mari duduk bersama mencari jalan keluar terkait berbagai hal yang terjadi dengan kepala dingin dan tinggalkan ego jabatan suku dan ras karena dengan demikian dapat menemukan jalan keluar untuk memajukan Kabupaten TTS yang selalu diplesetkan sebagai Kabupaten Tetap Tetap Setia atau Tetap Tetap Saja bahkan Tetap Tertinggal Selamanya karena banyak kasus luar biasa yang kerap muncul di kabupaten TTS dan menyayat hati bila disimak dengan nurani.
Kasus-kasus luar biasa seperti gisi buruk, angka stunting yang cukup tinggi, perdagangan manusia dan keracunan makanan.
Tentunya hal tersebut berkontradiksi dengan identitas Kabupaten TTS yang sejatinya merupakan kabupaten gudang ternak sapi paron, kabupaten penghasil Cendana , kabupaten oleh-oleh buah (jeruk, alpukat dan apel), kabupaten penghasil asam dan kemiri yang sudah membuat nama TTS terkenal di dunia nasional bahkan internasional.
Melalui tulisan ini penulis menawarkan tradisi makan sirih pinang yang identik dengan Oko Mama untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi kabupaten TTS.   Artinya, semua pihak harus terlibat berperan penting sesuai dengan tugas dan tanggung masing-masing  yang diemban demi kejayaan Kabupaten TTS kedepannya agar namanya tidak tersohor dengan persoalan negatif.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan menurut penulis yakni dalam menjalankan tugas eksekutif harus berani mengambil langkah konkrit dengan berbagai persoalan begitupun legislatif juga dalam menjalankan tugas harus bersikap obyektif dengan tidak saja mengkritik sesuai tugas pokok dan fungsi tapi harus dibarengi dengan solusi kongkrit terhadap persoalan yang kerap dihadapi bersama sehingga ada penyelesaian yang efektif dan tuntas dan tidak lagi muncul berulang kali dan berulang tahun di bumi Cendana.
Semoga pikiran penulis bisa membantu memberikan jalan keluar untuk para pemangku kepentingan di kabupaten Timor Tengah Selatan kedepan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *