RS Pratama Boking Diduga Didanai Dua Sumber

oleh -3.4K views

Kota SoE, Fakta TTS-Anggaran pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Boking kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tahun 2017 yang dianggarkan dari Dana Alokasi Khusus (DAK) afirmasi kementerian kesehatan sebesar Rp 17,4 miliar, kabarnya dalam pelaksanaan tidak demikian. Proyek tersebut diduga dibiayai dua sumber anggaran.

Fisik proyek yang belum selesai tersebut kabarnya hanya Rp 9 miliar yang dibiayai DAK dan sisanya diduga adalah Dana Alokasi Umum (DAU). DAU sebesar Rp 8 miliar lebih diduga dipakai pemda TTS untuk membayar sisa kurang bayar dari proyek RS tersebut.
Dugaan pengambilan DAU ini kabarnya dilakukan pemda TTS dengan cara mencopot anggaran program kegiatan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk menutup selisih kurang dana Rp 8 miliar lebih untuk menggenapi anggaran pembangunan RS tersebut sebesar Rp 17,4 miliar. Total Rp 17,4 milìar itipun telah lunas terbayar akhir 2017 lalu meski saat itu proyeknya belum selesai.
Demikian sumber di lingkup pemkab TTS, Senin (12/2/2018). Ia menyampaikan pemerintah pusat tidak jadi mencairkan utuh DAK Rp 17,4 miliar itu karena keterlambatan pelaksanaan proyek DAK tersebut. “Juknis DAK, kalau diatas 31 Agustus programnya belum jalan maka dananya tidak bisa cair lagi atau hangus. Proyek itu baru berkontrak di Oktober, tapi dananya bisa cair,”kata sumber.
Bermodal dokumen proses perencanaàn dan pelelangan kata sumber, dinas kesehatan sebagai pemilik proyek akhirnya berhasil memgajukan Surat Permohonan Pencairan (SPP) ke dinas pengelolaan keuàngan dan aset daerah dan dana uang muka pekerjaan sebesar Rp 9 miliar lebih itu akhir dicairkan sebelum kontrak ditandatangani. kontrak kerja baru dilakukan dinas kesehatan TTS dan PT.Tangga Batu Jaya Abadi, Jakarta di bulan Oktober dan fisiknya berjalan. “Bagaimana DAK bisa cair kalau kontrak kerjanya baru dilakukan Oktober, tentu ada apa-apa,”katanya.
Setelah pencairan dana Rp 9 miliar itu kata sumber, jelas bahwa pemda harus mencari dana untuk menutup sisa dana Rp 8 miliar lebih yang telah dibayarkan seluruhnya ke pelaksana proyek di akhir tahun 2017.
Dana Rp 8 miliar itu diduga adalah dana DAU yang telah ditetapkan dalam APBD untuk membiayai sejumlah item program kerja di sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD).
Persoalan lanjutannya tambah sumber, dari dugaan pencopotan dana DAU untuk membiayai pekerjaan fisik RS Boking tersebut menimbulkan kekurangan dana pada item program lain yang dananya diambil tersebut. “Jadi ini istilahnya gali lubang tutup lubang, nanti lihat saja, akan ada proyek lain yang sulit untuk dibayarkan sisa pencairannya karena kuat dugaan dananya tidak utuh lagi karena sudah dipakai untuk tujuan lain,”katanya.
Dikatakan persoalan tersebut biasanya diatasi saat pembahasan perubahan APBD oleh pemda dan DPRD TTS. Caranya dengan memangkas anggaran untuk menutup devisit yang terjadi karena pencopatan-pencopatan anggaran tersebut. “Kalau di penyesuaian tidak bisa karena nanti KUA/PPAS nya bagaimana, jadi hanya bisa disiasati saat pembahasan APBD perubahan,”katanya.
Sekda TTS, Marten Selan yang hendak dikonfirmasi soal ini, Selasa (13/2/2018) tengah menggelar rapat dengan sejumlah pimpinan OPD termasuk dinas kesehàtan dan Kajari TTS di ruang rapat sekda. Rapat tersebut informasinya untuk membahas dana luncuran dari tahun 2017 ke 2018.
Sebelumnya sekretaris dinas kesehatan Barince Yalla mengatakan sumber dana RS Pratama Boking adalah DAK penugasan.
Dihubungi pertelepon Selasa pagi, Barince menolak ditemui karena hendak menghadiri rapat di kantor bupati namun Barince sempat mengatakan bahwa pihaknya hanya memproses pembayaran kepada pihak pelaksana proyek. Soal darimana dana itu, ia sarankan untuk mengkonfirmasi pihak dinas pengelolaan keuangan dan aset daerah. ” bukan mau cuci tangan tapi soal itu tanya ke dinas PKAD saja. Kita hanya memproses pembayarannya saja. Kita tahu uang ada dan kita bayar ke rekanan,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *