YSSP SoE Lakukan Ini di Hari Perempuan Internasional

oleh -2.6K views
Kota SoE,Fakta TTS-Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) SoE, kabupaten Timòr Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar serangkaian kegiatan dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional tanggal 8 Maret dan hari Kartini tanggal 21 April tahun 2018 ini.
Rangkaian aksi tersebut dimulai Kamis (8/3/2018) dan puncaknya pada tanggal 21 April 2018.
Debora Duka, sekretaris YSSP SoE didampingi sejumlah aktifis pemerhati masalah hak perempuan dan anak YSSP SoE kepada wartawan, Kamis (8/3/2018) mengatakan rangkaian kegiatan diawali dengan menemui sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan DPRD kabupaten TTS untuk menggugah komitmen pemerintah maupun DPRD untuk mengatasi persoalan diskriminasi terhadap hak perempuan dan anak seperti kekerasan seksual dan persoalan human traffiking atau perdagangan orang.
“Kami sudah berjuang bertahun tahun bersama sejumlah stakeholder untuk memastikan perempuan itu bermartabat. Namun apa yang kami buat lewat advokasi
masih jauh dari keinginan kami dalam mengimbangi apa yang dibutuhkan masyarakat soal hak perempuan dan anak karena itu YSSP tidak akan berhenti berjuang atas keprihatinan terhadap nasib perempuan dan anak di daerah ini,”kata Debora.
Dinas pemuda dan olahraga (Dispora) yang awal didatangi kata Debora, OPD tersebut telah menyatakan komitmennya untuk mendukung misi YSSP dengan menambahkan program penguatan kapasitas pemuda dalam memerangi human traffiking dan kekerasan sesksual terhadap perempuan dan anak.
Di bagian hukum setda TTS kata Debora OPD tersebut juga menyatakan dukungan dan kerjasama lewat memproses pengesahan Ranperda perlindungan pekerja migran yang hingga kini belum disahkan. “Bagian hukum mau duduk bersama dengan YSSP untuk bagaimana ranperda tersebut bisa jadi perda dan di implementasikan di masyarakat,”katanya.
Di dinas P3A, kata Debora, instansi tersebut menyatakan siap menggandeng dewan anak untuk memperjuangkan penghentian diskriminasi perempuan dan anak. “Mereka juga siap fasilitasui pembentukan KPAD di beberapa desa. Selama ini dana untuk itu dari plan tapi pemda tidak ada,”katanya.
Sementara di Dinas sosial tambah Debora dinas tersebut telah menyatakan kesiapan mereka untuk memfasilitasi pertemuan YSSP dengan pekerja sosial untuk memudahkan para pekerja mendapatkan hak mereka.
Dikatakan Debora, pihak DPRD TTS lewat komisi 1 mengapresiasi upaya YSSP memerangi persoalan diskriminasi hak perempuan-anak dan human traffiking dengan bersedia mengakomodir anggaran untuk keperluan sosialisasi regulasi buruh migran dan anak korban seksual pasca penanganan.
Tak hanya menemui OPD, kata Debora rangkaian kegiatan tersebut juga akan diisi dengan sejumlah kegiatan lain yakni menemui mahasiswa STKIP SoE untuk talk show soal kekerasan seksual. “Ini untuk memastikan Komitken mereka seperti apa soal isu ini,”katanya.
Tak hanya mahasiswa pihaknya kata Debora juga akan menghimpun pelajar sekitar 400 orang untuk mengajak mereka berdebat soal kekerasan seksual yang akan dilakikan diawal April. Di kegiatan tersebut akan dicari pendidik sebaya bagi anak korban seksual.
“Nanti akan ada dialog interaktif di radio juga soal kekerasan seksual dengan sejumlah narasumber dari tokoh agama, pemerintah dan masyarakat,”katanya
Dipuncak acara kata Debora akan di gelar lomba pidato khusus perempuan dengan dua kategori yakni perempuan sosial dari desa dan aktifis perempuan dari OPD. Dalam lomba tersebut peserta harus menyiapkan naskah pidato sendiri dengan temanya ‘Akhiri deskriminasi, kekerasan perempuan dan anak dan stop bajual orang NTT’. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *