28/1/2019 di Aula Mutis, Tonggak Kebangkitan TTS 

oleh -3.5K views
Kota SoE,Fakta TTS-Usai melakukan kunjungan kerja di desa Baki kecamatan Amanuban tengah Senin (28/1/2019) siang, gubernur NTT Viktor Laiskodat melanjutkan agenda  kedinasannya selama tiga hari di kabupaten  TTS dengan melakukan pertemuan dengan jajaran pemerintah  kabupaten TTS dari kabupaten hingga desa di aula Mutis kantor bupati TTS.
Diawal sambutannya gubernur Viktor Laiskodat menyampaikan bahwa pertemuan tersebut harus menjadi tonggak kebangkitan pelayanan pemerintah yang lebih baik dalam pembangunan masyarakat.
“Pertemuan ini menjadi tonggak kebangkitan perilaku pelayanan pembangunan yang lebih bagus bagi masyarakat,”katanya.
Untuk suatu pembangunan yang baik kata gubernur, pemerintah harus memahami benar persoalan yang ada di masyarakatnya. Dari menguasai persoalan masyarakat baru dirumuskan perencanaan penanganannya dengan prinsip efektifitas dan efisiensi penganggarab. Dalam mengimplementasikan rencana yang sudah dirumuskan itu, ia mengingatkan soal pentingnya standar pelayanan yang benar dan pengawasan ketat terhadap pelaksanaan anggaran.
Secara nasional kata gubernur Viktor, NTT ada di peringkat  tiga provinsi miskin di Indonesia  dan Kabupaten TTS merupakan salah satu daerah miskin di provinsi NTT yang pertumbuhan ekonominya kurang baik sehingga butuh penanganan yang lebih serius.
“Ini catatan penting bagi kita untuk berubah. Kalau daerahnya miskin itu berarti pemimpinnya bodoh. Supaya kedepan kita tidak dibilang bodoh lagi maka kita harus kerja keras. Dan malam ini menjadi momen penting untuk kita bergerak. Dari pertemuan ini harus ada energi hebat yang dihasilkan untuk kita melangkah membangun daerah menjadi lebih baik,”katanya.
Ia berharap pemimpin baru TTS, Eppy Tahun dan Army Konay yang kemungkinan dilantik sebagai bupati-wakil bupati TTS yang baru pada Februari 2019 ini bisa melahirjan semangat atau energi positif untuk pembangunan masyarakat kabupaten TTS.
“Bung Eppy dan Bung Army yang kita harap  dilantik pada bulan Februari ini, harus bisa memberikan enegeri positif bagi TTS,”katanya.
Gubernur berharap pemimpin baru TTS bisa membangun sinergi yang bagus dengan pemerintah provinsi dan pusat sehingga derap pembangunan dari pusat hingga daerah bisa sejalan dan terarah.
Dana desa yang menjadi salah satu harapan besar dari pemerintah pusat untuk memperbaiki pertumbuhan ekonomi masyarakat di desa diharapkan menjadi perhatian utama jajaran pemerintah dari kabupaten hingga desa.
Untuk menggerakkan perekonomian di desa dalam rangka mengentaskan kemiskinan kata gubernur Viktor, setiap desa harus membentuk BumDes dan BumDes yang ada harus punya satu produk unggulan yang bisa dipasarkan keluar. Pemerintah harus siapkan pemasaran produk yang dihasilkan BumDes.
“Kantong kemiskinan ada di desa kades berkoordinasi dengan pendamping desa, kecamatan untuk mendesain BumDes secara baik agar satu desa bisa punya satu produk unggulan. Bung Eppy dan Army setelah dilantik juga harus bisa desain ini secara baik, karena kalau ini berjalan baik ekonomi desa pasti akan baik, daerah juga akan lebih baik,”katanya.
Ia kembali mengatakan kalau Kelemahan pembangunan daerah karena perencanaan yang lemah dan implementasi tidak bersinergi dari desa hingga daerah.
Pemerintah daerah harus mampu memresentasikan sebab persoalan dan solusi penanganan kemiskinan secara detail hingga tingkat RT. “Kalau Presiden ke kecamatan kecanlmatan, gubernur ke desa, bupati harus masuk sampai ke RT untuk tahu persis masalah kemiskinan itu apa dan bagaimana solusinya. Masalah di ketahui persis baru rencanakan penanganan secara benar,”katanya.
Terkait penyampaian Plh.bupati TTS Marthen Selan, bahwa target PAD kabupaten TTS tahun 2019 sebesar Rp 92 miliar, ia mengatakan PAD TTS bisa mencapai Rp 100 hingga Rp 120 miliar jika pemerintah mau bekerja keras menggali potensi daerah yang ada.
Gubernur menyampaikan agar Rencana Kerja Anggaran (RKA) 2019 dievaluasi ulang dengan mengedepankan prinsip efisiensi. “Kepala Bappeda (provinsi) saya minta tunggu beberapa hari lagi disini untuk sama-sama desain ini, agar anggarannya benar-benar efisien. Rapat – rapat yang tidak penting dicoret saja, biasanya anggaran itu banyak untuk rapat-rapat dan perjalanan dinas,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *