Elkana Boti Pertanyakan Dana Bergulir Rp 250 Juta Desa Sono, Berniat Lapor Polisi

oleh -1.4K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Beberapa hari setelah dinonaktifkan sebagai kepala desa (kades) Sono, Amanatun Utara kabupaten TTS, Elkana Boti mengungkap persoalan keuangan lain yang diduga terjadi di desa Sono. Bukan dana desa namun soal dana Desa Mandiri Anggur Merah (DeMAM) yang pengelolaannya di anggap tidak jelas. Ia berniat menyampaikan persoalan itu ke polisi untuk ditelusuri.
Kepada fakta-tts.com, melalui telepon Rabu (4/12/2019) malam, Elkana menyampaikan pada tahun 2012 lalu, desa Sono mendapat bantuan dana bergulir Rp 250 juta lewat program DeMAM dari pemerintah provinsi NTT.
Oleh pemerintah desa setempat,  Rp 50 juta dari dana itu digulirkan kepada masyarakat dalam bentuk modal usaha kepada kelompok masyarakat. Sementara Rp 200 juta lainnya dipakai membeli sekitar 48 ekor sapi yang dibagikan ke empat kelompok masyarakat untuk digemukan. “Tiap kelompok dapat 12 ekor, dua betina delapan jantan untuk digemukan baru dijual dan dari hasil penjualan itu, pokoknya dikembalikan untuk digulirkan lagi ke kelompok lain,”katanya.
Pengembalian dana itu kemudian kata Elkana Boti menjadi tidak jelas. Pemerintah kabupaten dan provinsi pernah datang ke desa sono untuk mengklarifikasi hasil program tersebut namun hingga kini tidak jelas pertanggungjawabannya oleh kepala desa waktu itu, Antonius Tiumlafu. “Waktu itu saya ketua RW 03, yang kades Antonius Tiumlafu, saat saya gantikan beliau, pertanggungjawaban dana itu tidak diserahkan sehingga saya anggap tidak jelas dan saya harap ada klarfikasi soal ini juga kepada masyarakat,”katanya.
“Saya juga punya niat untuk laporkan ini ke polisi biar ditelusuri kemana dana itu,”tambah Elkana.
Antonius Tiumlafu yang waktu itu menjabat kepala desa Sono saat dikonfirmasi membenarkan ada bantuan dana DeMAM sebesar Rp 250 juta ke desa Sono untuk digulirkan.
Dijelaskan Rp 50 juta untuk pinjaman usaha kelompok dan Rp 200 juta digunakan untuk membeli sapi yang kemudian dibagikan kepada 10 kelompok tani di desa itu untuk digemukan. “Kita bagi ke sepuluh kelompok,bukan empat, tiap kelompok dapat Rp 12 ekor, dua betina 10 jantan,”katanya.
Antonius mengatakan penggemukan itu dianggap berhasil karena sapi-sapi yang dibagikan sudah dijual dan uang pokok sudah dikembalikan ke desa melalui pendamping program waktu itu yang namanya disebut ‘pak Kase’.  “Kelompok sudah kembalikan uangnya ke desa. Tapi yang terima waktu itu pak Kase, pendampingnya, tapi saya tidak tahu persis berapa uangnya karena pak Kase yang terima,”kata Antonius melalui sambungan telepon.(Jmb)
____________________
Foto: Elkana Boti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *