Pesan Leluhur, Warga Loli Tak Boleh Tebang Dua Pohon Ini, Faktanya ?, Penebasan Meluas, Aparat Bungkam

oleh -1.3K views
Loli, fakta-tts.com – Di tepi kolam ikan air tawar milik salah satu warga di dusun I desa Loli kecamatan Polen kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS),NTT ia duduk sendiri. Raut wajahnya menampakan ada hal yang direnungi.
Wajahnya terangkat, sorot matanya tajam kedepan ketika ada yang menghampiri kesendiriannya.
Tangan kanannya dijulurkan menyambut uluran tangan wartawan fakta-tts.com yang menyalaminya.
Ia tak sungkan mengungkap rasa yang mengganggu pikirannya. “Saya sedih,” kata Marten Mella, menyingkap diamnya di tepi kolam.
Lelaki paruh baya yang tampak mulai keriput itu menurut Kapolsek Polen Ipda Abdul Syukur adalah tokoh adat warga setempat.
Dua kata itu menjadi pembuka perbincangan fakta-tts.com dengan Marten Mella kaitannya dengan pembabatan hutan lindung oleh sejumlah warga di desa itu.
Ia mengatakan aksi penebasan hutan Laob Tunbes yang dilakukan warga beberapa bulan terakhir ini membawa alam pikirannya tentang nasib warga setempat beberapa waktu kemudian. “Saya takut suatu ketika nanti kita disini susah, air saja mungkin kita akan beli, kita beli Aqua karena mata air kita tidak ada lagi, lahan dibawah sana tak bisa dikelola lagi karena kering, air tidak ada. Ini karena hutan kita yang tampung air tidak adalagi, pohon-pohonnya habis dibabat,”katanya sambil menggeleng.
Hutan besar di wilayah dusun 1 dan 2 yang memanjang dari batas kabupaten TTU dan batas desa Loli di sebalah kanan jalan negara arah Kupang kata dia kini ditebas habis-habisan untuk program kehutanan yang tak diketahui jelas tujuannya.
Sejumlah jenis pohon seperti Asam, Gamalin, Kusamni, Kayu putih yang sedari dulu tak pernah dijamah kini batang-batangnya berserakan hanya untuk menjawab program pemerintah dan usulan pemerintah desa ke pemerintah pusat soal pembebasan lahan untuk permukiman warga.
Marten Mella tidak tahu ketika ditanya apakah usulan desa itu sudah dijawab pemerintah pusat atau belum.
“Saya tidak tahu apakah usulan itu sudah dijawab atau belum tapi yang pasti penebangan pohon-pohon besar terus dilakukan warga, saya tak tahu siapa dibelakang penebangan ini, tapi herannya pemerintah desa, kecamatan, kabupaten diam saja,”katanya.
Melihat kondisi alam desa Loli saat ini, Marten teringat pesan leluhur warga Loli soal pentingnya melestarikan alam untuk kelangsungan hidup mereka.
Sesuai pesan yang diterima dari pendahulu kata Marten Mella, mereka bukan dilarang membuka lahan untuk berkebun atau bertani namun ada hal-hal yang tak boleh dilakukan dalam upaya mereka mempertahankan kelangsungan hidup mereka sebagi generasi penerus.

“Yang terjadi saat ini, kita seperti sudah lupa pesan leluhur kita. Kita kebas membabi buta tidak peduli lagi dengan apa yang akan terjadi kemudian hari. Leluhur  kami di Loli sini berpesa boleh bikin kebun dimana dan kapan saja, Semua pohon bisa tebang tapi pohon kayu putih dan Kusambi tak boleh ditebang karena itu sumber pendapatan kami di Loli,”katanya.

Ia mengatakan pohon Kayu putih dan Kusambi dipesan oleh leluhur tak boleh ditebang karena dua pohon itu adalah sumber sari bagi lebah penghasil madu.
“Dari sari kedua pohon itu lebah punya madu, dan kita ambil madu lebah untuk kita jual, pak boleh lihat sendiri ini desa tempat orang jual madu, karena memang sumbernya dari dua pohon itu yang banyak disini, kalau ditebang habis bisa dibayangkan bagaimana jadinya nanti kita disini,”keluhnya.
Ia tidak bisa memperkirakan berapa banyak pohon kayu putih dan Kusambi yang sudah ditebas. “Yang ditebas sekarang ini tak terhitung tapi saya dengar yang mau ditebas untuk program pemerintah itu sekitar 200 hektare panjangnya sekitar tiga atau empat kilometer sepanjang batas desa dan batas kefamenanu,”katanya.
Ia mengatakan sejumlah upaya telah dilakukan warga untuk menghalangi aksi penebasan namun upaya melapor ke polisi, camat dan pemerintah kabupaten TTS seakan menimpa ruang kosong, tak ada hasil.
Kimas Angket, pemuda setempat mengatakan warga kini menjadi jenuh menyampaikan persoalan itu ke para pemangku kebijakan di daerah karena tak pernah ada upaya atau sikap nyata dari pemerintah terhadap aksi tersebut.
“Kita sudah jenuh untuk melapor. Soal ini kita sudah berulangkali lapor, polisi, camat, dinas kehutanan sudah kita sampaikan tapi apa?, Aksi tetap terjadi. Sepertinya ada orang kuat yang punya kepentingan disini,”kata Kimas yang berniat akan mencoba kembali melapor ke polisi soal penebasan kawasan hutan Laob Tunbes tersebut.
Kepala desa Loli, Yupiter Mella terkesan cuci tangan, tak tahu menahu soal apa yang terjadi di desanya.
Kepada fakta-tts.com ia mengatakan penebasan itu adalah inisiatif sendiri masyarakat setempat setelah mengikuti sosialisasi pihak kementerian kehutanan, dinas kehutanan provinsi dan kabupaten TTS, Oktober 2019 kemarin.
Dikatakan pihaknya tidak berani melarang karena itu terjadi atas sepengetahuan pemerintah pusat, provinsi dan kabupaten TTS.
Dikatakan penebasan tersebut adalah bagian dari upaya pelaksanaan program Hutan Tanaman Rakyat (HTR) dari dinas kehutanan provinsi NTT.
Dalam program tersebut warga yang menempati lahan itu diberikan anakan pohon untuk ditanam sebagai pengganti pohon yang ditebang.
 “Mereka tebas terus nanti tanam kembali anakan yang dikasih dinas kehutanan, kelompok yang tanam dapat uang Rp 30 juta, ada 9 kelompok tapi yang sudah dapat uang satu kelompok saja,”katanya.
Dikatakan usulan pembebasan lahan kawasan hutan untuk program tersebut sudah disampaikan tahun 2018 lalu namun pada Oktober 2019 baru dilakukan sosialisasi oleh pihak kementerian kehutanan, dinas kehutanan NTT dan UPT dinas kehutanan TTS kepada masyarakat di kantor desa Loli. “Setelah sosialisasi itu warga mulai tebas, tidak ada yang suruh atau instruksi, itu mereka tebas setelah sosialisasi di kantor desa,”kata kades Yupiter Mella yang membantah mendapat uang dari warga yang memperoleh lahan hasil penebasan tersebut. Ia juga membantah kayu hasil penebangan pohon dijual ke kabupaten TTU dan Kupang. “Kayu-kayu masih ada di lokasi, ada yang bikin jadi pagar, tidak ada yang jual,”katanya.
(Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *