126 Desa di TTS Terancam Kekeringan, Keluhan Warga Belum Seheboh Tahun Lalu

oleh -421 views
Kota SoE, fakta-tts.com – Kekeringan kini mengancam sebagai besar wilayah kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Data Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) kabupaten TTS hingga pertengahan Oktober 2020 ini terdata ada 126 desa di 26 dari 32 kecamatan di TTS mengalami ancaman kekeringan. Jumlah desa di TTS sebanyak 266 dan 12 kelurahan.
“Titik kekeringan berdasarkan data BMKG dan hasil pantauan kami, ada 126 desa di 26 kecamatan yang menghadapi ancaman kekeringan. Tapi itu bukan di semua desa dalam satu kecamatan. misalnya di satu kecamatan hanya titik-titik tertentu dalam dusun-dusun yang mulai kesulitan air karena sumber air kering,”kata Kepala BPBD TTS, Ady Tallo kepada fakta-tts.com, Jumat pagi di kantornya.
Beberapa kecamatan yang seingat Ady Tallo masuk dalam 26 kecamatan yang terancam kekeringan yakni kecamatan Amanuban barat, Batu putih, Noebeba, Kuanfatu, Amanuban selatan, Kualin, Amanuban tengah KiE, Amanuban timur, Oenino, Amanatun Selatan, Toianas, Kokbaun, Molo barat, Molo selatan, Molo tengah, Nunbena dan lainnya.
Ia mengatakan meski jumlah titik ancaman kekeringan tersebut lebih banyak dibanding tahun lalu namun tingkat pengeluhan warga tidak seheboh tahun lalu. Pihaknya melihat warga belum terlalu mengeluhkan air bersih karena distribusi air gratis menggunakan mobil tangki yang lagi digencarkan pihak BPBD mulai dua pekan lalu, adanya penambahan sumber air di Ibukota kecamatan (IKK) dari dinas PRKP, ada pembagian air gratis dari instansi dan partai politik tertentu dan pribadi oknum DPRD TTS yang tengah berlangsung di lapangan.
Disampaikan distribusi air dari pihak BPBD kabuoaten TTS menggunakan dua mobil tangki milik BPBD dan dinas PRKP akan terus dilakukan hingga musim hujan tiba.
Kami akan terus distribusi hingga musim penghujan tiba. Pembagian itu berdasarkan data titik-titik kekeringan yang kami pegang. Dalam satu hari sekarang ini, kami bisa distribusi minimal di dua titik,”katanya.
Dalam pendistribusian itu kata Ady Tallo pihaknya terkendala dengan jarak titik kekeringan dengan sumber air terdekat yang ada di wilayah setempat. “Dalam sehari kami minimal dua titik karena tergantung jarak dengan sumber air, akses jalan menuju titik kekeringan juga menjadi persoalan penting yang kami alami di lapangan,”katanya.
Sesuai data perkiraan dari BMKG yang diperoleh kata Ady Tallo, rentang waktu kekeringan ekstrim di TTS tahun ini tidak sepanjang tahun lalu. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *