Nama Dicoret Sebagai Penerima Rastra, Penghuni Rumah Reot di Nonohonis Kaget Disambangi Kapolres & Ketua PDIP NTT

oleh -3.8K views
Kota SoE, fakta-tts.com -Simson Nenabu bersama isterinya Juliana Bana dan seorang puteranya tak menyangka kalau Selasa (8/5/2020) siang rumah mereka di RT01/RW02 kelurahan Nonohonis akan disambangi orang penting.
Sekitar pukul 12.00 wita rumah bebak berlantai tanah yang tampak miring dan nyaris roboh itu disambangi rombongan Kapolres TTS AKBP Aria Sandi,S.IK, ketua DPD PDIP NTT, Ir. Emy Nomleni, ketua DPC PDIP kabupaten TTS Mordekai ‘Deky’ Liu dan pemuda gereja Batu Karang Nonohonis.
Kedatangan rombongan Kapolres Aria Sandi dan Emy Nomleni yang juga adalah ketua DPRD NTT ini untuk menyerahkan bantuan Sembako dari program Bhakti sosial pemuda Gereja Batu Karang Nonohonis bekerja sama dengan pihak Polres dan PT Tri Gama.
Begitu rombongan tiba, seorang perempuan paruh baya tiba-tiba keluar dari dalam rumah yang nyaris tertutup belukar itu. Perempuan yang tak lain adalah Juliana Bana, isteri Simson, tampak tergesa-gesa keluar setelah menyahut suara yang memanggil dari luar rumah.
Beberapa saat berselang muncul Simson dan puteranya berusia sekolah dasar.
Raut kebingungan terpancar dari pasangan suami isteri ini sebelum mendengar penjelasan dari salah seorang pemuda gereja kalau kedatangan rombongan tersebut untuk berbagi kasih dalam rangka membantu warga yang kurang mampu ditengah pandemi Covid-19.
Ketiganya lalu diberikan masker untuk dikenakan sebelum menerima bantuan tersebut.
Keduanya tak banyak ucap, hanya ucapan terimakasih setelah menerima bingkisan beras, telur dan sejumlah jenis bahan makanan yang diserahkan Kapolres Aria dan Emy Nomleni. Mata Simson tampak berkaca usai menerima bingkisan tersebut.
Albinus Kase di dampingi ketua majelis jemaat Gereja Batu Karang Nonohonis menyampaikan kepada Kapolres Aria dan Emy Nomleni kalau keluarga Simson adalah salah satu KK di jemaat tersebut yang sudah masuk data jemaat setempat untuk mendapatkan bantuan rumah dari gereja.
Kepada fakta-tts.com, Simson mengaku sangat gembira dengan bantuan yang didapat tersebut karena dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka.
Bantuan semacam itu baru pertama kali didapat sejak ia tinggal di wilayah itu tahun 1993 lalu.
Disampaikan petani ini bahwa sejak menempati rumah itu ia pernah mendapat bantuan raskin (kini rastra) dari pemerintah kelurahan. Namun bantuan rastra itu tidak didapat lagi sejak tahun 2011. “Sejak tahun 2011 saya tidak dapat raskin, nama saya tidak keluar lagi, sudah dicoret karena bilang tanah ini tidak jelas,”kata Simson yang kini hanya mengandalkan hasil kebun untuk memenuhi kebutuhan isteri dan seorang anaknya yang duduk di kelas dua SD.
Simson juga mengaku tidak tahu soal pendataan warga penerima Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tengah dilakukan pemerintah. “Saya tidak tahu itu, karena belum ada (petugas) yang datang ke rumah,”katanya.
Usai memberikan bantuan APD di RSUD SoE, kepada fakta-tts.com, Emy Nomleni mengatakan pendataan warga penerima BLT yang kini tengah dilakukan pemerintah harus dilakukan secara akurat dilandasi kejujuran dan kepedulian nurani, sehingga warga yang didata benar-benar adalah warga yang layak menerima. “Pendataan sementara dilakukan pemerintah ditingkat bawah dan kami harapkan pendataan itu dilakukan secara jujur dan kepedulian nurani sehingga yang layak dapat bantuan yang didata,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *