Pansus ke Tetaf, Desa Pilot Projec Penanganan Stunting yang Batal Dikunjungi Presiden 

oleh -1.1K views

Tetaf, fakta-tts.com – Desa Tetaf di kecamatan Kuatnana kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ditetapkan pemerintah sebagai pilot projec penanganan stunting di provinsi NTT tahun 2019.

Kabar keberhasilan menurunkan angka stunting di desa Tetaf itu menarik perhatian presiden Ir. Joko Widodo untuk melihat langsung kondisi lapangan. Awal tahun 2020 atau Beberapa bulan sebelum pandemi Covid-19, presiden Joko Widodo dijadwalkan datang ke desa Tetaf, namun kemudian agenda presiden itu tidak terlaksana.
Persiapan Pemda TTS untuk menyambut presiden cukup tampak terlihat. Sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD) lintas sektor diinstruksikan bupati Egusem Piether Tahun,ST,MM dan wakilnya Jhony Army Konay,SH untuk bergerak melakukan intervensi langsung sesuai tupoksi masing-masing demi memantapkan status keberhasilan program penanganan stunting di desa Tetaf.
Dalam kunjungan anggota DPRD TTS yang tergabung dalam tim pansus LKPj bupati TTS tahun 2019, Jumat (19/6/2020) terkuak sedikit hal yang terjadi soal bentuk intervensi Pemda melalui OPD di desa Tetaf.
Yusuf Soru (wakil ketua DPRD), Marten Tualaka.(ketua pansus), Uksam Selan (wakil ketua pansus, Habel Hoti, Lorens Jehau, Matheos Lakapu, Lusianus Tusalak dan lainnya kaget setelah mendengar penuturan kades Tetaf, Julius Talan.
“Persiapannya wah, OPD lintas sektor diinstruksikan intervensi langsung dengan alokasi anggaran kesini (desa Tetaf) sesuai bidang masing-masing, ternyata begini kondisinya,”kata Marten Tualaka.
Dari kades Julius Talan, pansus mendapat informasi kalau sejumlah dinas tekhnis seperti dinas pertanian, peternakan dan perikanan memberikan intervensi program namun realisasinya dilapangan bikin pansus sangsi kalau apa yang dilakukan tiga OPD itu berpengaruh signifikan untuk mengatasi persoalan stunting di desa itu yang awalnya cukup tinggi.
“Dinas perikanan kasih benih Ikan nila 500 ekor ke desa dan kita buat kolam dua tapi setelah itu yang di kolam satu dicuri. Terpal ditusuk bikin bocor dan ikan diambil entah oleh siapa, kalau yang dikolam satunya lagi ada yang mati, sekitar 100 ekor. Kalau dari dinas peternakan hanya buat kandang tapi ayamnya sampai sekarang tidak ada. Kalau dinas pertanian, bantuan bibit sayur dan lainnya langsung ke kelompok tani tanpa lewat desa jadi kami tidak tahu. Hanya itu yang saya tahu soal intervensi dinas untuk tekan angka stunting disini,”kata kades.
Kades Talan menambahkan tahun 2019 itu pemerintah desa juga mengalokasikan anggaran dari Dana Desa namun itu hanya untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi anak-anak kurang gizi. Untuk program lain dibidang pertanian, perkebunan dan program lain yang sifatnya peningkatan gizi warga baru dianggarkan tahun ini. “Bantuan program pemerintah kabupaten ke desa untuk stunting ini tidak ada yang lewat desa, bantuan programnya langsung ke salah satu kelompok tani yang ada disini,”kata kades Talan yang kemudian bersama tim pansus melihat langsung kondisi kolam ikan dan lahan perkebunan yang disiapkan warga di samping kantor desa Tetaf.
Meski penanganan stunting oleh desa hanya sebatas pemberian PMT namun kata kades Talan, angka stunting di desa itu menurun dari sebelumnya di tahun 2019 berjumlah 243 orang, kini tersisa 170-an orang.
Dari kepala puskesmas Tetaf, Abner Benu, pansus memperoleh informasi kalau dalam rangka penurunan angka stunting di kecamatan Kuatnana, pihak puskesmas berkoordinasi dengan pemerintah desa untuk pemberian makanan tambahan bagi anak kurang gizi. Nama anak yang diintervensi direkomendasikan desa. Tiap desa diintervensi 15 orang anak. Tahun 2019 lalu kata Abner Benu angka stunting di Kuatnan sebanyak 1.200-an anak namun data terkini angka stunting di Kuatnana hanya tersisa 900 orang.
Dalam penanganan stunting itu kata Kapus Abner, selain pemberian PMT rutin, pihaknya fokus pada pelayanan gizi di1.000 hari pertama dan sejumlah program pelayanan lainnya.
Penanganan stunting itupun kata kapus Abner dipilah-pilah dengan didasarkan pada berat badan dan usia, tinggi badan dan usia.
Dari puskesmas dan kantor desa Tetaf, Pansus juga melihat langsung kondisi pos kesehatan hewan di desa Tetaf. Didapati di pos kesehatan hewan tersebut tak ada petugas. Kedatangan pansus kaitannya dengan dua sapi Insiminasi Buatan (IB) milik warga setempat yang mati pekan lalu jelang melahirkan. Pansus mempertanyakan anggaran pelayanan kesehatan sapi IB oleh dinas peternakan.
Kadis peternakan Benyamin Billi yang dikonfirmasi pertelepon mengatakan pos kesehatan hewan tersebut wajib ditempati petugas pada Senin dan Jumat. Hari lainnya petugas berada di lapangan untuk melaksanakan tugas layanan kesehatan hewan. Jumat hari ini dua petugas tidak berada di pos itu karena yang satunya cuti melahirkan dan satunya sementara mengambil vaksin di SoE.
Dari Pos kesehatan hewan, pansus ke kantor camat Kuatnana dan meihat kondisi rumah dinas camat yang tidak ditempati sejak selesai dikerjakan sekitra tahun 2017 lalu. “Setelah pelantikan, bupati perintahkan semua camat untuk wajib menempati rumah dinas yang ada, tapi faktanya, kita temukan seperti ini. camat tidak tinggal di rumah dinas meski isi rumah lengkap,”kata Marten Tualaka.
Camat Kuatnana tidak berada di kantornya saat kedatangan pansus.(Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *