Polisi Identifikasi 3 Oknum Penggerak Massa ke Lokasi Bendungan Temef

oleh -2.8K views
Oenino, fakta-tts.com – Puluhan warga terdampak pembangunan Bendungan Temef di desa Konbaki wilayah kecamatan Oenino kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang Senin (27/7/2020) pagi sekitar pukul 10.00 wita masuk ke lokasi proyek pembangunan Temef dan memblokade jalan masuk ke titik pekerjakan PT. Nindya – Bina Lestari, KSO menggunakan tali daun Gewang, sudah membubarkan diri dan keluar dari lokasi proyek sekitar pukul 15.00 wita.
Sekitar 30 warga itu membubarkan diri setelah bertemu dan mendapat penjelasan dari  Kapolsek Polen Iptu Abdul Syukur dan beberapa anggotanya yang turun ke lokasi setelah mendapat laporan dari pihak perusahaan pelaksana pekerjaan.
“Ada sekitar 30 orang yang ada di lokasi itu dan mereka sudah bubar setelah kita jelaskan terkait dengan apa yang mereka aspirasi kan itu,”kata Iptu Abdul Syukur di Mapolsek Polen, Senin sore.
“Kami jelaskan kalau pihak perusahaan itu hanya pelaksana kegiatan saja, kalau soal bayar ganti rugi lahan itu penyampaiannya ke pemerintah karena itu tak boleh halangi aktifitas di lokasi. Mereka paham dan terima itu sehingga mereka bubar. Nanti ada pertemuan lanjutan dengan pihak kecamatan, rencananya sore ini (Senin) di kantor camat,”tambahnya.
Iptu menjelaskan aksi warga yang tidak sampai menghentikan aktifitas proyek itu bukan inisiatif spontan dari warga namun ada oknum-oknum dari dalam dan luar desa Konbaki yang menggerakkan. Dan polisi kata Iptu Abduksyukur sudah mengidentifikasi tiga oknum warga yang menggerakkan puluhan warga tersebut. Ketiga warga yang diduga menggerakkan massa ke lokasi itu berinisial VL, warga luar kecamatan Polen, EF, warga Polen dan GT dari desa Konbaki,Polen.
“Ada 3 warga yang menggerakkan, memanas-manasi sehingga warga datang kesana, kita sudah tahu siapa mereka,”kata Kapolsek Abdul Syukur yang menyebut tiga nama oknum tersebut.
Sebelumnya informasi yang diperoleh fakta-tts.com bahwa kedatangan warga itu sebagai reaksi atas janji pemerintah membayar ganti

rugi pemanfaatan lahan mereka yang kini sudah dipakai untuk pembangunan bendungan tersebut. Pekerjaan proyek sudah dimulai dari akhir 2017 lalu.
“Kami kecewa karena belum dibayar juga sampai sekarang padahal pekerjaan sudah jalan. Kami hanya dapat janji saja, kami harap segera dibayar karena lahan kami sudah dipakai,”kata Lukas Taifa didamoingi belasan warga lain dititik jalan masuk yang dipasang tali gewang.
Soleman Tasoin mengatakan jangankan pembayaran ganti rugi, pengukuran lahan warga yang masuk area saja belum dilakukan pemerintah.
Lukas Taifa menambahkan semua lahan warga desa Konbaki yang masuk area bendungan belum diukur. “Kami hanya tahu lahan kami masuk dalam area tapi luasnya berapa kami belum tahu karena sampai saat ini belum diukur juga,”katanya.
Aminadab Teflopo, warga pemilik lahan yang sempat menjadi saksi di persidangan gugatan ganti rugi lahan di PN SoE mengatakan kedatangan mereka ke lokasi itu karena diarahkan kepala dusun 3 Nuna, Gideon Tefnai. Tali yang menutup akses masuk tersebut kata warga dipasang kepala dusun Gideon Tefnai.
Pihak pelaksana proyek, Nindya-bina Nusa lestari,KSO melaku Eka Putera, divisi Keselematan Kesehatan Kerja (K3) mengatakan soal ganti rugi lahan tersebut adalah tanggungjawab pemerintah. Pihaknya hanya melaksanakan fisik. Dan kini Progres fisik sudah mencapai sekitar kurang lebih 60 persen (paket 2) sejak dikontrakkan tahun 2017 lalu. Masa kontrak berakhir tahun 2024.
Aksi warga tersebut disampaikan Eka, tidak menggangu aktifitas proyek.
“Aktifitas kami tetap jalan, tidak mengganggu,”katanya.
Pihak pemerintah belum berhasil dikonfirmasi soal pembayaran ganti rugi pemanfaatan lahan tersebut.
Kadis PRKP kabupaten TTS, Jack Benu yang dikonfirmasi wartawan pertelepon mengatakan soal pembayaran ganti rugi lahan itu urusan Balasli Sungai Wilayah II sebagai pemilik proyek. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *