Putus-Sambung Pipa Air ke Hoineno-Nunkolo, Sekdes Fat: “Perlu Pertemukan ‘Tomas’ 4 Desa”

oleh -706 views
Kota SoE, fakta-tts.com – Persoalan distribusi air dari mata air Naunmenu di desa Fat ke desa Hoineno dan Nunkolo di kecamatan Nunkolo kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) belum selesai.
Pemda TTS melalui dinas PRKP sudah beberapa kali ke lokasi untuk memperbaiki jaringan yang putus untuk normalkan aliran air dari sumber air di Fat itu ke Hoineno dan Nunkolo. Namun persoalan putus jaringan pipa ke dua desa itu masih berulang. “Barusan kades (Fat) telepon bilang pipa barusan putus lagi jadi air tidak mengalir (ke Hoineno-Nunkolo).Kemarin (Kamis 25/6/2020) ada uji coba aliran air ke Hoineno dan Nunkolo tapi air tidak samai kesana,”kata sekretaris desa (sekdes) Fat, Mell Halal di redaksi fakta-tts.com, Jumat (26/6/2020) malam.
Mell mengatakan persoalan saluran transmisi yang sering putus itu bukan pada jaringan di wilayah desa Fat namun jaringan ke wilayah desa Hoineno dan Nunkolo. Karena itu ia membantah keras kalau dikatakan air dari sumber air tersebut tidak bermanfaat bagi warga desa Fat. “Yang bilang program itu mubazir, bagi kami di Fat tidak seperti itu, kami nikmati air dari jaringan itu kok, yang putus-putus itu jaringan yang ke Hoineno dan Nunkolo di RT 1. Saluran transmisi dalam wilayah desa Fat tidak ada masalah karena selama ini masyarakat RT 3 dan 4 nikmati air dari sumber air,”katanya.
Soal pernyataan kadis PRKP bahwa ada pipa dekat kantor desa Fat yang disumbat oknum warga sehingga air tidak mengalir ke Hoineno dan Nunkolo, Mell mengakui hal tersebut dan menurutnya penyumbatan itu harus dilakukan agar air tidak terbuang percuma akibat jaringan pipa ke Hoineno yang terputus. Aliran air yang deras diduga sebagai penyebab terputusnya jaringan itu.
“Sekitar Januari atau Februari itu pipa depan kantor desa putus karena diduga air keras. kita mau tarik pipa dari Hoineno itu untuk sambung kembali tapi tidak bisa sehingga disumbat supaya air tidak terbuang. Kita sumbat sementara sambil menunggu perbaikan pipa yang rusak karena proyek jalan di Hoineno.
Dikatakan putus-sambung jaringan pipa ke Hoineno dan Nunkolo itu mulai terjadi Desember 2019 setelah proyek itu selesai dikerjakan 27 Desember 2017.
“Putus pertama Desember 2019 terus disambung, kemudian putus lagi di bulan februari 2020, kita sambung lagi. Sekitar pertengahan April ketika ada proyek jalan di Hoineno, alat berat gali saluran kena pipa jadi putus lagi. Jaringan yang rusak itu sekitar 30 meter,”katanya.
Persoalan terputusnya jaringan pipa akibat pekerjaan proyek tersebut kata Mell baru disampaikan warga saat musyawarah penetapan BLT dengan camat Nunkolo tanggal 6 Mei di kantor desa Fat. “Maka dari situ kita dengan kades sepakat untuk dob (tutup) tahan sampai ada perbaikan pipa di Hoineno itu.
Setelah itu dari dinas sempat perbaiki pipa yang rusak di Hoineno tapi tidak disampaikan ke desa Fat sehingga kita belum sambung kembali jaringan ke Hoineno itu. Jadi pansus ke Fat itu memang air ke Hoineno belum jalan karena pipa belum sambung kembali,”katanya.
Mell mengatakan persoalan air dari Fat ke Hoineno dan Nunkolo yang tak kunjung normal sejak 2019 itu tidak cukup kalau hanya diatasi dengan perbaikan jaringan yang putus. Persoalan sosial budaya masyarakat setempat juga mesti jadi pertimbangan pemerintah dalam menyelesaikan persoalan tersebut. “Sepertinya faktor sosial budaya masyarakat disana juga perlu diperhatikan dalam menyelesaikan persoalan itu. Itu air ada di wilayah Fat tapi keluarnya dari desa Putun, lahan keluarga Otu. Saat proyek mau dikerjakan keluarga awalnya keberatan. Akhirnya mereka mau tapi hanya untuk di Fat saja. Awalnya memang hanya di Fat tapi kemudian jaringan dibuka lagi ke Hoineno dan Nunkolo. Karena itu menurut saya, pemerintah mungkin perlu untuk pertemuan tokoh masyarakat (tomas) empat desa ini, Putun, Fat, Hoineno dan Nunkolo untuk makan sirih pinang bersama, bicara soal distribusi air ini,”katanya.
Pemerintah kecamatan Nunkolo kata Mell bisa ambil peran untuk mempertemukan tokoh masyarakat dari empat desa tersebut. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *