Man Bansae Buat Jalan 1,5 Km

oleh -430 views
Man Bansae

Tubuhue, Fakta TTS – Tidak semua kita mau melakukan sesuatu untuk kepentingan banyak orang dengan kerelaan mengeluarkan banyak uang, tenaga dan waktu untuk kepentingan banyak orang tanpa ada timbal balik yang sepadan dengan yang kita korbankan. Keuntungan secara ekonomis ataupun keuntungan secara politik adalah kalkulasi pasti yang kita pikirkan saat kita akan melakukan hal baik untuk kepentingan banyak orang itu.

Namun itu sepertinya bukan menjadi pertimbangan mendasar bagi seorang Nabopolasar Bansae, warga desa Tubuhue kecamatan Amanuban barat kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Dengan kemampuannya ia telah melakukan sejumlah hal yang punya manfaat besar bagi banyak orang di sekelilingnya.

Beberapa tahun lalu ia memberikan tanahnya kepada masyarakat untuk membuat kebun yang dikelola bersama. ada sekitar empat kelompok tani di desa itu yang kini mengelola lahan kebun berluasan sekitar empat hektare itu. dalam lahan kebun itu juga ada sejumlah kolam ikan air tawar yang kini masih terpelihara. Tak hanya itu sebuah gedung gereja megah di desa itu juga tak lepas dari sumbangsih Nabopolasar Bansae.

Yang menarik sumbangsih yang ia buat untuk kepentingan banyak orang itu dilakukan mengandalkan apa yang ia miliki hasil usahanya sebagai warga biasa, bukan pejabat pemerintah, bukan politisi, bukan juga sumbangan dari pihak ketiga atau LSM donatur yang memanfaatkan dirinya untuk menyalurkan bantuan kepada masyarakat.

Nama Man Bansae, sapaan Nabopolasar Bansae, cukup dikenal di kabupaten TTS. Sepak terjangnya yang kerap ekstrim dengan turun ke jalan melakukan aksi demonstrasi menentang kebijakan pemerintah yang tidak pro rakyat membuat Man dikenal luas di lingkungan birokrasi, politisi dan aktifis sosial masyarakat.

Beberapa tahun belakangan Man seperti menghilang dari aksi turun jalan mengkritik pemerintah. apa yang dilakukan Man saat ini?

Sabtu (16/11/2017) Fakta TTS ke Tubuhue untuk mencaritahu realisasi pelaksanaan anggaran dana desa setempat tahun 2016. Tak ada aparat desa yang terlihat beraktifitas di kantor desa. Justeru informasi yang disampaikan warga Heni Selan bahwa ada aktifitas pembuatan jalan baru di wilayah dusun C menuju desa Haumenbaki namun ia tidak mengetahui jelas perihal pelaksanaan pembuatan jalan itu apakah program dana desa atau bukan.

Fakta TTS kemudian menelusuri jalan dari belakang gereja GMIT sesuai arah yang ditunjukan Heni Selan soal posisi jalan yang sementara dikerjakan warga menggunakan alat berat itu.

Sekitar 100 meter dari gereja, yang ditemui justeru Man Bansae bersama sejumlah warga diantaranya Kuncur Benu tengah menyaksikan eksafator dan dua truk dump beraktifitas membuat jalan.

Aleks, warga setempat mengatakan inisiatif pembuatan jalan itu datang dari Man Bansae dan setahu dia pembuatan jalan sepanjang 1,5 meter dengan lebar 4 meter itu bukan menggunakan anggaran negara tapi dari Man Bansae. “ini bukan proyek pemerintah, ini jalan kami buat sendiri. om Man yang atur ini semua termasuk alat berat dan truk-truk ini, kita bantu kerja saja karena dengan jalan ini warga dibawah sana bisa gampang angkut hasil ke SoE karena kendaraan bisa masuk. sebelumnya ini jalan setapak,”kata Aleks.

Man mengatakan ia tergerak untuk membuka akses jalan itu menjadi lebih baik untuk kelancaran transportasi karena prihatin melihat akses sekitar 300 Kepala Keluarga (KK) warga dusun C desa Tubuhue yang sulit jika ingin membawa hasil pertanian mereka ke ibukota karena jalan itu tidak bisa dilalui kendaraan bermotor apalagi saat musim hujan.

Ia mengaku suatu sore di tahun 2009 lalu, ia bersama Paul Mella (bupati TTS saat ini) dan Benny Litelnoni (wagub NTT saat ini) yang kala itu tengah bersosialisasi sebagai calon bupati dan wakil bupati TTS pernah turun ke dusun itu dan kepada warga yang menerima mereka keduanya berjanji akan membuat jalan itu menjadi lebih baik. namun sekitar tujuh tahun berlalu, janji itu tak kunjung terealisasi. maka sebagai sesama warga ia merasa punya beban moril terhadap janji itu sehingga kala ia memiliki kelebihan biaya ia mencoba semampunya mewujudkan janji itu. “saya masih ingat janji itu sehingga pas saya punya uang saya sewa eksavator ini beberapa hari untuk membuat lebar jalan ini. kebetulan tanah ini cukup bagus dipakai sebagai sertu jadi hujan begini tidak berlumpur,”kata Man yang mengaku menyewa alat berat itu Rp 15 juta untuk membuka jalan sepanjang 1,5 kilometer dengan lebar empat meter.

Jalan yang dibuat itu menghubungkan dusun C desa Tubuhue dengan kampung Oetune desa Haumenbaki. Jalan itu juga menjadi alternatif bagi warga desa Haumenbaki di kampung itu jika ingin ke Kota SoE. Jalur itu kata Man memperpendek jarak tempuh warga dari kampung Oetune ke SoE sekitar empat kilometer. “dari kampung Oetune lebih cepat ke SoE kalau lewat sini dibanding lewat Haumenbaki,”katanya.

Dengan adanya jalan itu kata Man, warga bisa lebih mudah dan cepat sampai di ibukota TTS untuk memasarkan Jagung dan Padi hasil kebun dan sawah mereka.

“selama ini warga disana jalan kaki sampai di kami sini baru naik ojek ke SoE, kalau ini jalan sudah jadi kendaraan bisa masuk terus sampai di Oetune sana dan mereka bisa lebih gampang ke SoE,”katanya. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *