‘Suna Likaf’ Manufui, Punya Khasiat Kesehatan, Begini Cara Buatnya

oleh -3.9K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Kecamatan Boking turut berpartisipasi dalam event pameran pembangunan dan festival budaya yang dihelat Pemda Timor Tengah Selatan (TTS) tahun ini di lapangan Puspenmas Kota SoE.
Ada beragam produk usaha lokal yang ditampilkan pemerintah kecamatan Boking untuk dikenalkan kepada masyarakat luas. Salah satunya usaha memproduksi minuman keras (Miras) lokal beralkohol yang dibuat warga desa Fatumanufui.
Miras ini oleh warga setempat diberinama Suna likaf. Miras tradisional ini dikatakan warga pembuat memiliki khasiat kesehatan karena diramu dengan sejumlah akar, batang dan buah sejumlah jenis pohon yang mengandung khasiat kesehatan.
Kepada fakta-tts.com, Kamis (29/8)2019) di stand kecamatan Boking, Tinus Lopsau dan Melkisedek Baunlaka menjelaskan miras tersebut mengandung unsur penyembuh luka dalam dan tidak merusak lambung jika dikonsumsi teratur.
“Ada akar jenis pohon tertentu yang khasiatnya untuk sembuhkan luka dalam, sakit lambung dan lainnya,”kata Lopsau.

Melkisedek Baunlaka dan Tinus Lopsau mengatakan dengan potensi bahan baku berupa pohon Gewang dan Lontar di kecamatan Boking yang melimpah telah menarik mereka untuk memproduksi miniman tradisional beralkohol tersebut yang telah menjadi warisan leluhur mereka. Sunalikaf merupakan salah satu jamuan wajib dalam prosesi adat warga setempat. “Bahan bakunya banyak dan sejak dahulu leluhur kami sudah masak ini karena dalam setiap acara adat harus ada ini,”kata Lopsau.

Proses pembuatan minuman tradisional ini menurut keduanya tidak rumit dengan bahan baku berupa nira pohon Lontar atau gewang. hanya membutuhkan waktu sekitar dua malam untuk menghasilkan berliter-liter Sunaflikaf yang kemudian  dipasarkan di sekitar kecamatan Boking dan kabupaten TTS pada umumnya.
Dijelaskan Tinus dan Melisedek setelah nira Lontar atau Gewang didapat, kemudian nira tersebut dicampur dan direndam dengan delapan (8) jenis akar pohon yang punya khasiat kesehatan sendiri-sendiri. Misalnya sebut Lopsau, ada buah dan akar  sirih hutan yang berkhasiat menyembuhkan luka dalam, batang pohon Nainese (sebutan lokal) untuk cuci ginjal dan lainnya.
Cairan Nira dan akar-akaran pohon tersebut dicampur dan direndam dalam wadah selama dua malam. Setelah itu disaring dan hasil penyaringannya di masukan dalam wadah berupa Periuk tanah untuk dipanaskan menggunakan kayu bakar.
Dari mulut atau permukaan Periuk tanah  tersebut disambungkan dengan batang bambu sekira lima meter untuk mengalirkan uap dari ramuan yang dipanaskan ke wadah berupa botol dan jerigen. Proses ini disebut penyulingan.
Hasil penyulingan itu memiliki kadar alkohol yang berbeda-beda. “Cairan pertama itu yang kelas 1 karena kadar alkoholnya paling tinggi,”kata Melisedek.
Untuk lima belas liter nira bisa dihasilkan 6 sampai 7 botol ukuran 800 Mili liter Sunalikaf.
Dalam sebulan kata Melkisedek ia bisa menghasilkan 100 liter Sunalikaf.
Untuk yang kelas yang kadar alkoholnya paling tinggi dijual dengan harga Rp 50 ribu dan untuk kelas 2 dijual dengan harga Rp 20 ribu/800 mililiter. Jika membeli borongan harga Sunalikaf dipasang Rp 100 ribu untuk satu jerigen kapasitas lima liter.
Selama ini Sunalikaf hanya dipasarkan secara lokal.
“ada yang datang beli di rumah karena sudah tahu dan ada yang kami jual ke SoE,”katanya.
Melki mulai memproduksi Sunalikaf sejak tahun 2003 dan hasil dari usaha tersebut ia bisa memenuhi kebutuhan rumah tangga termasuk menyekolahkan lima orang anaknya.(jmb)
_________________
foto: Melkisedek Baunlaka di tempat penyulingan yang dipajang di stand kecamatan Boking

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *