Pemprov dan Pemda TTS Diminta Waspada, Persoalan Ini Mengancam Petani

oleh -4.3K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Pemerintah provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) dan pemerintah daerah (pemda) Timor Tengah Selatan (TTS) sudah harus waspada dengan memikirkan upaya alternatif soal pemenuhan kebutuhan pangan masyarakat kabupaten TTS di tahun 2020.

Rawan pangan dipastikan akan dialami masyarakat TTS dengan melihat curah hujan di kabupaten TTS periode musim tanah tahun 2019/2020 yang tidak normal seperti tahun-tahun sebelumnya.
Hal ini disampaikan Nabopolasar Bansae, warga desa Tubuhue kecamatan Amanuban barat kepada fakta-tts.com, Senin (6/1/2020) di SoE.
“Ya saya pikir gubernur dan bupati sudah harus pikir soal upaya alternatif memenuhi pangan warga tahun ini karena rawan pangan sudah pasti terjadi akibat hujan yang tidak normal. Kita petani jadi dari apa yang kita lihat kita bisa tahu,”kata Bansae, ketua Firum Peduli Rakyat (FPR) kabupaten TTS.
Dia mengatakan penglaman tahun-tahun sebelumnya, hujan sudah normal pada akhir November dan dalam bulan November itu masyarakat sudah mulai menanami kebun atau lahannya. Namun fakta tahun ini lahan warga ada yang belum ditanami. Ada yang sudah tanam namu tanaman seperti jagung, kacang dan labu pertumbuhan lambat bahkan ada yang mati kekeringan.
“Tidak semua petani sudah tanam, ada yang belum tanam, ada yang sudah tanam tapi mati, ada yang mati kering karena hujan tidak ada, sepeti saya ini,”kata Man Bansae.
Ia mengatakan lahan 16 hektare miliknya di desa Tubuhue sudah ditanami jagung 320 kilogram, kacang 8 kilogram dan labu lilin 4 kilogram yang ditanam 29 November 2019 namun saat ini ada yang mati dan layu. “Dari tanam sampai sekarang hanya empat kali makanya ada yang layu, mati. Tahun lalu tidak seperti ini. Tahun lalu Januari begini jagung sudah satu meter tingginya tapi sekarang tingginya tidak sampai 30 centimeter,”katanya.
Bansae menduga salah satu penyebab hujan tidak normal ini karena adanya sejumlah proyek besar di kabupaten TTS yang sementara dikerjakan. Ia menyebut proyek bendungan Temef di kecamatan Polen dan Oenino sebagai salah satu proyek besar yang diduga menghambat curah hujan. “Ada alat yang digunakan pekerja proyek untuk memecah awan. Jadi ketika awan sudah banyak mendung tebal, gumpalan awan dipecahkan menggunakan alat itu sehingga hujan tidak turun,”katanya.(jmb)
______________
Foto: Nabopolasar Bansae 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *