Jaksa Perlu Periksa Dana Desa Tuakole Tahun 2016

oleh -1.4K views
SEKRETARIS DAN SALAH SEORANG WARGA DESA TUAKOLE DI REDAKSI FAKTA TTS SESAAT SEBELUM MENUJU KANTOR KEJARI TTS

Kota SoE, Fakta TTS – Sekretaris desa Tuakole kecamatan Batu putih kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Carles Foenale meminta aparat Kejaksaan negeri (Kejari) TTS untuk mengambil tindakan atas dugaan persoalan pengelolaan dana desa Tuakole tahun 2016 sebesar Rp 1,3 miliar.

Hal tersebut dikatakan Foenale didampingi Yakob salah seorang warga setempat saat berada di redaksi Fakta TTS, Senin (27/11/2017).

Ia mengatakan jaksa perlu menelusuri persoalan dana desa 2016 tersebut karena pekerjaan fisik sejumlah item pekerjaan terhenti dan belum selesai hingga kini namun dana desa satu miliar lebih itu diduga sudah habis terpakai. “Pekerjaan tidak selesai, SPJ seratus persen. Artinya uang sudah cair semua. Terus dimana uang itu, kalau masih ada kenapa pekerjaan tidak diselesaikan,”kata Foenale.

Meski sebagai sekdes yang mungurus admimistrasi desa namun Foenale mengaku tidak tahu menahu soal administrasi pencairan dan pertanggungjawaba penggunaan dana desa tahun 2016 lalu. “Saya tidak tahu soal penggunaan dana itu. Waktu lalu saya tolak tandatangani SPJ karena fisik tidak selesai. Kalau soal dana tanya ke kades waktu itu Darius Bell dan bendahara Melkianus Pandi, mereka yang tahu,”katanya.

Melkianus Pandi yang dihubungi pertelepon, Senin (27/11/2017) siang sekitar pukul 12.58 wita nomor telepon genggamnya tidak aktif.

Yakob, anak Oktofiana Talan salah penerima bantuan rumah layak huni yang bersumber dari dana desa tahun 2016 mengatakan mereka pernah dikasih uang sebesar Rp 2,5 juta dari Melkianus Pandie sebagai uang kayu. Namun uang tersebut tidak cukup untuk melunasi kayu sebanyak 3,5 kubik untuk penyelesaian rumah yang diperoleh. Selain kayu kata Yakob mereka juga menerima Semen 10 sak, Seng 42 lembar, paku 5 centimeter (cm), paku 7 cm, paku seng masing-masing 5 kilogram, Pasir 1 ret, Batu 1.5 ret dan Seng licin 8 meter. “Jika kita hitung maka dana untuk bahan-bahan yang kami terima kurang dari Rp 8 juta padahal saat rapat di kantor desa bilangnya tiap orang jatahnya Rp 13,6 juta,”katanya.

Jidriani Selan, Pendampimg Desa (PD) Tuakole kepada Fakta TTS melalui telepon mengakui kalau hingga kini item pekerjaan 32 rumah, gedung PAUD, lapangan futsal belum selesai namun pertanggungjawaban telah dibuat 100 persen oleh Tim Pengelola Kegiatan (TPK) dan kepala desa.

Dana sebesar Rp 1,3 miliar juga dikatakan sudah dicairkan seluruhnya namun pekerjaan belum diselesaikan. “Laporan yang kami dapat Uang sudah nihil tapi pekerjaan belum selesai,”katanya.

Dikatakan pihaknya sudah berkoordinasi dengan Darius Bell, mantan kades dan TPK untuk menyelesaikan sisa pekerjaan yang belum selesai namun hingga kini belum ada tindaklanjut dari janji Darius dan TPK.

Sisa pekerjaan yang belum dikerjakan ditafsir Selan membutuhkan anggaran sebesar Rp 500 juta lebih.  “Pekerjaan yang belum selesai ini butuh sekitar Rp 500 juta lebih,”katanya.

Pihak Kejaksaan negeri (kejari) TTS melalui kepala seksi intelijen (kasie intel) Nelson Tahik,SH, kepada Fakta TTS Selasa (28/11/2017) mengatakan pihaknya sudah siap menindaklanjuti persoalan dana desa Tuakole tahun anggaran 2016 tersebut karena dari informasi dan data awal yang diperoleh mengindikasikan adanya persoalan hukum dalam pengelolaan dana tersebut. “ Kami siap tindaklanjuti. Dari informasi dan data awal yang kami peroleh diduga ada persoalan hokum, kami akan turun ke lokasi untuk mengkroscek ini,”katanya.

Diinformasikan sehari sebelumnya sekdes Tuakole, Carles Foenale dan salah seorang warga juga telah menemuinya di kantor Kejari TTS menyampaikan hal tersebut dan kini pihaknya sementara mengumpulkan bukti-bukti awal untuk keperluan tindaklanjut pengaduan tersebut.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *