Bawa Bayi ke DPRD TTS, ML Mengaku Dihamili Kades

oleh -1.3K views

Kota SoE, Fakta TTS-Kantor DPRD Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Kamis (24/5/2018) pagi kedatangan tamu yang tak biasa.
ML (17) warga dusun 2 desa Hoi kecamatan Oenino datang dengan menggendong seorang bayi laki-laki berusia lima bulan bersama belasan warga dari dusun Sonaf, Nifukiu dan Manumuti.
Ada 12 pengaduan yang disampaikan ke Magdalena Mbau dan Yudi Selan, anggota komisi I DPRD TTS yang menerima mereka. salah satunya soal tindakan amoral yang diduga dilakukan Kepala desa (kades) Edinius Tuke terhadap ML. ML mengaku dihadapan dua anggota dewan kalau bayi yang digendong adalah buah hubungannya dengan kades Edinius.

ML mengisahkan asmara gelap dirinya dan kades berawal 3 Desember 2016 lalu. saat itu, dalam perjalanan dari rumahnya ke sekolah (salah satu SMA swasta di kecamatan Kuatnana), ia bertemu dengan kades Edinius di hutan Kiuklibu.

ML mengaku saat itu Edinius menawarkan kepadanya untuk jadi isteri kedua. namun ia tolak. Kades Edinius lalu menyeretnya ke dalam hutan itu dan memperkosanya. setelah itu ia dikasih uang Rp 50.000.

Hubungan keduanya tak berhenti disitu. kata ML hubungan keduanya terus berlanjut hingga April ia ke Kupang untuk bekerja. sebelum berangkat ML mengaku ia dan kades Edinius masih berhubungan badan. “bulan Mei saya hamil,”kata ML yang tidak melanjutkan sekolahnya.

Di bulan Juni 2018, ML mengaku pulang kampung karena ada keluarganya yang meninggal. namun kehamilannya tidak disampaikan ke orang tuanya. hanya ada seorang kakaknya yang tahu kehamilannya saat kakaknya itu menanyakan soal keberadaan baju daster yang ada dalam tasnya. daster itu dikasih oleh kades Edinius setelah ia menyampaikan kehamilannya.

“Juni saya pulang kampung saya kasitahu (Edinius) kalau saya sudah hamil tapi dia tidak jawab. sore dia kasih daster,”kata ML yang menambahkan kades Edinius melarang dirinya untuk sampaikan kehamilannya itu ke orang tuanya.

Sebulan kemudian ML mengaku pulang ke Kupang kemudian dibawa majikannya ke Surabaya untuk bekerja, hingga 27 November 2017 ia kembali ke Hoi. ML mengaku melahirkan pada 3 Januari 2018 dan saat itu baru diketahui orang tuanya soal hubungan gelap dia dan kades Edinius.

Setelah melahirkan kata ML keluarga sempat bawa ‘Oko mama’ ke kades Edinius untuk meminta tanggungjawab tapi kata ML, kades Edinius Menolak dan akhirnya mereka melaporkan hal itu ke Polres TTS tanggal 12 Januari 2018. Pengakuan keluarga di depan kedua anggota dewan bahwa kasus itu sudah sampai di tangan kejaksaan.

ML dan keluarga mengatakan mereka membawa kasus itu ke dewan agar dewan bantu mendorong penuntasan proses hukum kasus itu.

selain kasus asusila itu warga tiga dusun juga melaporkan pelaksanaan sejumlah program Dana desa Hoi yang diamati realisasinya tidak jelas.”kasus dana desa ini sudah kami sampaikan ke jaksa dan jaksa sudah turun periksa tapi kami belum tahu persis prosesnya sudah sampai dimana,”kata Ayub Tuke.

Mereka mengatakan akan menyegel kantor desa Hoi jika hingga tanggal 31 Mei 2018 ini tidak ada respon pemerintah dan DPRD terhadap kondisi pembangunan yang mereka laporkan tersebut.

“kami akan segel kantor desa tanggal 31 Mei jika laporan kami tidak ditindaklanjuti.  kami minta kades Edinius Tuke di nonaktifkan sebagai kepala desa karena kami tidak mau lagi dia pimpin kami,”katanya.

Yudi dan Magdalena mengatakan laporan warga tersebut akan ditindaklanjuti.

Sementara kades Edinius Tuke belum berhasil dikonfirmasi. Fakta TTS mencoba mrnghubunginya lewat nomor telepon yang dikasih salah seorang warga dalam rombongan itu namun nomor tersebut tidak aktif saat dihubungi. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *