Kasus Landscape, Indikasi Persoalan Muncul Juga di Pelelangan

oleh -1.4K views
Kota SoE,Fakta TTS-Proses pemeriksaan penyidik kepolisian untuk mengungkap dugaan korupsi dana pembangunan jalan dan landscape di kantor bupati TTS tahun 2014 sebesar Rp 3,4 miliar masih berlangsung.
Rabu (25/7/2018) dilangsungkan pemeriksaan terhadap unsur Kelompok kerja (pokja) Unit Layanan Pelelangan (ULP) kabupaten TTS sebagai saksi. pemeriksaan dilakukan tertutup di ruang unit tipikor Polres TTS.
Pokja diperiksa penyidik untuk mengetahui runutan proses pekerjaan PT Marga Madu Indah yang akhirnya memunculkan dugaan tindak pidana korupsi karena pembayaran keuangan melebihi fisik yang dikerjakan tersebut.
PT. Marga Madu Indah dengan direkturnya Juarin, adalah pihak penyedia jasa yang memenangkan tender atau lelang pekerjaan oleh pihak ULP.
Informasi yang diperoleh Fakta TTS dari sumber di Polres TTS, kemenangan PT Marga Madu Indah dalam proses pelelangan diduga sarat kepentingan jika melihat sejumlah indikasi kejanggalan yang dihimpun penyidik.
Ditahap pelelangan menurut sumber, ada dugaan pokja memaksakan kemenangan PT. Marga Madu Indah dalam pelelangan proyek tersebut karena tidak cermat melakukan evaluasi tekhnis terhadap dokumen rekanan penyedia jasa, PT Marga Madu Indah.
“salah satu hal penyebab dugaan kerugian negara itu terjadi di proses pengadaan yang terindikasi sarat dengan kepentingan faktanya apa?,”kata sumber yang kemudian menjelaskan indikasi dugaan pemenangan PT. Marga Madu Indah yang dipaksakan.
Dijelaskan lelang paket pekerjaan jalan dan landscape itu diduga ditawar oleh 1 pengusaha  saja yakni Juarin asal Surabaya yang menggunakan Cv.Sasamandiri ,CV. Sapir dan CV.Marga Madu Indah.
Kemudian saat evaluasi teknis oleh pokja kata sumber pokja tidak menggugurkan Cv.Marga Madu Indah padahal pokja diduga mengetahui bahwa  Aspal Mixing Plant  berada di Lamongan, pulau Jawa. “pokja tidak cermat dalam melakukan evaluasi bayangkan bagaiamana perusahaan ini bisa menang padahal di ketahui Aspal Mix Plan berada di Lamongan. dalam pekerjaan hotmix suhu aspal tidak boleh dingin. bisa bayangkan apabila perjalanan sebuah truk yang angkut aspal dari Lamongan sampai ke TTS, aspalnya masih pada suhu yang di syaratkan atura atau tidak?, suhu aspal ini berpengaruh terhadap kualitas jalan yang dikerjakan,”kata sumber.
Indikasi berikut menurut sumber pokja terindikasi memenangkan PT. Marga Madu Indah dengan dukungan CV. Cahaya Indah Madya Pratama padahal
Perusahaan tersebut diduga tidak mempunyai kantor cabang di NTT dan tidak mendapat rekomendasi dukungan dari asosiasi aspal NTT padahal hal tersebut harus dipertimbangkan panitia atau pokja dalam mengevaluasi dokumen rekanan lelang. “mengapa pokja tidak gugurkan Marga Madu Indah?,”tanyanya.
Terkait aspal dikatakan ada ketentuan dalam pasal 22 ayat 4 huruf b Kepres 54 tahun 2010 tentang pengadaan barang jasa yang menjelaskan soal waktu pelaksanaan yang diperlukan. “dalam penjelasannya pada kerangka acuan kerja. kapan barang dalam hal ini aspal disediakan di kantor bupati, itu harus lewat kajian tekhnis soal suhu aspal karena efeknya nanti ke kualitas. harusnya panitia memperhatikan itu saar evaluasi tekhnis,”katanya.
Budi Taopan dari unsur pokja saat diwawancarai sebelum menjalani pemeriksaan di Mapolres TTS menolak berkomentar panjang lebar. ia hanya mengatakan kalau pekerjaan itu dilelang dua kali karena lelang pertama gagal. Ia keberatan jika dikatakan ada indikasi permaianan pokja untuk memenangkan perusahaan tertentu. “iya memang dua kali dilelang. ada alasannya kenapa lelang ulang. tapi saya tidak mau berspekulasi, nanti dengan polisi saja,”kata Budi. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *