Yonatan Mella Tak Pernah Buat Laporan Polisi

oleh -1.5K views

Kota SoE, Fakta TTS-Pihak Polres Timor Tengah Selatan (TTS) memberikan klarifikasi terkait proses hukum Yonatan Mella (40-an) warga desa Fatukoko kecamatan Molo barat yang sebelumnya diberitakan berniat membuat laporan penganiayaan yang dialami tapi malah ditahan oleh Polsek Siso karena dugaan kepemilikan senjata api.

 
Kasubag Humas Polres TTS, AKP Djaga Lazarus, Jumat (26/1/2018) di ruang kerjanya mengatakan Yonatan tidak pernah membuat laporan polisi soal penganiayaan yang dialami sehingga polisi tidak bisa memproses kasus yang tidak ada laporan dari korban.
 
Ia mengtakan Yonatan Mella ditahan Polsek Siso atas dasar laporan pengancaman menggunakan senjata api rakitan yang disampaikan Carles Kake dan Abednego Batu ke Polsek Siso.
 
Setelah menerima laporan  tersebut kata Lazarus, anggota polsek Siso turun ke tempat kejadian namun ditengah perjalanan polisi bertemu dengan Yonatan Mella dan salah seorang saudaranya, sehingga polisi tidak jadi ke lokasi kejadian namun langsung kembali ke Polsek bersama dengan Yonatan dan saudaranya. Diakui kalau malam itu Yonatan dan saudaranya itu bermalam di mapolsek dan Yonatan baru ditahan keesokan harinya untuk proses hukum.
 
Lazarus juga mengatakan kalau senjata pistol rakitan yang diduga dipakai Yonatan untuk mengancam Carles dan Abednego, diterima polisi dari Carles bukan dari Yonatan karena dalam keributan di tempat kejadian, senjata tersebut berhasil diamankan Carles dan Abednego dari tangan Yonatan.
 
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari TTS, Martin Eko Prayitno mengatakan sesuai Berkas Perkara (BP) terdakwa Yonatan Mella, kasus itu bermula ketika pada Selasa (26/7/2017) malam Yonatan bertemu dengan Abednego dan Carles di jalan. Saat itu Yonatan meminta bantuan Carles dan Abed untuk membawa barang yang dibawa. Namun Abed dan Carles menolak sehingga Yonatan mengambil pisau dan mengancam akan menembak keduanya. Namun Carles dan Abed berhasil mengambil paksa senjata dari tangan Yonatan yang kemudian dibawa ke ketua RT.
Dan akhirnya informasi keributan tersebut sampai ke polisi dan Yonatan diproses hukum.
 
Martin mengatakan yang diproses adalah kasus kepemilikan senjata api oleh Yonatan bukan ancaman pembunuhan menggunakan senjata api.
 
Sebelumnya Semuel dan sejumlah saudara Yonatan Mella yang turut menjadi saksi dalam perkara tersebut menceriterakan persoalan bermula pada Selasa (18/7/2017) malam sekitar pukul 20.00 wita saat Yonatan diduga dianiaya oleh Carles dan Abed di jalan desa Fatukoko di wilayah dusun 4 dekat rumah Franas Banfatin.
Kejadian itu dilerai oleh Franas dan Yohanis Mella, kakak Yonatan Mella yang muncul beberapa saat kemudian.
 
Kata Yohanis, saat itu ia sempat bertanya ke Abed dan Carles soal alasan penganiayaan tersebut. “Saat itu saya tanya kenapa mereka pukul Yonatan?Abed  bilang kalau Yonatan mau tembak dia. Terus saya tanya Abed, senapan dimana? tapi Abed tidak jawab,”kata Yohanis yang melihat leher, pelipis dan belakang kepala adiknya bengkak dan luka dipunggung.
 
Setelah aman kata Yohanis, dia bersama Franas dan Yonatan termasuk Carles dan Abed menuju rumah Elias Pay untuk ambil karung kosong milik Yonatan, Namun dalam perjalanan Abed dan Carles menghilang. “Abed kami lihat lari masuk ke kebun kalau Carles kami tidak lihat dia tiba-tiba menghilang,”kata Yohanis.
 
Setelah ambil karung kata Yohanis, dia dan Yonatan menuju rumah Kain Mella sementara Franas kembali ke rumahnya.
 
Sampai di rumah Kain, Yonatan memutuskan untuk melaporkan apa yang dialami ke polisi malam itu juga. Kain Mella kemudian bersedia menemani saudaranya itu menuju Polsek Siso.
 
Ditengah perjalanan tepatnya di kampung Numbaki kata Kain mereka bertemu ‘pak Manu’ yang dikenali sebagai anggota polisi Polsek Siso.
“Saat itu pak Manu ada dengan kawan dua orang. Pak Manu bilang mereka demlngar ada perkelahian di Oenitsai makanya mereka mau kesana. Tapi kami kemudian sama sama pak Manu ke polsek Siso. Sampai pos (Polsek) sekitar jam 12 kami tidak diperiksa, kami dua malam itu tidur di rumah jabatan Polsek. Besok pagi kami bangun di pos (Polsek) sudah ada Abed dan Carles, saya disuruh pulang tapi Yonatan tetap di pos,”kata Kain.
 
Kemudian tambah Semuel pada tanggal 20 Juli 2017, Toni yang diketahui sebagai anggota polisi datang bersama dua temannya ke rumah Yonatan Mella. “Katanya mau periksa rumah cari foto, KTP dan senjata tapi tidak dapat apa-apa dan hari itu juga mereka bawa Yohanis dan Kain ke pos untuk ambil keterangan,”katanya.
 
Kata Yohanis di Polsek ia sempat ditunjukan ‘pak Toni sepucuk pistol. Kata Yohanis ia sempat ditanya oleh pak Toni apakah mengenal pistol tersebut yang katanya milik Yohanis. “Saya bilang saya tidak tahu karena saya tidak pernah lihat adik saya pegang senjata itu,”katanya.
 
Mereka merasa aneh dengan proses hukum terhadap Yonatan Mella tersebut karena setahu mereka Yonatan tidak memiliki pistol.
 
Kata Semuel mereka telah berencana untuk mengadukan hal itu ke Polda NTT, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) dan komisi Yudisial.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *