Jemmy Ditahan, PH Buka-bukaan Soal Peran Deddy Un & Tim PHO 

oleh -2.1K views
Kota SoE,fakta-tts.com – Jemmy Un Banunaek, tersangka lain dalam kasus dugaan korupsi dana Embung Mnelalete-Amanuban barat kabupaten TTS tahun 2016 juga ditahan oleh pihak penyidik Kejari TTS setelah menjalani pemeriksaan selama empat jam sejak pukul 15.00 wita, Jumat (2/7/2019) di kantor Kejari TTS.
Jemmy adalah tersangka keempat yang ditahan setelah Semmy Nggebu (kadis PUPR kabupaten TTS, Timotius Tapatab, konsultan pengawas dan Johanis Fanggidae, direktur CV Belindo Karya, perusahaan pelaksana proyek, yang ditahan di Rutan Oetimu SoE sehari sebelumnya.
Satu tersangka lainnya, Jefry Un Banunaek dijadwalkan baru menjalani pemeriksaan pada Senin (5/7/2019).
Penasehat Hukum (PH) Jemmy Un Banunaek, Novan Manafe dan Petrus Ufi buka-bukaan kepada wartawan soal alur dugaan keterlibatan kliennya dari pelaksanaan hingga pencairan dana proyek bernilai Rp 700-an juta tersebut. Deddy Un dan tim Profesional Hand Over (PHO) disebut sebagai pihak yang juga punya peran penting dari proses lelang atau tender proyek hingga pencairan dana yang tanpa termin itu.
Usai pemeriksaan Novan dan Petrus mengatakan keterikatan kliennya dalam alur pelaksanaan proyek tersebut tidak jelas secara hukum karena kliennya tidak pernah menandatangani kontrak dan tidak ada kuasa tertulis dari direktur CV Belindo Karya kepada kliennya. Setahu keduanya, kuasa direktur diduga diberikan Johanis Fanggidae kepada Deddy Un yang namanya juga diduga tidak tercantum dalam akta pendirian perusahaan tersebut. “Deddy Un yang ikut tender setelah dapat kuasa dari direktur Belindo Karya, bukan klien kami,”kata Novan.
Setelah memenangkan tender dan berkontrak tambah Novan, Deddy Un meminta Jemmy Un Banunaek untuk melaksanakan proyek itu karena Deddy punya urusan keluarga di luar daerah yang tak bisa diabaikan. “Jadi klien kami berada di lapangan itu karena diminta untuk laksanakan pekerjaan karena Deddy ada urusan keluarga,”katanya.
Novan mengakui kalau dari aktifitas pelaksanaan proyek itu, kliennya pernah menerima uang dari Johanis Fanggidae namun uang itu dipakai untuk melunasi pembayaran material pekerjaan yang belum dibayar di toko.
Material pekerjaan kata Novan terpaksa di hutang oleh kliennya karena proyek tersebut hanya sekali dilakukan pencairan yakni dipenghujung kegiatan. “Jadi proyek ini pencairannya hanya sekali, tidak pakai termin seperti proyek lainnya. ini aneh karena biasanya pencairan awal itu 30 persen, ada termin-terminnya, tapi ini tidak seperti itu. Dana cair satu kali saja, jadi untuk kerja terpaksa hutang,”tambah Petrus.
Bukti alur uang kepada kliennya juga dipertanyakan Novan dan Petrus.”kami akan ungkap satu-satu dipersidangan. Ini bakal ramai di sidang,”kata Novan yang berharap proses hukum kliennya dipercepat ke persidangan.
Proses permohonan PHO atau serah terima barang dan pencairan uang tersebut pun kata Novan kliennya tidak terlibat karena diajukan langsung oleh pihak Belindo Karya sebagai pihak yang berkontrak.
Menurut Novan, alur pertanggungjawaban masalah dalam proyek itu menjadi terputus atau tidak lengkap ketika panitia PHO tidak dijadikan sebagai pihak yang ikut tanggungjawab dalam dugaan persoalan keuangan proyek tersebut. Ini karena berita acara PHO lah yang menjadi dasar bagi PPK untuk memproses pencairan dana. “tim PHO punya peran penting sekali soal pencairan dana. Kalau tim PHO nyatakan fisik oke baru dana bisa cair. Dalam kasus ini indikasi korupsinya karena volume kurang tapi terjadi pencairan dana. lalu bagaimana dengan hasil pemeriksaan tim PHO kalau penyidik katakan volume kurang?, dasar Pencairan yang dipakai itu apa?,”katanya.
Kajari TTS, Fachrizal,SH dan kasie pidsus Kejari TTS, Khusnul Fuad sebelumnya mengatakan penyidik punya alasan yang didukung alat bukti yang kuat dalam menetapkan tersangka.
Informasi yang dihimpun, Deddy dan tim PHO dijadikan saksi dalam perkara tersebut.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *