Kasus Embung Mnelalete, Toislaka : “Johanis Fanggidae Dimanfaatkan”

oleh -5K views
Kota SoE,fakta-tts.com – Kamis 1 Agustus 2019 menjadi pengalaman pahit dalam kisah hidup Johanis Fanggidae (28). Kamis malam itu ia ditahan sebagai tersangka oleh penyidik Kejari TTS bersama dua tersangka lainnya dalam kasus dugaan korupsi dana pembangunan embung di desa Mnelalete kecamatan Amanuban barat tahun 2015 bernilai Rp 756 juta. Dalam kasus itu Johanis Fanggidae berkapasitas sebagai direktur CV Belindo Karya, perusahaan pelaksana proyek.
Dua tersangka yang ditahan bersama Johanis malam itu adalah Semmy Nggebu Kepala dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) kabupaten TTS dan Thimotius Tapatap, konsultan pengawas dari PT Siar Utama Konsultan.
Sehari kemudian penyidik menahan lagi satu tersangka, Jemmy Un Banunaek pelaksana lapangan proyek tersebut. Satu tersangka lain Jefri Un Banunaek belum diperiksa hingga Jumat (10/8/2018).
Menyimak kisah Johanis menjadi tersangka dalam kasus proyek itu cukup menarik karena begitu menjadi direktur yang bukan kemauan sendiri namun diduga dipercayakan orang, perusahaan yang dipegang Johanis langsung mendapat kerja perdana di kabupaten TTS beberapa bulan setelah ia menyandang status direktur.
dan pekerjaan tersebut langsung bermasalah karena dana proyek tersebut dugaannya dikorupsi.
Berdasarkan pengakuan Niko Toislaka, kuasa hukum Johanis kepada fakta-tts.com di Pengadilan Negeri (PN) SoE, Kamis (9/8/2019) bahwa begitu menjadi direktur CV Belindo Karya di awal tahun 2015, beberapa bulan kemudian atau sekitar pertengahan tahun 2015 perusahaan tersebut langsung mendapat pekerjaan Embung Mnelalete yang dilelang dinas PUPR kabupaten TTS.
Namun apes, karena setahun kemudian Kejari TTS menyelidiki pekerjaan Embung tersebut. Kekurangan volume pekerjaan diduga terjadi dalam proyek tersebut.
Johanis akhirnya ikut ditetapkan sebagai tersangka karena dianggap ikut bertanggungjawab atas dugaan korupsi yang terjadi dalam pekerjaan embung tersebut.
Status tersangka disandang Johanis disaat pertama kali CV Belindo Karya mendapat pekerjaaan fisik di kabupaten TTS dengan dirinya sebagai direktur.
Menurut Niko, kliennya menjadi direktur CV Belindo Karya atas pemberian Tony Patulak yang sebelumnya sebagai direktur perusahaan tersebut.
Tonny Patulak belum merespon saat dikonfirmasi soal ini lewat layanan WhatsApp Kamis (8/8/2019).
Kliennya itu kata Niko awalnya adalah karyawan dari Tony Patulak hingga akhirnya pada sekitar awal tahun 2015, Tony memberi kepercayaan kepada kliennya untuk menjadi direktur CV tersebut karena Tonny ingin mendirikan PT.
Setelah kliennya berstatus direktur Belindo Karya, beberapa bulan kemudian datanglah Deddy Un, pengusaha dari SoE-TTS menemui kliennya di Kupang meminjam perusahaan itu untuk mengikuti tender proyek di kabupaten TTS. Deddy adalah kenalan Tony Patulak, pengusaha di Kota Kupang.
Kuasa direktur pun akhirnya dikeluarkan kliennya untuk Deddy Un. Namun kemudian diketahui bukan Deddy Un yang beraktifitas di lapangan dalam pekerjaan proyek itu melainkan Jemmy Un Banunaek (tersangka lainnya).
Pengakuan Deddy Un dalam konfirmasi terpisah sebelumnya bahwa dia tidak mengerjakan proyek itu karena dalam proses pelelangan di ULP dan urusan administrasi di dinas PUPR bukan namanya yang muncul dalam sejumlah dokumen terkait namun nama Johanis Fanggidae sebagai direktur CV Belindo Karya.
Kontrak pekerjaan tersebut juga kata Deddy Un bukan ditandatangani oleh dirinya namun ditandatangani langsung oleh Johanis Fanggidae.  Namun pernyataan Deddy itu berbeda dengan pernyataan Niko Toislaka.
Dikatakan Niko, kliennya tidak menandatangani kontrak itu bahkan hingga pemeriksaan jaksa kliennya tidak melihat kontrak pekerjaan tersebut.
Meski demikian diakui Niko kalau ada uang masuk sekitar Rp 612 juta lebih ke rekening perusahaan kliennya. Uang tersebut adalah uang dari pekerjaan proyek tersebut.
Tambah Niko, Uang tersebut dicairkan kliennya bersama dengan Jefry Un Banunaek (tersangka dalam berkas terpisah) di bank NTT Kupang. Pencairan uang tersebut ada yang menggunakan cek dan ada yang melalui pemindahbukuan ke rekening Jefry Un Banunaek. Yang menggunakan cek sebesar Rp 300 juta dan sisanya lewat pemindahbukuan.
Kabarnya keterlibatan Jefry dalam kasus itu karena memfasilitasi penyediaan alat berat untuk pekerjaan Embung tersebut.
Dari pekerjaan itu kata Niko, kliennya tidak mendapat uang. Kliennya hanya menerima uang gaji seperti biasanya dari Tonny Patulak, bos kliennya. “Jadi kesannya klien saya hanya dimanfaatkan dalam proyek ini, saya harap dia (Johanis Fanggidae terbuka dan jujur dipersidangan biar bisa jelas siapa yang bersalah,”katanya.(jmb)
____________
Foto: Niko Toislaka dan Johanis Fanggidae

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *