Kasus Gadis Yatim Piatu, Hakim Minta Hadirkan Kades Poli

oleh -1.5K views
Kota SoE,Fakta TTS- Majelis Hakim (MH) Pengadilan Negeri SoE kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), NTT yang mengadili perkara dugaan penganiayaan berat dan pemerkosaan terhadap AB (13), gadis Yatim piatu asal desa Poli kecamatan Santian memerintahkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari TTS untuk menghadirkan, Lamek Afi dalam persidangan kasus tersebut.
“Sidang kemarin majelis hakim minta untuk hadirkan kades (Lamek AFI) dalam persidangan untuk berikan keterangan sebagai saksi juga, kades memang bukan saksi dalam BAP tapi dalam persidangan terdakwa bilang saat di kantor desa, kades juga ada sehingga hakim minta kades kasih keterangan juga di sidang,”kata JPU, Santi Efraim, SH kepada fakta-tts.com di Kejari TTS,Senin (6/5/2019). Kades Lamek Afi dijadwalkan memberikan kesaksiannya pada persidangan, Senin, hari ini.
Usai melapor kesediaannya memberi keterangan kepada JPU, Senin pagi, Lamek enggan berkomentar. “Nanti di sidang saja,”kata Lamek kepada wartawan.
Kasus penganiayaan disertai pemerkosaan ini terjadi Oktober 2018 lalu di kali di desa Poli.
Kepala Unit (kanit) serse Polsek Boking, Polres TTS, Bripka Peter Suan kepada Fakta TTS, Senin (15/10/2018) di SoE menjelaskan Remaja yang ditinggal mati orang tuanya sejak berusia 4 tahun ini dipotong tujuh kali di leher kiri belakang dan bahu kiri oleh Yohanis Bana (33) kemudian diperkosa dalam keadaan sekarat. Namun nyawa AB, yang tak pernah mengenyam pendidikan ini tertolong setelah menjalani perawatan intensif selama lebih dari sebulan di RSUD W.Z Yohanis Kupang akibat penganiayaan tersebut.
Yohanis Bana, saudara korban dan Yeskial Tafuli, kepala dusun di desa Fotilo kini di tahan di sel Polres TTS untuk kepentingan penyidikan kasus itu. Yeskial Tafuli turut dijadikan tersangka karena diduga mengotaki perbuatan Yohanis Bana.
Peter Suan menjelaskan sesuai pemeriksaan polisi kejadian tersebut bermula ketika AB mencuci pakaian di kali Fatusnapa, batas wilayah desa Poli dan desa Fotilo kecamatan Amanatun utara pada 7 Juli 2018 sekitar pukul 09.00 wita.
Tanpa diketahui AB, Yohanis datang dari arah belakang dan langsung menebas leher bagian kiri belakang AB dengan parang sebanyak 3 kali dan 4 tebasan berikut di bahu kiri. AB jatuh terkulai di tempat itu.
Yohanis kemudian menyeret tubuh AB yang lunglai sekitar 50 meter ke arah bebatuan di tepi kali. di tempat itu, Yohanis Bana diduga memperkosa AB yang tak berdaya dengan tubuh berlumuran darah. “Perkosaan ini baru kita ketahui saat korban dirawat di rumah sakit. saat buang air korban kesakitan di alat vitalnya. saat diperiksa pihak medis ada tanda-tanda korban diperkosa. awalnya kita hanya fokus di penganiayaan itu,”kata Peter Suan.

Kemudian tambah Peter, pada sekitar pukul 14.00 wita, datang Normas Boki, warga desa Poli mencuci pakaian di tempat itu. saat itu kata Peter, muncul kecurigaan di benak Normas setelah melihat ada pakaian berserakan dan darah segar berceceran di tempat itu.
Normas kemudian berlari ke dalam desa menyampaikan apa yang dilihat kepada aparat desa setempat. aparat dan warga kemudian mendatangi lokasi kejadian dan mengikuti ceceran darah, hingga akhirnya mereka menemukan tubuh AB tak berdaya.
AB kemudian dibawa ke Puskesmas Fotilo kemudian dirujuk ke RSUD SoE hingga akhirnya dirawat di RSUD W.Z Yohanis Kupang sekitar 3 minggu. “setelah dirawat korban sembuh dari luka-lukanya namun alami cacat fisik permanen. korban lumpuh karena kata medis syarafnya putus, sekarang korban sudah di kampung tapi tidak bisa jalan,”kata Peter.

Pengungkapan Kasus itu kata Peter awalnya cukup sulit karena tidak ada seorang saksipun yang melihat kejadian kecuali sepasang sandal jepit dan sejumlah potong pakaian. Namun dari investigasi yang dilakukan selama kurang lebih sebulan kasus tersebut menemui titik terang, pelaku teridentifikasi.
Penyelidikan terus dilakukan hingga akhirnya polisi menangkap Yohanis Bana, yang masih punya hubungan keluarga dengan AB. Yohanis diamankan di dalam kali di desa Mnelapetu kecamatan Noebana, tanggal 9 Agustus 2018.
“saat ditangkap dia (Yohanis Bana) tidak melawan. dia jujur mengakui perbuatannya,”kata Peter.
Dalam pemeriksaan kata Peter,  Yohanis Bana mengatakan kalau yang menyuruhnya melakukan itu adalah Yeskial Tafuli, sang kepala dusun. Bahkan tambah Peter, Yeskial turut menyeret korban dari tempat ia dipotong.
Dari informasi yang dihimpun, pihaknya kemudian baru dapat menangkap Yeskial Tafuli pada Minggu (14/10/2018) dini hari sekitar pukul 01.00 wita di rumah bulat milik salah seorang warga di desa Toi kecamatan Amanatun selatan.
Yohanis dan Yeskial diproses dengan Undang-undang Perlindungan anak dan pasal penganiayaan berat dalam KUHP. (jmb)
__________________
Foto: kades Lamek Afi, dari kantor Kejari TTS menuju PN SoE, usai bertemu JPU Santi Efraim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *