Aliran Dana Proyek Landscape Kantor Bupati TTS Masuk ke 3 Rekening Berbeda

oleh -6.4K views
Kota SoE, fakta-tts.com – Fakta soal aliran dana proyek pembangunan landscape kantor bupati Timor Tengah Selatan (TTS), NTT tahun 2014 terkuak dalam persidangan perkara terdakwa Fredik Oematan (PPK) dan Juarin (pelaksana proyek) di pengadilan Tipikor Kupang.
Dalam kasus korupsi proyek bernilai Rp 3,5 miliar ini selain Fredik dan Juarin masih ada dua tersangka lain yakni Hing Fallo (mantan KTU Setda TTS) dan Erik Ataupah (konsultan) yang berkasnya masih ditangan penyidik polres TTS.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) kasus tersebut, Khusnul Fuad,SH didampingi dua rekannya Prima,SH dan Morits Kolobani,SH kepada wartawan Jumat (7/2/2020) usai sidang lokasi pemeriksaan landscape kantor bupati tersebut menyampaikan dari keterangan saksi-saksi dan bukti dalam persidangan perkara tersebut terkuak kalau dana proyek itu mengalir ke tiga rekening berbeda yakni rekening PT Marga Madu Indah (MMI) di bank Jatim di Tuban, rekening PT MMI di Bank NTT  cabang SoE,NTT dan rekening milik Tonny Sianto, pemilik Toko material bangunan, Mubatar SoE.
“Dana 30 persen uang muka sekitar Rp 600 juta (total anggaran Rp 3,5 miliar lebih) masuk ke rekening PT Marga Madu Indah di bank Jatim,Tuban, selanjutnya ada yang masuk ke rekening perusahaan yang sama di bank NTT cabang SoE dan ke rekening toko bangunan Mubatar berdasarkan kuasa dari Juarin, kuasa direktur Marga Madu Indah,”kata Fuad.
Fuad mengatakan aliran uang ke tiga rekening berbeda ini menjadi aneh karena dalam kontrak kerja hanya tertulis satu rekening tujuan pencairan saja yakni rekening PT.MMI di Bank Jatim,Tuban. Namun tambah Fuad dana awal sebesar Rp 600 juta lebih yang masuk ke rekening PT.MMI di bank Jatim,Tuban itu kemudian dikembalikan direktur PT.MMI karena yang bersangkutan tidak pernah memberi kuasa kepada Juarin untuk pekerjaan landscape tersebut. “Uangnya dikembalikan karena direkturnya tidak pernah memberi kuasa kepada Juarin, tapi anehnya lagi ada akta kuasa direktur ke Juarin,”kata Fuad yang mengakui akta tersebut diterbitkan oleh Notaris di Kota SoE.
Dikatakan Fuad, dalam keterangan di persidangan persoalan transfer dana ke tiga rekening tersebut sudah ditanyakan ke saksi Hing Fallo (tersangka dalam berkas terpisah), dan saksi menerangkan ia tidak memperhatikan secara detail saat proses penerbitan berkas Surat Perintah Membayar (SPM) ke dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (PKAD) untuk mengeluarkan Surat Permohonan Pencairan Dana (SP2D) proyek ke rekening bank milik perusahaan yang tertera dalam kontrak. “Di kontrak tertulis satu rekening saja yang di bank Jatim itu, tapi fakta dalam persidangan dana dicairkan ke tiga rekening,”kata Fuad.
Soal alasan pencairan dana ketiga rekening itu tambah Fuad sudah diperoleh keterangan dari beberapa saksi dari unsur pemerintah maupun swasta saat memberikan kesaksian dalam persidangan namun pihaknya juga perlu mendapatkan keterangan lagi dari pihak bank NTT cabang SoE karena setelah SP2D diterbitkan oleh dinas PKAD, yang memproses transaksi adalah bank NTT cabang SoE.
Diakui, pimpinan bank NTT cabang SoE Melkias Benu sudah memberikan keterangan di sidang namun keterangan Melkias hanya soal SOP, sehingga pihaknya membutuhkan lagi keterangan pimpinan bank NTT cabang SoE saat proses transaksi dana proyek itu. “Tahun 2014 itu siapa pimpinan bank NTT cabang SoE, dialah saksi yang kita perlu keterangannya, kita dengar waktu itu pimpinannya pak Benny Pellu, saksi ini tidak ada dalam BAP padahal keterangannya penting sekali untuk pembuktian soal tekhnis transaksi itu, kita sudah minta hakim untuk periksa pak Benny dan wakilnya saat itu,”kata Fuad.
Penasehat hukum terdakwa Fredik Oematan, Benny Taopan,SH mengatakan ia mendukung permintaan JPU tersebut karena hal itu akan membuktikan keberan materil dari perkara itu yakni soal aliran dana proyek tersebut.
Dikatakan dari keterangan Benny Pellu dan wakilnya akan terkuak bagaimana sehingga bank bisa mencairkan dana ke pihak lain yang tidak ada dalam kontrak padahal aturannya kata Benny, dana proyek hanya bisa ditransfer ke rekening perusahaan yang ada atau tertera dalam kontrak.
Disampaikan Benny, dalam persidangan sebelumnya Tonny Sianto pemilik toko Mubatar SoE sudab memberikan kesaksiannya dan dalam kesaksiannya kata Benny, Tonny Sianto telah mengakui kalau ada dana proyek itu yang mengalir ke rekeningnya.
“Pak Tonny sudah diperiksa dan ia akui uang mengalir ke dia juga. Dana harus dicairkan ke direktur perusahaan tapi kenapa dana masuk ke rekening lain. Harusnya masuk dulu ke rekening direktur baru ke supplier material. Tapi faktanya tidak seperti itu, Ini kenapa?,”katanya.
Ia menambahkan proses sebuah perkara korupsi juga wajib memberikan pemahaman ke publik. Sehingga publik tahu  kebenaran sesungguhnya dalam suatu masalah. Dan hal itu menurut Benny, bisa diketahui publik melalui saksi dan bukti yang sebenarnya yang diajukan dalam persidangan. “Proses sebuah perkara korupsi juga harus memberikan pemahaman ke publik. Sehingga publik tahu  secara benar alur persoalannya. Caranya dengan mengajukan saksi yang benar-benar tahu persoalan,”katanya. (Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *