ROAD MAP SEPAKBOLA TTS 2020-2030 ; Menuju Liga Profesional

oleh -2.3K views

(Oleh: Erich Ataupah/Bavana FC)

Liga 3 El Tari Memorial Cup (ETMC) 2019 telah berakhir, keseblasan Persatuan Sepakbola SoE atau yang lebih dikenal dengan nama Perss Soe berhasil mencapai babak Quarter Final sebelum disingkirkan Perse Ende. Pecinta sepakbola Kabupaten TTS tentunya sudah lama merindukan akan prestasi setelah terakhir kali menjuarai turnamen ETMC tahun 2000. Harapan masyarakat agar tim kesayangannya Perss Soe bisa tampil level yang lebih tinggi bahkan di liga profesional Indonesia dan mengorbitkan pemain ke liga profesional terus digaungkan meski pada kenyataannya untuk bisa sampai pada level tersebut saja sangat sulit.

Dari sini penulis ingin berbagi konsep dalam road map yang memuat rencana dan target pembangunan sepakbola TTS. Keberadaan road map menjadi penting untuk memperjelas dan mempertegas tugas masing masing antara pemerintah, Asosiasi Kabupaten (ASKAB) PSSI TTS, stakeholder terkait untuk mendukung sepak bola Timor Tengah Selatan menuju era yang profesional.

Road Map Sepakbola TTS 2020 – 2030 dengan tajuk utama menuju liga profesional merupakan tujuan yang akan dicapai, sangat mungkin hal tersebut bisa dicapai dalam jangka waktu 10 tahun. Untuk mewujudkannya dapat dilakukan dengan berbagai rancangan program yang memiliki target berkesinambungan yang tujuan utamanya adalah menuju liga professional.

Organisasi Pada tahun 2016 Sebanyak 25 klub sepakbola telah dikukuhkan sebagai anggota Asosiasi Kabupaten (ASKAB) PSSI TTS, setelah 3 tahun dikukuhkan ke 25 klub sepakbola ini belum pernah diundang untuk menggelar rapat koordinasi dalam menyusun program kerja tahunan. Kebijakan dan regulasi yang tidak memiliki tujuan berkesinambungan dalam menggelar turnamen selalu diambil oleh pengurus ASKAB tanpa melibatkan klub anggota, Pengurus ASKAB seolah olah lupa bahwa yang punya ASKAB PSSI TTS dan yang membina pemain sepakbola adalah klub anggota.

Kebangkitan sepakbola TTS tidak akan tercapai jika itu tidak dimulai dari induk organisasi ASKAB PSSI TTS. jika sepakbola kita ingin berkembang ke era profesional, maka hulunya ini harus dibenahi. Sehingga saat ini perlu direformasi total, para pengurusnya tidak boleh lagi diisi orang-orang lama yang sudah terbukti tidak menjalankan roda organisasi dengan baik. Penting dilakukan proses penggantian Ketua Asosiasi Kabupaten (ASKAB) PSSI TTS yang baru dengan figur yang lebih profesional dan berintegritas serta memiliki visi sepakbola TTS yang lebih berprestasi.

Dalam kepengurusan yang baru perlu dibentuk bidang dan komisi yang akan mendukung ketua dalam mewujudkan visinya yaitu bidang keanggotaan, bidang hukum dan fairplay, bidang sarana dan prasarana, bidang wasit dan pengawas pertandingan, bidang pelatih, bidang kompetisi dan turnamen, bidang futsal, bidang sepakbola wanita, bidang dana promosi dan marketing, komisi disiplin, serta komisi banding. Semua bidang dan komisi yang dibentuk wajib untuk memiliki program tahunan yang selalu dievaluasi dalam rapat kordinasi tahunan bersama klub anggota.

 

Infrastruktur

 

Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Persepakbolaan Nasional hal. 9 nomor 13 yang isinya pemerintah daerah menyediakan dan mengalokasikan dalam APBD sesuai dengan kewenangan dan kemampuan untuk pembangunan parasarana dan sarana sepakbola sesuai standar internasional merupakan kebijakan nasional yang dapat dijadikan sebagai rujukan kebijakan untuk percepatan pembangunan infrastuktur sepakbola di Kab. TTS. Dengan luas wilayah 3.955.36 KM² yang terbagi ke dalam 32 kecamatan dan juga kemampuan keuangan daerah yang terbatas serta perlu mendukung pemerataan pembangunan wilayah maka 32 lapangan sepakbola standar nasional perlu dibangun tersebar di 32 kecamatan dalam jangka waktu 5 tahun, dalam jangka waktu 10 tahun Kab TTS harus memiliki 1 buah lapangan sepakbola standar internasional.

 

Kepelatihan

 

Dari 25 klub sepakbola yang telah dikukuhkan saat ini tidak lebih dari 4 klub yang dilatih oleh pelatih berlisensi, tentu hal ini sangat ironis dalam mendukung pembangunan sepakbola di Kab. TTS bagaimana mau menciptakan pemain professional kalau pelatihnya saja belum berlisensi. Oleh karena itu peningkatan jumlah dan kompetensi pelatih merupakan hal pertama yang harus dilakukan. Dengan jumlah klub anggota 25 klub ditambah 32 kecamatan yang didukung oleh stakeholder membentuk klub kecamatan maka diperlukan minimal 57 pelatih berlisensi, dalam perkembangannya pelatih berlinsensi akan dikembangkan jumlahnya kemudian dikelompokan menjadi pelatih tim, pelatih kiper serta pelatih fisik.

 

Perwasitan

 

Upaya untuk menciptakan wasit-wasit yang berkualitas dapat dilakukan dengan kerjasama antara ASKAB PSSI TTS dan Asosiasi Sepakbola Provinsi NTT untuk diikutkan pada program Pengembangan Wasit Muda PSSI. pengembangan wasit muda ini tak hanya fokus kepada kuantitas, tapi juga untuk meningkatkan kualitas sehingga dimasa depan kita tidak kekurangan wasit-wasit yang berkualitas dan berintergritas.

Pembinaan Usia Muda Pembinaan usia muda jangan hanya terfokus di kota akan tetapi perluasan partisipasi masyarakat dalam membangun sepakbola perlu dilakukan dimana para stakeholder di kecamatan diajak untuk membentuk tim / klub kecamatan, sehingga bakat-bakat pemain sepakbola desa dapat ditemukan kemudian dibina untuk menjadi pemain professional. Klub anggota ASKAB PSSI TTS dan klub yang akan dikukuhkan menjadi anggota diwajibkan untuk memiliki tim dalam berbagai kelompok umur. Kerja sama antara ASKAB PSSI TTS dan klub liga 1 harus dilakukan untuk mempromosikan pemain-pemain binaan menimbah ilmu serta manjadi bagian dari tim kelompok umur klub liga 1 dalam mengikuti kompetisi PSSI baik itu Liga 1 U16, Liga 1 U18 dan Liga 1 U20.

 

Kompetisi Amatir

 

Kompetisi bagi pemain muda selain bertujuan meningkatkan skill dan mental pemain juga memudahkan bagi pemandu bakat untuk menemukan bakat-bakat pesepakbola. Ketiadaan Kompetisi berjenjang untuk pemain muda inilah yang menyebabkan prestasi sepakbola kita semakin terpuruk. Untuk melahirkan banyak pemain-pemain muda bertalenta hasil pembinaan klub-klub anggota ASKAB, pemain-pemain muda tersebut dimatangkan lewat sebuah kompetisi pemain muda yang diadakan secara berkelanjutan dalam berbagai kelompok umur oleh ASKAB PSSI TTS.

 

Industri sepakbola

 

Sepakbola saat ini bukan hanya sekedar olahraga dan lebih dari itu, sepakbola juga merupakan sebuah bisnis, sebuah industri. Sepakbola adalah industri hiburan olahraga, Industri yang bahkan mampu memberikan penghidupan kepada puluhan bahkan ratusan orang yang berada disekeliling klub. Klub Perss Soe sebagai pelaku utama dalam industri sepakbola pada kenyataannya belum mampu mengelola kegiatannya untuk menghasilkan keuntungan, dan sebagian besar masih dibantu subsidi dari Pemerintah Daerah, bantuan pemerintah buat klub ibarat adalah nyawa tanpa bantuan tersebut diperkirakan klub tidak dapat mengikuti kompetisi.

Merupakan sebuah tantangan bagi ASKAB PSSI TTS untuk membawah Perss Soe menjadi klub industri, bagaimana mengelola tiket, mendapatkan sponsor, penjualan merchandise tim dan lain sebagainya menjadi pemasukan utama klub, Scouting pemain secara sistematis dan objektif Pecinta sepakbola Indonesia sangat mengapresiasi apa yang dilakukan Indra Sjafri kala melatih tim nasional Indonesia U-19. Dalam mencari pemain untuk memperkuat timnya, ia rela repot-repot untuk blusukan ke daerah-daerah terpencil di Indonesia. Hasilnya luar biasa. Ia berhasil menemukan pemain-pemain berkualitas macam Evan Dimas, Ilham Udin, Paulo Sitanggang, Maldini Pali, Yabes Roni Malaifani.

Lewat kompetisi internal yang digelar secara berkelanjutan kehadiran scout (pemandu bakat) dalam perekrutan pemain baru merupakan satu prosedur penting di klub Perss SoE untuk keberhasilan tim. Scouting pemain secara sistematis dan objektif kemudian ditandaklanjuti dengan pembentukan dan persiapan tim Perss Soe yang optimal.

 

Menuju Liga Profesional

 

Kelolosan Perss SoE sampai ke babak Quarter Final sebelum dikalahkan Perse Ende dalam turnamen Liga 3 ETMC 2019 membuka lebar mata masyarakat Timor Tengah Selatan. Bahwa tim kita Perss Soe sebenarnya bisa bersaing di level atas jika roda organisasi berjalan dengan baik dan rapih. Guna mewujudkan mimpi menuju liga professional tidak akan mudah. Level professional untuk klub Perss Soe harus didukung oleh bidang lainnya yaitu organisasi, pengembangan usia muda, kompetisi dan aktivitas bisnis.

Tradisi asal pasang target yang sering kali terjadi dalam setiap keikutsertaan kita dalam turnamen turnamen tingkat regional maupun nasional tentunya harus dirubah dengan target yang rasional, ibarat tidak menanam tapi ingin menuai, terkait akan hal tersebut ASKAB PSSI TTS, pemerintah dan stakeholder harus berkomitmen selama lima tahun ke depan harus fokus menguatkan fondasi yang kuat guna meningkatkan infrastruktur, kepelatihan, perwasitan, pembinaan usia muda dan menyelenggarakan kompetisi internal yang berkalanjutan di semua tingkatan serta mempersiapkan Perss Soe menjadi sebuah klub industri.

Setelah meletakan dasar yang kuat dan sistematis dari segala sisi dipastikan akan timbul rasa optimistis sehingga target tinggi kemudian dicanangkan untuk mewujudkan mimpi menuju liga professional. Pergelaran turnamen El Tari Memorial Cup 2025 adalah titik awal perjalanan Perss Soe menuju liga profesional, kita masih memiliki waktu 5 tahun untuk membangun dasar yang kuat dengan mencetak pemain pemain hebat dan membentuk tim Perss Soe yang solid. Sesuai hukum alam apa yang kita tanam itulah yang akan kita tuai maka mimpi kita untuk manjadi bagian dari liga professional baik untuk pemain maupun tim Perss Soe dalam kurun waktu 10 tahun bisa diwujudkan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *