Diskominfo TTS Sosialisasi Stunting, Bappeda: “7 Dari 10 Anak di TTS Lahir Stunting”

oleh -2.4K views
Kota SoE,Fakta TTS-Dinas komunikasi dan informatika kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) provinsi Nusa Tenggara Timur , Kamis (19/7/2018) menggelar Sosialisasi Perilaku hidup bersih dan sehat dalam rangka penurunan prevalensi stunting. data Bappeda TTS tujuh dari 10 anak di TTS yang lahir alami stunting.
Kegiatan sosialisasi tersebut diikuti unsur pemda TTS, aparat pemerintah desa dan sejumlah elemen masyarakat di kabupaten TTS.
Dari kegiatan atas kerjasama dengan Direktorat jenderal (ditjen) informasi dan komunikasi publik direktorat kemitraan komumikasi kementerian komunikasi dan informatika tersebut
diharapkan mampu memberikan informasi dan pemahaman yang lebih bagi masyarakat tentang stunting yang adalah kekurangan gizi pada balita yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak.
Mewakili bupati TTS saat membuka kegiatan Okto Nabunome asisten sosial dan pemerintahan Setda TTS mengatakan stunting aďalah gagal tumbuh normal sehingga anak lebih pendek diusianya. stunting terjadi karena kekurangan gizi saat bayi dalam kendungan tapi baru terlihat pada usia dua tahun yang efeknya pada kecerdasan anak.
Penyebab stunting kata Nabunome tidak hanya soal kekurangan gizi tapi juga karena pola atau perilaku hidup.
Kabupaten TTS masih dihadapkan pada persoalan kemiskinan yang dampaknya pada tingkat asupan gizi dan perilaku hidup sehat di masyarakat.
Ia berharap ada peran semua pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat untuk perilaku hidup sehat. pemda lewat program-program disejumlah dinas kemakmuran sudah berupaya mengatasi persoalan gizi buruk. dinas perikanan lewat program kolam ikan air tawar merupakan salah satu contoh intervensi pemerintah untuk meningkatkan gizi masyarakat dengan makan ikan. Sosialisasi tersebut kata Nabunome juga merupakan suatu cara pemerintah melalui dinas kominfo untuk memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada masyarakat soal masalah dan solusi stunting.
Kepala Bappeda TTS, Ir. I Gde Witadarma dalam menyampaikan materinya mengatakan tahun 2015 angka kemiskinan kabupaten TTS sebesar 26,7 persen. angka kemiskinan tersebut terus alami penurunan setiap tahunnya sebesar Rp 0,8 persen.
Penurunan tersebut kata Gde tidak lepas dari intervensi program pemda TTS yang fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat seperti pendidikan, air, listrik, perumahan dan infrastruktur yang menjadi penyebab utama kemiskinan.
Diakui telah banyak intervensi anggaran program untuk pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat miskin sebagai sasaran namun belum seutuhnya tersentuh. “anggaran miliaran rupiah sudah diberikan namun tidak semua tepat sasaran. ada masyarakat miskin yang justeru tidak dapat bantuan,”kata Gde yang menyebut bantuan perumahan untuk warga miskin.
Kedepan kata Gde semua dinas kemakmuran akan diarahkan agar programnya menyentuh langsung soal pengentasan kemiskinan seperti listrik, pendidikan, kesehatan dan perumahan.
angka kematian ibu dan anak dan angka putus sekolah di TTS yang masih tinggi mengindikasikan kalau kebutuhan layanan dasar di kabupaten TTS belum baik sehingga perlu difokuskan pada pembangunan kebutuhan dasar.
Dikatakan penanganan masalah stunting di kabupaten TTS harus fokus karena sesuai data yang dipegang dari setiap 10 kelahiran di kabupaten TTS, tujuh diantaranya alami stunting. “penanganan masalah stunting ini harus fokus karena dari 10 anak di TTS yang lahir, tujuhnya stunting. stunting ini misalnya panjang bayi yang lahir tidak sesuai dengan ukuran normal. ini pengaruhnya juga soal kecerdasan,”katanya.
Kepala dinas Infokom kabupaten TTS, Denny Nubatonis mengatakan ada sembilan kementerian yang digerakan pemerintah untuk mengatasi persoalan stunting tersebut dan Kominfo berperan menyebarluaskan informasi/sosialisasi program penanganan  stunting oleh pemerintah. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *