Ruth Agnes Bunga, Empati Bagi Yang Tak Berdaya

oleh -4.4K views
Kota SoE,Fakta TTS-Dibalik karya dan bhaktinya membangun negeri sebagai guru Taman Kanak-kanak Pembina di SoE, ibukota kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT),  Ruth Agnes Bunga Ratu punya kesibukan lain dalam mengisi waktu luang bhaktinya.
Sesama yang bergelut dengan sakit yang tak biasa dan tak berdaya diatasi, ia sambangi begitu mendapat informasi. tak sekedar menengok namun empati nyata ia tunjukan dengan membantu mencari biaya pengobatan dengan menghubungi kenalan dan sahabatnya yang mampu secara ekonomi untuk mengulurkan tangan membantu sesama yang sakit mencari kesembuhan di rumah sakit-rumah sakit.
Di hari Kartini tahun ini, 21 April 2018, kepada Fakta TTS di kediamannya Agnes Bunga Ratu demikian nama acun facebook Ruth Agnes Bunga, menceriterakan kisahnya dalam berjuang meringankan beban sesama yang sakit secara fisik bertahun-tahun namun masih luput dari empati banyak orang di wilayahnya.
Aksi kemanusiaan Agnes diawali tanpa rencana. Di tahun 2013 lalu dalam perjalanan bersama rombongan bupati TTS di wilayah selatan kabupaten TTS, mereka menjenguk salah seorang warga di kecamatan Batu putih. Sadok Taopan (10), bocah dalam rumah sederhana di wilayah itu sudah bertahun-tahun hidup dengan dubur yang berada di perut.
Kondisi Sadok, menggugah rasa prihatin Bupati TTS Paul Mella. Pemda kemudian memfasilitasi Sadok berobat ke Jawa hingga ia sembuh. Agnes ada dalam tim yang membantu pemberangkatan dan pengobatan Sadok.
Pengalamannya itu menanamkan rasa kasih yang dalam Agnes Bunga terhadap sesama yang menderita. Ternyata tidak hanya Sadok seorang yang ditemui Agnes hidup dalam kungkungan sakit ‘aneh’.
Ada Melki Litelnoni (18) di Niki niki kecamatan Amanuban tengah, Noni dari Sikumana Kota Kupang yang juga mengalami hal yang sama.
Ada juga Niki Raja (7) warga Kota SoE yang menderita langit-langit terbelah. saat ini dirawat di Bali dan kata Agnes akan di rujuk ke Australia.
Ada juga Julius Nitbani (67) warga deaa Noelaku kecamatan Molo tengah yang menderita Kanker mukur, Nona Mali dari Kota SoE yang tulang belakangnya bengkok. “Nona juga siap dibawa ke Bali bersama empat pasien lain,”katanya.
“saya tidak punya uang tapi saya coba cari orang-orang yang mau membantu untuk membantu mereka. saya buat ini bukan cari apa-apa tapi karena saya kasihan lihat kondisi mereka. Motivasinya karena kepedulian saja. Saya melihat mereka tidak berdaya. ada kepuasan batin jika mereka tertolong,”katanya.
Apa yang dilakukan tak lepas dari cibiran orang. Agnes mengaku ada yang menganggapnya sekedar mencari sensasi
bahkan ada juga yang mengganggu karier gurunya. “mereka bilang saya tidak rutin masuk kerja sebagai guru. tapi setahu saya, apa yang saya lakukan itu saya lalukan di waktu senggang dan kalaupun mau mengantar yang sakit keluar daerah saya ajukan ijin. tapi itulah, saya memaklumi semua itu. saya yakin jika yang saya buat itu baik untuk sesama maka Tuhan ada bersama saya,”katanya. (jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *