Amanatun Selatan Mencari Solusi Masalah Air, Tekhnologi Ramah Lingkungan Disebut Untuk Kelola Sumber Air di NunleU

oleh -2.4K views
Nunleu, fakta-tts.com – Sama seperti sejumlah kecamatan lain di kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kecamatan Amanatun Selatan juga tengah dalam persoalan serius tentang penyediaan air bersih bagi warga di sejumlah desa. Potensi sumber air memang ada namun persoalan yang dihadapi adalah sulitnya warga mendapatkan air dari sumber air yang umumnya jauh dari jangkauan dan berada dibawah permukiman warga.
Kamis (28/11/2019), pihak kecamatan Amanatun Selatan menghimpun perangkat pemerintahan kecamatan, perangkat desa, dari 13 desa yang ada, pihak aparat keamanan, Polsek, Koramil dan para pendamping program pembangunan desa untuk membahas persoalan tersebut dalam rapat koordinasi (rakor) kecamatan.
Yang unik rakor tersebut bukan di gelar dalam gedung namun di area terbuka, di sumber atau mata air Oefau di desa Nunleu. Warga berkumpul bersama aparat pemerintah membahas mencari solusi bagaimana air dari sumber yang ada bisa mudah diperoleh warga tanpa harus susah payah naik turun lembah untuk mendapatkan air.
“Rakor ini membahas dua agenda, evaluasi program rutin dan bahas persoalan air. penyediaan air yang mudah diperoleh adalah fokus kita dalam pertemuan ini. Kita memerlukan tekhnologi Ramah lingkungan untuk tarik air ke permukiman,”kata Camat Amanatun Selatan, Ardi Benu saat membuka rakor.
Disampaikan camat Ardi Benu beberapa desa di kecamatan Amanatun Selatan punya potensi air yang besar namun sulit dijangkau karena berada dibawah permukiman. Karena sulit dijangkau itu maka potensi lahan pertanian perkebunan dan perikanan di wilayah itu tidak bisa dikelola optimal oleh warga.
“Salah satu contoh di desa Nunleu. Disini ada sumber air Oefau. Air ini tidak kering saat kemarau. Tapi warga harus turun naik untuk dapatkan air. disini kita punya potensi kentang, wortel, kuenter, kacang merah dan lainnya tapi itu hanya berharap pada embun dan kabut. Kita tidak bisa kelola lahan yang luas untuk menunjang ekonomi karena air susah kita dapat,”kata camat.
Dikatakan ada cara tradisional yang digunakan warga untuk mengalirkan ini air dari sumber Oefau ke permukiman yakni menggunakan batang bambu yang disambung dari mata air ke permukiman. Namun cara itu hanya menjangkau sejumlah KK yang rumahnya berada dibawah dari permukaan sumber air. Sementara sebagian besar KK yang bermukim diatas dari sumber air harus menuruni bukit mengambil air di sumber yang ada. “Warga yang tinggal dibawah di kampung tua mereka alirkan airnya pakai bambu, tapi yang diatas mereka harus turun naik ambil air,”katanya.
Camat Ardi Benu memimpin rakor di mata air Oefau,NunleU
Ketersediaan air yang cukup dan mudah digapai warga maka diyakini warga akan lebih bersemangat untuk mengelola lahan pertanian perkebunan maupun perikanan yang dimiliki untuk  menunjang program pengentasan kemiskinan yang digalakan pemda TTS.”dengan air yang cukup kita bisa keluar dari kemiskinan. Lahan tidur yang ada bisa dikelola optimal, stunting bisa diatasi. Di Amanatun selatan, desa Nunleu angka stuntingnya paling tinggi,”katanya.
Kepala desa Nunleu, Okto Missa mengatakan sudah pernah ada survei dari pemerintah provinsi NTT untuk membangun jaringan air dari sumber air itu ke permukiman warga pada September kemarin namun hingga kini belum ada kejelasan padahal warga sudah menyerahkan lahannya dalam mendukung program pemerintah tersebut. “Sudah ada survei dari Amerika, Australia, Jerman dan terkahir bulan september kemarin dari dinas PU provinsi. Mereka datang sudah bawa perusahaan yang mau kerja dengan dana Rp 3,8 miliar tapi sampai sekarang belum jelas. Kalau ada cara yang lebih sederhana agar masyarakat  bisa cepat dan mudah dapat air kita pakai itu saja, nanti kita anggarkan lewat dana desa. Yang penting warga empat dusun disini tidak susah air,”kata Okto Missa.
Camat Ardi Benu menambahkan penyediaan air bersih bagi warga di wilayah Amanatun menjadi fokus pembangunan di kecamatan tersebut sehingga diharapkan desa-desa yang memiliki sumber air dengan potensi lahan yang besar perlu memasukan programkan penyediaan air dalam APBDes tahun berikutnya. Itu untuk menunjang pengembangan program pertanian, perkebunan, perikanan dan lainnya yang berbasis agrowisata.
“Kita harus berupaya keluar dari persoalan kemiskinan ini, air perlu disediakan agar lahan bisa kita kelola optimal.
Kita fokus urus air dulu Nanti kalau bisa dianggarkan lewat dana desa, tolong masukan dalam anggraan 2020. Tekhnologi yang ramah lingkungan kita perlu untuk bisa bawa air ke permukiman dan menunjang program pertanian berbasis agrowisata,”katanya.
Rakor yang sama kata camat Benu akan dilakukan bulan depan di desa Fatulunu.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *