Pemkab TTS – YSSP Komit Tekan Angka Kekerasan Terhadap Perempuan & Anak

oleh -859 views
Kota SoE, fakta-tts.com – Bupati Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT), Egusem Piether ‘Eppy’ Tahun,ST,MM mengatakan pemerintah daerah telah berkomitmen untuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di daerah.
Komitmen telah dilakukan lewat sejumlah program pembangunan daerah yang berkaitan dengan penanganan masalah kemiskinan lewat program sejumlah Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Kemiskinan dikatakan sangat berkaitan erat dengan kekerasan terhadap perempuan dan anak termasuk kekerasan seksual.
“Penurunan angka stunting dan kemiskinan punya kaitan erat dengan penurunan angka kekerasan. Ini kita sementara kita lakukan lewat sejumlah OPD,”kata bupati Eppy Tahun di acara coffe morning bersama Forkopimda yang dihelat Yayasan Sanggar Suara Perempuan (YSSP) SoE, Kamis (10/12/2020).
Dikatakan tak hanya pihaknya juga telah merencanakan untuk pengadaan tenaga psikologi dalam formasi penerimaan CPNSD tahun depan ini.
Bupati juga menyampaikan pada forum tersebut soal kerjasama antara dinas P3A kabupaten TTS, YSSP dan Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) SoE untuk menyiapkan jadwal siaran khusus untuk sosialisasi terkait penanganan masalah kekerasan terhadap anak dan perempuan.
soal minuman keras (miras) yang menjadi salah satu penyebab masalah itu bupati Eppy Tahun mengatakan sudah pernah membahas soal regulasinya dengan Forkopimda. Kata Kapolres TTS dalam kesempatan tersebut Miras menjadi salah satu sebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Komitmen penanganan persoalan kekerasan terhadap perempuan dan anak juga dinyatakan bersama antara forkopimda, YSSP dan sejumlah LSM dalam pertemuan tersebut.
Ada 17 poin kesepakatan yang diambil dalam diskusi tersebut.
YSSP SoE merilis angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di kabupaten TTS tahun 2020 meningkat 49 persen dari tahun sebelumnya.
Kata Ir.Rambu Atanau-Mella, direktris YSSP SoE mengatakan untuk kasus kekerasan seks terhadap perempuan dan anak semakin memprihatinkan di kabupaten TTS.
Dari tahun 2016 sampai tahun 2020 jumlah kasus yang didampingi YSSP terus bertambah. Tahun 2016 ada 55 kasus kekerasan seks yang didampingi, 2017 ada 66 kasus, tahun 2018 ada 68 kasus, tahun 2019 asa 68 kasus dan per November 2020 ada 70 kasus sehingga total kasus kekerasan seks yang didampingi YSSP SoE mencapai 327 kasus dari 642 kasus dampingan YSSP dalam lima tahun terakhir.
Korban kekerasan seks kebanyakan berpendidikan SMA (43 kasus), berpendidikan SD 32 kasus, SMP 24 kasus, Mahasiswa 14 kasus dan tidak sekolah 12 kasus. Sementara pelakunya paling banyak juga berpendidikan SMA (40 orang), SD 33, SLTP ada 28 orang, pelaku yang tidak bersekolah 13 orang dan berpendidikan tinggi ada 8 orang.
Sebaran kasus terbanyak terjadi di wilayah kota SoE, 22 kasus, disusul Amanuban barat 14 kasus, Molo selatan 9 kasus, Molo Utara 8 kasus, Molo barat dan Amanatun Selatan masing-masing 7 kasus, Kualin dan Kolbano masing-masing 6 kasus, Amanuban tengah dan Molo tengah masing-masing 5 kasus, Noebeba-Tobu-Kuatnana dan amanuban selatan masing-masing 4 kasus , Panite dan batu putih masing-masing 3 kasus dan kecamatan Nunkolo, Fatumnasi, Kuanfatu, Kotoko. Dan Nunbena masing-masing 2 kasus.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *