Pendeta & Klasis Jangan Hanya Fokus Bangun Gedung, Gereja Harus Bangun Roh Jemaat Dan Bantu Pemerintah Selesaikan Masalah Daerah

oleh -506 views
OeEkam, fakta-tts.com – Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat Selasa (17/11/2020) melakukan peletakan batu pertama pembangunan dua Gedung Gereja di Kabupaten TTS yakni GMIT Oemathonis Tubumnanu Desa Bila Kecamatan Amanuban Timur dan GMIT Hosana Pusu Desa Pusu Kecamatan Amanuban Barat.
Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat didampingi Prof Danial Kameo, David Pandie, Anwar Puageno dan sejumlah pimpinan OPD Pemprov NTT. Hadir juga Ketua DPRD TTS Marcu Mbau, Bupati TTS Egusem Piether Tahun dan sejumlah pimpinan OPD Lingkup Pemkab TTS.
Gubernur Viktor Laiskodat dalam sambutannya di GMIT Hosana Pusu mengingatkan kepada Pendeta dan Ketua Klasis agar tidak hanya fokus untuk membangun gedung Gereja saja tetapi harus juga fokus membangun roh jemaat. Gereja juga harus membantu dan bekerja sama dengan pemerintah baik Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten untuk selesaikan masalah yang dialami jemaat atau masyarakat.
“Jemaat harus memiliki roh yang besar dan kuat sehingga mampu menjadi manusia yang unggul baik dalam persekutuan maupun dalam bekerja. Oleh karena itu Gereja juga harus bangun relasi baik dengan pemerintah sama-sama bergandengan selesaikan masalah yang dialami masyarakat,”Tuturnya.
Masalah yang dialami masyarakat dan perlu diselesaikan oleh Pemerintah dan Gereja, seperti masalah kemiskinan dan stunting. Jika saling bergandengan maka akan mempercepat penuntasan masalah stunting dan miskin di Propinsi NTT.
Jika bangunan sudah mewah maka masyarakat juga harus mewah, oleh karena itu Gereja juga perlu bangun jemaat dari masalah tersebut. Gereja juga punya peranan penting untuk bangkitkan jemaat menuju sejahtera. Gereja juga harus ikut berpartisipasi untuk menekan angka stunting dan kemiskinan. Dorong masyarakat untuk giat bekerja sehingga bisa menghasilkan,” ajaknya.
Untuk diketahui, pembangunan gedung gereja GMIT Hosana Pusu membutuhkan anggaran Rp 1,3 Miliar. Oleh Panitia telah mengumpulkan dana awal sebesar Rp 111 Juta.
Panitia pembangunan juga menggelar lelang hasil perkebunan dan dua ekor sapi dalam kesempatan tersebut yang nantinya digunakan pembangunan Gereja tersebut. Dengan demikian Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat menyumbang Rp 95 juta, tetapi ternak sapi yang dilelang dikembalikan ke Gereja, sementara Bupati TTS Egusem Piether Tahun hanya berani dengan Rp 5 juta, namun seluruh hasil lelang dikembalikan ke Gereja.
Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat juga membantu anggaran untuk pembangunan Gereja Oemathonis Tubumnanu yang membutuhkan anggaran Rp 400 juta.
“Dari pribadi saya sumbang Rp 50 juta, dari Pemda TTS Rp 50 juta dan dari jemaat Rp 11 Juta sehingga kurang Rp 289 juta, tetapi gunakan anggaran yang ada dulu sedangkan kekurangannya akan tetap Gubernur perhatikan,”Katanya.
Staf khusus Gubernur Bidang Pemerintahan David Pandie, seusai ibadah peletakan batu pertama mengatakan bahwa, kehadiran  Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat untuk memberikan spirit dan motivasi bagi jemaat, tidak hanya untuk pembangunan Gereja tetapi membangun jemaat untuk ikut serta dalam pembangunan Gereja di NTT.
David juga mengatakan, Gereja tidak hanya membangun gedung tetapi orangnya, sehingga jangan membangun gereja tetapi membuat masalah. Membangun Gereja dan membangun manusia atau jemaat harus seimbang, jangan sampai gedungnya mewah tetapi jemaat menderita.
David juga meminta kepada panitia pembangunan Gereja agar setelah Gereja dibangun, harus berperan juga dalam menekan tingginya angka stunting yang bertamba banyak, sehingga para pendeta harus ikut proaktif. Diakonia dan Oekonia itu harus didorong untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
“Jangan sampai setelah bangun Gedungnya mewah tetapi angka stunting terus meningkat, sehingga kita berharap kepada para pendeta agar Gedung Kebaktian mewah dan pecahkan masalah menjadi nol kasus,”Ucapnya.
David Penadie juga meminta kepada Jemaat agar ada tekad yang baru bahwa stunting harus nol angka, sehingga dua tahun kedepan selesai pekerjaan, Pak Gubernur kembali dan ada laporan bahwa Stunting nol kasus.
Bukan saja stunting, David juga mengatakan angka putus sekolah juga tidak harus ada, harus ada laporan kepada Gubernur berapa banyak orang yang sekolah tinggi. Oleh karena itu Gereja juga harus membantu untuk mendata dan menyelesaikan persoalan angka putus sekolah dan memberikan motivasi tentang pentingnya pendidikan.
“Harus motivasi anak-anak untuk sekolah sampai sarjana dan kembali ke Desa Bila, jangan sampai pergi sekolah dan tidak kembali,”Ujarnya.
Jumlah Kepala Keluarga (KK) di Gereja tersebut sebanyak 54 KK dan 7 rayon dengan memiliki jumlah jiwa sebanyak 243 jiwa. Gereja Oemathonis Tubumnanu merupakan jemaat terkecil diantara 4 mata jemaat lain yang ada di pimpinan Pdt Arsim Liufeto.
Ibadah peletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Oemathonis Tubumnanu Desa Bila Kecamatan Amanuban Timur dipimpin Pdt. Isak Tefnai, STh.(jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *