Proyek-proyek Puskesmas Prototype Telat, Eggy : “Salahnya Ada di Pemerintah”

oleh -593 views
Kota SoE, fakta-tts.com – Anggota DPRD Timor Tengah Selatan (TTS) yang tergabung dalam panitia khusus (pansus) LKPj bupati tahun 2020 menemukan sejumlah proyek Puskesmas Prototype yang dibangun tahun 2020 kemarin tidak selesai tepat waktu. Hingga kini aktifitas pekerjaan proyek-proyek tersebut masih berlangsung padahal kontrak kerja dengan dinas kesehatan kabupaten TTS sudah berakhir pada Desember 2020 lalu. Bahkan adendum waktu yang diberikan untuk penyelesaian pekerjaan yang telat itu diduga sudah berakhir namun fisik bangunan belum selesai.
Sedikitnya ada tiga puskesmas prototype yang berada di kecamatan Amanuban Selatan, Fatukopa dan Noebeba yang ditemukan pansus dalam uji petik lapangan fisiknya belum selesai.
Kata Nahad Baunsele, pejabat di Dinkes TTS,
di tahun 2020 lalu ada enam puskesmas prototype yang dibangun di kabupaten TTS yakni di kecamatan Noebana, Kuanfatu, Kualin Noebeba, Fatukopa dan Amanuban Selatan.
Setiap proyek puskesmas tersebut bernilai miliaran rupiah yang bersumber dari DAK afirmasi.
“Tahun 2020 ada enam yang dibangun yakni di Noebana, kuanfatu dan kualin, itu suda selesai. Kalau di Noebea, Fatukopa dan panite (Amanuban Selatan) itu yang belum selesai,”ungkap  Nahad yang tidak menjelaskan penyebab telatnya penyelesaian tiga puskesmas dimaksud.
Kadis kesehatan dr.Eirene Ate yang dikonfirmasi melalui layanan WhatsApp belum merespon.
Menanggapi telatnya penyelesaian pekerjaan fisik sejumlah puskesmas protype tersebut, wakil ketua DPRD TTS, Relygius Usfunan, Senin (3/5/2021) di ruang kerjanya mengatakan pelaksanaan proyek sangat bergantung pada kemampuan keuangan pelaksana proyek dan pengawasan.
“Kalau finansial pelaksana proyeknya baik tapi pengawasannya tidak jalan itu dampaknya juga bisa ke pekerjaan tekhnis di lapangan. Kalau sampai pekerjaan berjalan tidak sesuai kontrak, bagaimana pengawasannya, itu kesalahan ada di pemerintah,”kata Eggy.
Ia menambahkan pemerintah harus melihat regulasi yang ada dalam proses pelaksanaan suatu program pembangunan fisik, misalnya pembangunan Puskesmas Prototype itu.
Jika proyek sudah dianggarkan ditahun tertentu maka dalam tahun tersebut juga pekerjaan harus selesai sehingga hasilnya bisa langsung dinikmati masyarakat.
 “Aturannya suatu proyek (bukan multiyear) harus selesai  dalam tahun anggaran yang bersangkutan. Jika pekerjaan tidak selesai maka sisa pekerjaan harus ditender ulang pada tahun berikutnya. Tapi kadang tahun anggaran sudah berakhir dan uang yang sudah dicairkan ke pelaksana proyek lebih besar dari sisa pekerjaan yang belum dikerjakan maka pemilik proyek (dinas tekhnis) lebih memilih untuk memberikan kembali sisa pekerjaan ke pelaksana sebelumnya karena kuatir juga kalau saat sisa pekerjaan ditender ulang tidak ada pihak ketiga yang mau kerja karena uang yang tersedia lebih kecil dari sisa pekerjaan,”katanya.(Jmb)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *